jump to navigation

Sifat Arrahman untuk Teladan Manusia December 22, 2009

Posted by pengelola in Uncategorized.
add a comment

Oleh: Dian Agustin, Rena Mardiyah, Ulfah Zabania

Mahasiswa Fakultas Psikologi UHAMKA Jakarta

PENDAHULUAN

Dialah Allah yang mengasihi semua mahluk ciptaan-Nya tanpa kecuali. Semua mahluk yang melata, yang besar maupun kecil di darat, laut dan udara dan semua manusia baik yang beriman maupun tidak, yang baik maupun jahat semuanya dikasihi secara adil dan merata. Karena kasih sayang Allahlah kita dan semua mahluk yang ada dibumi ini dapat hidup terus menerus sampai datang ajal yang telah ditetapkan. Dengan kasih sayang-Nya ia mencukupkan semua kebutuhan hidup semua mahluk dialam semesta. Dengan kasih sayangnya ia menjadikan bumi ini sebagai suatu tempat yang nyaman dan aman untuk dihuni oleh berbagai mahluk hidup. Hanya saja limpahan kasih sayang ini hanya diberikan Allah pada semua mahluk selama hidup didunia saja, di akhirat kelak kasih sayang ini hanya diberikan kepada orang beriman yang menjadi penghuni surga. Penghuni Neraka tidak lagi merasakan kasih sayang yang mereka dapatkan selama hidup didunia, karena mereka selama hidup didunia kafir dan ingkar pada-Nya.

Kasih sayang Allah menyelimuti segala sesuatu. Allah memberi bukan karena kepentingan-Nya, tapi karena perhatian Allah kepada makhluk-makhluk-Nya, baik Muslim atau kafir, shalih ataupun tidak. Allah memberi tak pandang bulu, dicurahkan kepada semua makhluk-Nya. Pemberian Allah bukan untuk kepuasan Allah karena Maha suci Allah dari membutuhkan apa pun, tapi justru untuk kebaikan kita.

Kasih sayang Allah ini dalam asmaul husna terdapat pada sifat Ar rahman. Dalam makalah ini akan dibahas mengenai sifat Ar rahman yang mencakup arti berdasarkan akar kata, arti secara tekstual dan konseptual. Pemahaman atas nama Ar rahman, aplikasi dari kata Ar rahman dan manfaat yang terkandung dalam kata Ar rahman.


PEMBAHASAN

    A. Pengertian Ar Rahman
    1. Akar kata
    • Ar Rahman berasal dari kata sifat dalam bahasa arab, berakar dari kata kerja ra-ha-ma, artinya penyayang, pengasih, pencinta, pelindung, pengayom, dan para mufassir memberi penjelasan bahwa ´”arrahman” adalah kasih sayang Allah kepada semua makhluk. Akan tetapi dari sumber yang berbeda menuliskan bahwa Ar Rahman (bahasa Arab: الرحمن) asma Dzat Allah yang memiliki mutlak nikmat panjang dari dunia dan akhirat yang terdiri dari huruf  Alif Lam Ra Ha Mim Nun.
    • Makna Tekstual
    • Secara makna tekstual yang terdapat dalam kata ar rahman adalah Maha pengasih. Seperti yang terdapat dalam surat Al-Fatihah 1:1
                • بِسْمِ  اللهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيمِ

    • Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang.”
    • Makna Kontekstual
    • Sedangkan makna kontekstual yang terdapat pada kata Ar Rahman adalah sifat pengasih Allah kepada seluruh makhluk-Nya yang diberikan di dunia, baik manusia beriman atau kafir, binatang dan tumbuh-tumbuhan serta makhluk lainnya.. surat Ar-Rahman terdiri dari 78 ayat dan 31 ayat berbunyi sama :
                • فَبِأَيِّ آلَاءِ رَبِّكُمَا تُكَذِّبَانِ
    • “maka nikmat Tuhan manakah yang kamu dustakan”
    • Ayat ini menunjukkan bahwa nikmat yang seperti apa lagi yang belum diberikan oleh Allah kepada makhluknya. Secara tersurat sudah jelas bahwa Alla itu tiada tandingan nya dalam memberikan nikmatnya. Segalanya sudah diberikan tanpa pilih kasih.

    B. Pemahaman atas asma Ar Rahman

    Dalam asma Ar Rahmaan ada 4 hal yang menjadi indikator bahwa sesuatu dapat digolongkan menteladani Ar Rahmaan atau tidak yaitu :
    1. Ilmu
    2. Akal
    3. Iman
    4. Islam
    Dalam pemaknaan Ar Rahmaan adalah sebuah nama/asma kepada Dzat yang memiliki nikmat panjang atau nikmat besar. Sementara nikmat besar atau nikmat pajang adalah siapa saja yang diterapan ilmu dan akal dipergunakan untuk mengamalkan iman dan islam maka termasuk nikmat panjang atau nikmat besar langgeng/ abadi dari dunia hingga akhirat. walaupun orangnya itu jelek rupanya dan miskin. Apakah ada nikmat yang lebih besar apabila dibandingkan dengan Iman dan Islam.Your browser may not support display of this image.
    Bentuk Aplikasi Ar rahman

    Dermawan

    • Sifat dermawan adalah sifat yang harus ditanamkan dalam diri setiap muslim. Dermawan bisa diartikan dengan senang hati tanpa keterpaksaan memberikan sebagian harta yang dimilikinya untuk kepentingan orang lain yang membutuhkan. Orang yang dermawan adalah orang yang senang jika bisa membantu orang lain yang sedang ditimpa kesusahan. Dengan memiliki sifat yang dermawan maka hidupnya akan lebih bahagia karena dengan kedermawanannya maka akan melapangkan dadanya. Secara sosial orang yang dermawan akan disenangi banyak orang, sehingga orang pun tidak enggan untuk bergaul dengannya. Sedangkan kebalikannya adalah sifat tamak dan akibatnya adalah sebaliknya. Bahkan orang yang tamak hidupnya selalu tidak tenang.
    Tolong Menolong
    • Tolong menolong merupakan kewajiban bagi setiap manusia, dengan tolong menolong kita akan dapat membantu orang lain dan jika kita perlu bantuan tentunya orangpun akan menolong kita. Dengan tolong menolong kita akan dapat membina hubungan baik dengan semua orang. Dengan tolong menolong kita dapat memupuk rasa kasih sayang antar tetangga, antar teman, antar rekan kerja. Singkat kata tolong menolong adalah sifat hidup bagi setiap orang.
    • Dengan menolong orang lain kita akan mendapatkan kepuasan yang amat sangat, kebahagiaan yang tak terkira, juga ada rasa bahwa kita ini ada dan diperlukan oleh orang lain. Rasa bahwa kita ini berguna bagi orang lain. Juga dengan mau menolong orang lain, pasti ada orang yang mau menolong kita, berlaku hukum sebab akibat, jika kita menolong A belum tentu A yang akan menolong kita, bisa saja B yang menolong kita.
    • Kita sering heran pada orang yang mampu untuk menolong seseorang tetapi tidak mau melakukannya, banyak orang kaya yang tidak mau memberi sebagian hartanya untuk orang miskin, banyak orang pintar yang tidak mau mengajarkan saudaranya yang bodoh, bahkan sebaliknya banyak orang kaya yang menipu orang miskin, banyak orang pintar membohongi orang bodoh demi keuntungan pribadinya.
    • Dengan menolong orang lain sebenarnya kita menolong diri sendiri, itu yang kita yakini dalam agama kita, jadi janganlah sungkan menolong orang lain. Dengan menolong orang lain hidup kita akan terasa bermakna, jauh dari kehampaan hidup. Banyak orang yang sekarang ini merasa hampa, karena sudah dikuasai cara hidup individualistis. Menolong tidak harus dengan harta, bisa dengan tenaga, pikiran atau ide, bahkan dengan doa sekalipun. Mari kita tolong menolong.
    Lapang Dada
    • Keluasan hati memiliki arti kepemilikan jiwa yang lapang dan besar seperti ban traktor yang dapat berjalan di semua medan baik ringan maupun berat. Orang yang tidak memiliki kelapangan dada seperti ban sepeda yang ketika menghadapi cobaan pertama oleng ke kiri dan ke kanan.
    • Imam Ali as berkata: “Syarat wajib menerima sebuah tanggung jawab adalah kelapangan dada” (Nahjul Balaghah, hikmah ke 176).
    • Nabi Musa as setelah menjadi Nabi ia berdoa: “Ya Tuhanku, lapangkanlah untukku dadaku” (Thaha: 27). Di sini terlihat bagaimana Nabi Musa as meminta dari Allah agar melapangkan dadanya dan Allah mengabulkanya. Beda dengan Nabi Musa as, Nabi Muhammad saw tanpa meminta Allah telah terlebih dahulu melapangkan dadanya “Bukankah kami Telah melapangkan untukmu dadamu? (Alam Nasyrah:1).
    D. Manfaat Melafazkan kata Ar Rahman

Menenangkan dan menentramkan hati

    • Jika ada diantara anda yang selalu merasa gelisah, cemas dan terus menerus merasa tertekan, bacalah kalimat ini sebanyak banyaknya. Ketika membaca kalimat ini rasakan kasih sayang Allah, bayangkan betapa kasih sayang Allah yang telah anda nikmati selama ini, anda tumbuh sejak kecil hingga dewasa dalam kasih sayang ibu, bapa dan semua keluarga yang mengasihi. Jika anda tidak pernah merasakan kasih sayang karena berada ditengah keluarga yang memang hidup keras penuh kebencian, bacalah kalimat ini sambil merindukan sifat kasih sayang Allah. Rasakan kasih sayang Allah didalam hati dengan sepenuh jiwa baca kalimat ini sebanyak banyaknya 100x, 200x 300 x atau lebih. Insya Allah lingkungan anda akan berubah, suasana runyam akan berubah menjadi aman, atau bisa saja karena sesuatu dan lain hal yang tidak anda mengerti anda pindah ke suatu tempat yang menimbulkan rasa aman dan nyaman.

Mengharmoniskan rumah tangga

    • Jika karena sesuatu hal rumah tangga anda dilanda kekalutan dan prahara, mungkin suami atau istri yang selingkuh, anak menjadi brandalan dan sering berurusan dengan polisi. Selalu terjadi keributan dan perang mulut didalam rumah tangga akibat hal yang sepele, rumah terasa panas bagai dalam bara api, tiada hari tanpa adu mulut dan cekcok. Bacalah kalimat Ar-Rahman ini sebanyak banyaknya setiap selesai sholat. Kalau bisa lakukan dengan teknik penahanan napas, ketika menahan napas baca ” yaa rahman..” ketika menghembuskan napas baca do’a mohon diberikan kedamaian dan rasa kasih sayang diantara sesama anggota keluarga. Lakukan ini terus menerus , sampai Allah mengabulkan permohonan anda. Jangan pernah putus asa dalam memohon pada Allah, Dia pasti mengabulkan permohonan orang yang memohon pada-Nya

Menimbulkan simpati orang lain

    • Jika anda rutin mewiridkan bacaan “Ar –Rahman ” setiap hari setelah selesai sholat wajib, tubuh anda akan memancarkan aura rasa kasih, yang menimbulkan rasa nyaman dan menyenangkan orang yang berada disekitar anda. Hal tersebut menimbulkan rasa simpati setiap orang yang baru berjumpa dengan anda. Insya Allah anda akan mendapat kemudahan dalam berkomunikasi dengan orang disekitar anda, jika anda sebagai pedagang, pengusaha, pebisnis atau pekerjaan lain yang memerlukan komunikasi dengan banyak orang, niscaya anda akan mendapat kemudahan yang banyak dalam menjalankan usaha anda. Baca Ar-Rahman ini minimal 100 kali setiap selesai sholat. Semakin banyak semakin besar pengaruhnya pada aura yang anda pancarkan.

Dikasihi dan dicintai Allah sepanjang waktu

    Rutin melakukan wirid kalimat ” Ar Rahman ” ini juga akan menimbulkan sifat kasih sayang pada diri pelaku, sesuai dengan sifat pengasih Allah pada semua mahluk-Nya. Rasa kasih yang memenuhi jiwa akan menghilangkan sifat buruk seperti pemarah, pendendam, dengki, curang, khianat dan lain sebagainya. Sifat kasih yang muncul akan menambah kecintaan Allah padanya. Insya Allah hidupnya selalu berada dalam cinta kasih Allah sepanjang waktu didunia maupun akhirat, terbebas dari kesukaran, kesempitan dan kegelapan hidup didunia dan akhirat.

KESIMPULAN

Kata Ar Rahman secara luas dapat diartikan sebagai sifat kasih sayang Allah kepada seluruh makhluk-Nya yang diberikan di dunia, baik manusia beriman atau kafir, binatang dan tumbuh-tumbuhan serta makhluk lainnya. Ar Rahmaan adalah sebuah nama/asma kepada Dzat yang memiliki nikmat panjang atau nikmat besar. Disini mencakup ilmu, akal, islam dan iman.

Maksudnya yaitu barang siapa yang mempergunakan ilmu dan akal yang di perolehnya untuk islam dan iman maka ia mendapakan nikmat panjang. Karena tidak hanya di dunia saja melainkan ketika di akhiran, ia pun akan mendapatkan nikmat dari Allah SWT.

Kemudian aplikasi dari Ar Rahman dapat dilihat dari perilaku dermawan, tolong menolong dan lapang dada. Selain itu kata Ar Rahman juga dapat mendatangkan keuntungan bagi diri sendiri apabila kata Ar Rahman selalu diucapkan disetiap kesempatan.

DAFTAR PUSTAKA

http://www.tokeikedai.net.my/alquran/

          • Dian Agustin
          • Rena Mardiyah

Ulfah Zabania

Advertisements

Ikhlas dalam Perspektif Psikologi December 12, 2009

Posted by pengelola in Uncategorized.
1 comment so far

Oleh: Desy humairah dan Izzah faizah khunara

(Mahasiswa Fakultas Psikologi UHAMKA)

BAB I

PENDAHULUAN

  1. Latar Belakang

Sudah menjadi kewajiban bagi setiap manusia untuk selalu beribadah kepada Allah swt. semua itu dilakukan semata-mata untuk meraih kebaikan baik di dunia maupun di akhirat. Karena itu, manusia perlu berusaha untuk selalu melakukan amal ibadah atau perbuatan secara baik selama di dunia agar amal tersebut dapat menjadi bekal di akhirat kelak.

Namun, apakah semua perbuatan baik yang dilakukan oleh manusia selama di dunia akan diterima oleh Allah swt? inilah hal yang perlu diketahui oleh setiap muslim. amalan kebaikan hanya akan diterima oleh Allah swt bila memenuhi  dua peryaratan, yaitu ikhlas dan benar sesuai dengan syari’at. Melakukan amal kebaikan secara benar sesuai dengan syari’at bukanlah hal yang sangat sulit karena umat islam telah memiliki cukup pedoman (Al-Quran dan hadist) untuk melaksanakannya.

Akan tetapi, melakukan amalan tersebut dengan ikhlas bukanlah perkara mudah. Sebagian besar muslim mengetahui bahwa amalan kebajikan apapun harus dilakukan dengan ikhlas namun tidak semua muslim benar-benar memahami makna keikhlasan, batasan suatu perbuatan dikatakan ikhlas, dan manfaat ikhlas itu sendiri sehingga mereka sering terjebak pada perbuatan yang  dianggap telah dilakukan dengan ikhlas padahal mungkin ada motivasi lain yang mendasari perbuatan tersebut yang tidak disadarinya.

Ada seorang salaf di zaman dahulu yang selalu pergi menunaikan ibadah haji setiap tahun dengan cara berjalan kaki. Ini merupakan kebiasaannya. Pada suatu malam ketika ia tidur, ibunya meminta tolong agar ia mengambilkan segelas air, namun ia merasa agak berat untuk bangun mengambilkan air. Kemudian ia kembali, ia teringat pada ibadah haji yang dilakukannya setiap bulan dengan berjalan kaki. Timbul pertanyaan di dalam hatinya, mengapa selama ini ia mengamalkan ajaran berat itu dengan mudah. Sementara hanya untuk mengambilkan air untuk ibunya ia merasa berat.

Ia bermuhasabah dan kemudian menemukan bahwa yang mmebuat ia selalu bersemangat adalah pandangan dan pujan manusia. Sadarlah ia bahwa selama ini amalan kebaikannnya tersuapi oleh syirik yang lembut. Belum sepenuhnya ikhlas karena Allah. Demikian sebuah riwayat yang disebutkan dalam kitab lathaiful ma’arif. Ini menjadi gambaran bahwa keikhlasan begitu berat diraih. Karena itu, makalah ini akan memaparkan secara lebih detail mengenai keikhlasan sehingga setiap muslim akan berusaha meluruskan niatnya dan kembali pada keikhlasan.

B. Tujuan

Adapun tujuan disusunnya makalah ini adalah untuk memberi pengetahuan lebih dalam mengenai makna ikhlas yang sesungguhnya sehingga pembaca akan lebih memahami tentang keikhlasan dan selalu berusaha ikhlas dalam setiap tindakannya.

C. Perumusan Masalah

  1. Jelaskan pengertian ikhlas!
  2. Bagaimana keutamaan ikhlas?
  3. Apa saja ciri-ciri orang ikhlas?
  4. Jelaskan bagaimana beratnya meraih kesempurnaan ikhlas!
  5. Apa saja manfaat yang diperoleh bila seseorang berlaku ikhlas?
  6. Bagaimana cara mewujudkan perasaan ikhlas?

BAB II

PEMBAHASAN

A. Pengertian Ikhlas

Ikhlas berasal dari kata khalasha, maknanya yaitu kejernihan dan hilangnya segala sesuatu yang mengotorinya (www.abahzacky.wordpress.com, 08/05/2007). Dengan demikian secara tekstual, kata ikhlas bermakna bersih dari kotoran dan menjadikan sesuatu bersih tidak kotor.

Sedangkan secara kontekstual, ikhlas berarti niat mengharap ridha Allah saja dalam beramal tanpa menyekutukannya dengan yang lainnya. Memurnikan niatnya dari kotoran yang merusak (www.dakwatuna.com, 2008). Pengertian lainnya dari DR. Husaini A.Majid Hasyim (Syarah: Riyadush Shalihin,1993) menyebutkan bahwa ikhlas adalah seluruh ketaatan yang semata-mata ditujukan karena Allah, yakni ketaatan seorang mukmin yang dinamakan Taqarrub itu tertuju kepada Allah, bukan dibuat-buat untuk manusia, untuk mendapatkan pujian dari manusia atau untuk supaya disayangi manusia atau maksud apa saja selain taqarrub kepada Allah.

Jadi ikhlas itu berarti membersihkan amal dari keinginan untuk diperhatikan manusia. Selain itu, DR. Ahmad Faried (Menyucikan Jiwa Konsep Ulama Salaf, 1993) menyimpulkan pengertian ikhlas adalah memurnikan tujuan untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT dari berbagai tendensi pribadi. Terkait dengan definisi ikhlas, ada beberapa nasihat dari para ulama salaf tentang ikhlas, antara lain:

  • Ya’Qub: “orang ikhlas adalah orang yang dapat merahasiakan kebaikannya, sebagaimana ia merahasiakan keburukannya”.
  • As-Sussy: “Ikhlas adalah hilangnya ikhlas itu sendiri dari pandangan. Orang yang dapat menyaksikan dalam perbuatannya (yang didasari keikhlasan itu) sebagai suatu keikhlasan, maka sesungguhnya perbuatannya itu masih membutuhkan rasa ikhlas”.
  • “Berbuat ikhlas sesaat berarti keselamatan seabad, akan tetapi ikhlas itu berat”.
  • Al-Fudhail: “Meninggalkan amal karena manusia adalah riya’, dan beramal karena manusia adalah syirik. Dan ikhlas adalah apabila Allah menyelamatkan kami dari keduanya”.

B. Kedudukan Ikhlas

Ikhlas memiliki kedudukan atau derajat yang tinggi di mata Allah. Para ahli sufi mengatakan, “Amal itu bersifat fisik, sedangkan ruhnya adalah ikhlas.” Oleh karenanya, setiap amal yang tidak dibangun di atas landasan keikhlasan adalah amalan mati yang tertolak dan tidak diberkahi. Imam muslim meriwayatkan dari Abu Hurairah bahwa Rasulullah saw bersabda, “Sesungguhnya Allah tidak melihat tubuh dan penampilanmu, tetapi Allah melihat hatimu.”

Tatkala jibril bertanya tentang ihsan, Rasul saw berkata, “engkau beribadah kepada Allah seolah engkau melihat-Nya. Jika engkau tidak melihat-Nya, maka sesungguhnya Allah melihatmu.” Rasulullah saw. Bersabda, “Sesungguhnya Allah tidak menerima amal kecuali dilakukan dengan ikhlas dan mengharap ridha-Nya.”

Fudhail bin Iyadh memahami kata ihsan dalam firman Allah surat Al-Mulk ayat 2 yang berbunyi, “liyabluwakum ayyukum ahsanu ‘amala, untuk menguji kamu, siapa diantara kamu yang lebih baik amalnya” dengan makna akhlasahu (yang paling ikhlas) dan ashwabahu (yang paling benar). Katanya, “Sesungguhnya jika amal dilakukan dengan ikhlas tetapi tidak benar, maka tidak diterima. Dan jika amal itu benar tetapi tidak ikhlas, juga tidak diterima. Sehingga amal itu harus ikhlas dan benar. Ikhlas jika dilakukan karena Allah Azza wa Jalla dan benar jika dilakukan sesuai sunnah.” Pendapat Fudhail ini disandarkan pada firman Allah swt: “Katakanlah, sesungguhnya aku ini hanya seorang manusia seperti kamu, yang diwahyukan kepadaku: “Bahwa sesungguhnya Tuhan kamu itu adalah Tuhan Yang Esa”. Barangsiapa mengharap perjumpaan dengan Tuhannya maka hendaklah ia mengerjakan amal yang saleh dan janganlah ia mempersekutukan seorangpun dalam beribadat kepada Tuhannya”. (QS. Al-Kahfi:110)

Imam Syafi’i pernah memberi nasihat kepada temannya, “wahai Abu Musa, jika engkau berijtihad dengan sebenar-benarnya kesungguhan untuk membuat seluruh manusia ridha (suka), maka itu tidak akan terjadi. Jika demikian, maka ikhlaskan amalmu dan niatmu karena Allah Azza wa Jalla.” Karena itu, tak heran jika Ibnul Qayyim memberi perumpamaan seperti ini, “Amal tanpa keikhlasan seperti musafir yang mengisi kantong dengan kerikil pasir. Memberatkannya tapi tidak bermanfaat.”

C. Ciri-ciri Orang Ikhlas

Orang-orang yang ikhlas memiliki ciri-ciri, diantaranya:

  1. senantiasa beramal dan bersungguh-sungguh dalam beramal, baik dalam keadaan sendiri atau bersama orang banyak, baik ada pujian ataupun celaan. Ali bin Abi Thalib r.a. berkata, “orang yang riya memiliki beberapa ciri; malas jika sendirian dan rajin jika di hadapan banyak orang. Semakin bergairah dalam beramal jika dipuji dan semakin brkurang jika dicela.”
  2. terjaga dari segala yang diharamkan oleh Allah, baik dalam keadaan bersama manusia atau jauh dari mereka. Disebutkan dalam hadits, “Aku beritahukan bahwa ada suatu kaum dari umatku datang di hari kiamat dengan kebaikan seperti gunung tihamah yang putih, tetapi Allah menjadikannya seperti debu-debu yang beterbangan. Mereka adalah saudara-saudara kamu, dan kulitnya sama dengan kamu, melakukan ibadah malam seperti kamu. Tetapi mereka adalah kaum yang jika sendiri melanggar yang yang diharamkan Allah.” (HR Ibnu Majah). Tujuan yang hendah dicapai orang yang ikhlas adalah ridha Allah, bukan ridha manusia. Sehingga mereka senantiasa memperbaiki diri dan terus beramal, baik dalam kondisi sendiri atau ramai, dilihat orang atau tidak, mendapat pujian atau celaan. Karena mereka yakin Allah dapat melihat setiap amal baik dan buruk sekecil apapun.
  3. seseorang yang ikhlas akan merasa senang jika kebaikan terealisasi di tangan saudaranya, sebagaimana dia juga merasa senang jika terlaksana oleh tangannya. Orang yang ikhlas akan menyadari kelemahan dan kekurangannya. Karena itu, mereka senantiasa membangun amal jama’i. Mereka dalam setiap apa yang dilakukannya adalah untuk meraih ridha Allah swt. sehingga bermanfaat untuk kemuliaan Islam dan umat Islam, bukan untuk meraih popularitas atau membesarkan dirinya atau kelompok tertentu semata.

D. Beratnya Meraih Kesempurnaan Ikhlas

Seringkali dalam setiap perbuatan, seorang muslim turut menyertakan kata ikhlas sebagai tanda kerelaan. Pada prinsipnya ikhlas adalah sebuah kata yang sangat mudah diucapkan, tapi dalam merealisasikan ikhlas dan memperbaiki niat adalah perkara yang sangat sulit. Hal ini dikarenakan hati manusia memiliki sifat yang berubah-ubah dan sering terbolak-balik, sehingga bisa jadi seseorang yang mulanya berniat ikhlas, namun ditengah jalan niatnya ternodai atau bahkan berubah. Keikhlasan yang sempurna amat sulit digambarkan, kecuali oleh orang yang telah menyerahkan cintanya secara utuh kepada Allah dan mengutamakan akhirat.

Ikhlas akan sulit menembus hati orang yang telah terpesona dan tergantung dengan kehidupan dunia, kecuali atas taufik Allah. Dalam melakukan berbagai amal, seringkali manusia merasakan adanya berbagai bisikan dan gangguan yang menggerogoti kemurnian ikhlas kepada Allah SWT. Dalam contoh kecil, makan dan tidur misalnya, hal itu dilakukan biasanya karena memang manusia menginginkannya. Jarang terbetik dalam pikiran manusia bahwa makan dan tidur dilakukan agar badan menjadi sehat dan kuat, sehingga dapat melakukan ibadah kepada Allah dengan baik.

Setiap bagian dari perkara duniawi yang sudah mencari amal kebaikan, sedikit atau banyak, apabila hati kita bergantung dan condong padanya, maka kemurnian amal itu ternoda dan hilanglah keikhlasannya. Pada umumnya manusia selalu terpaku dengan perkara-perkara yang sifatya materi di dunia yang fana ini. Sebagaimana dikatakan oleh seorang yang shaleh: “ barang siapa melakukan satu menit saja dar umurnya untuk berbuat ikhlas hanya kepada Allah, maka selamatlah ia”. Dikatakan demikan itu karena berbuat ikhlas memang berat dan sulit bagi kita untuk membersihkan hati dari hal-hal yang mengotori kemurniannya.

Masalah ikhlas memang sulit sehingga sedikit sekali perbuatan yang bisa dikatakan murni ikhlas karena Allah, dan sedikit pula orang yang interest terhadapnya, kecuali mereka yang mendapat taufik dari Allah swt. adapun orang yang lalai akan masalah ikhlas ini, ia senantiasa melihat pada nilai kebaikan yang pernah ia lakukan. Padahal dihari kiamat kelak perbuatannya itu justru menjadi keburukan.      Firman Allah pada surat Az-Zumar ayat 47-48 “Dan sekiranya orang-orang yang zalim mempunyai apa yang ada di bumi semuanya dan [ada pula] sebanyak itu besertanya, niscaya mereka akan menebus dirinya dengan itu dari siksa yang buruk pada hari kiamat. Dan jelaslah bagi mereka azab dari Allah yang belum pernah mereka perkirakan.” (47) “Dan [jelaslah] bagi mereka akibat buruk dari apa yang telah mereka perbuat dan mereka diliputi oleh pembalasan yang mereka dahulu selalu memperolok-olokkannya.” (48)

Dan pada surat Al-Kahfi ayat 103-104 “Katakanlah: Apakah akan Kami beritahukan kepadamu tentang orang-orang yang paling merugi perbuatannya?” (103) “Yaitu orang-orang yang telah sia-sia perbuatannya dalam kehidupan dunia ini, sedangkan mereka menyangka bahwa mereka berbuat sebaik-baiknya.”(104)

Meski berat, ikhlas adalah sesuatu yang harus selalu ada dalam setiap amalan kebajikan yang dilakukan. Artinya, seseorang wajib berjuang untuk meraih keikhlasan tersebut. Pentingnya masalah ikhlas sendiri bukan sesuatu yang ditawar-tawar lagi. Siapapun yang mentadaburi kitabullah akan menemukan begitu agungnya nilai keikhlasan ini.

E. Manfaat Ikhlas

Di saat ikhlas telah tertanam dalam jiwa ketika mengamalkan suatu kebajikan, dan ketaatan ini murni hanya dalam rangka mencari wajah Allah maka akan diperoleh manfaat yang besar. Allah akan memberi ganjaran yang ekstra besar kepada orang-orang yang ikhlas meskipun bilangannya sedikit. Ibnul Mubarak, seorang ulama salaf, memberikan petuah tentang hal ini. Beliau mengatakan, “Betapa banyak amal kecil (sedikit, sederhana) menjadi besar dengan sebab niatnya (keikhlasannya). Dan betapa banyak amal yang besar (banyak) menjadi kecil nilainya dengan sebab niat (karena tidak ikhlas).”

Manfaat lainnya, seseorang tidak akan terlepas dan selamat dari setan, kecuali dengan berlaku ikhlas dalam segala hal. Iblis sendiri telah mengatakan sebagaimana yang tercantum dalam Al-Quran surat As-Shaad:82-83  Iblis menjawab: “Demi kekuasaan Engkau aku akan menyesatkan mereka semuanya, (82) kecuali hamba-hamba-Mu yang mukhlis [1] di antara mereka. (83) dan surat Al-Hijr:39-40 Iblis berkata: “Ya Tuhanku, oleh sebab Engkau telah memutuskan bahwa aku sesat pasti aku akan menjadikan mereka memandang baik [perbuatan ma’siat] di muka bumi, dan pasti aku akan menyesatkan mereka semuanya, (39) kecuali hamba-hamba Engkau yang mukhlis [3] di antara mereka”. (40)

F. Mewujudkan Perasaan Ikhlas

Untuk mewujudkan perasaan ikhlas, setiap muslim harus senantiasa meluruskan niatannya dalam setiap amal yang dilakukannya, meneliti setiap motivasi yang menggerakkannya untuk beramal. Setelah itu tidak ada waktu bagi seorang mukmin untuk diam tidak beramal karena takut tidak ikhlas, saatnya untuk segera beramal dengan penuh semangat dan kesungguhan seakan-akan Allah melihat sekecil apapun kesalahan yang diperbuat dalam setiap amal atau keja yang dilakukan.

Ada berbagai dorongan kejiwaan yang dapat menyelewengkan kita dari keikhlasan, diantaranya: kekayaan, penampilan, ketenaran, pangkat dan kepentingan. Setiap orang hendaknya meneliti hati dan jiwanya masing-masing, adalah salah satu dari hal tersebut di atas menjadi motivasi atau niat dalam amalan yang dilakukan. Jika ternyata benar, jangan serta-merta amalan itu ditinggalkan, tetapi hendaklah luruskan niat tersebut semata-mata karena Allah, kemudian melanjutkan amal dan kerja dengan niat yang ikhlas.

BAB III

PENUTUP

A. Kesimpulan

Ikhlas merupakan hal yang mudah diucapkan tetapi sulit dilaksanakan. Ikhlas memiliki kedudukan yang penting dalam setiap amal perbuatan yang dilakukan manusia. Tanpa keikhlasan, amal kebajikan sebesar apapun tidak akan diridhai oleh Allah swt. berlaku ikhlas adalah hal yang berat namun ikhlas tetap harus menjadi dasar dalam setiap amalan yang dilakukan agar amalan tersebut dapat diterima oleh Allah swt.

B. Saran

Hendaknya setiap muslim selalu berusaha ikhlas dalam melakukan setiap amal perbuatan karena ikhlas adalah syarat diterimanya amal baik manusia oleh Allah swt setelah amal baik tersebut dilakukan secara benar.

Daftar Pustaka

Faried, Ahmad. 1993. Menyucikan Jiwa Konsep Ulama Salaf. Surabaya: Risalah Gusti

Hasyim, Husaini A. Majid. 1993. Syarah: Riyadhus Shalihin. Surabaya: PT Bina Ilmu

www.republika.com

www.rifaimovic.wordpress.com

www.wonosari.com

www.abahzacky.wordpress.com

www.dakwatuna.com

Psikologi Sabar November 25, 2009

Posted by pengelola in Uncategorized.
add a comment

Oleh: Ayrul Basri dan Satrio Nurjihad

(Mahasiswa Fakultas Psikologi UHAMKA)

 

BAB I

PENDAHULUAN

Latar Belakang

Kehidupan yang kita jalani saat ini tidaklah selalu mengarah kepada hal yang baik-baik saja atau berjalan sesuai dengan keinginan diri. Segala sesuatu yang sebelumnya kita rencanakan terlebih dahulupun tidak akan berjalan sesuai dengan apa yang kita rencanakan. Pasti akan adanya halangan dan rintangan yang akan kita hadapi.

Segala apapun yang ada di dunia ini tidak ada yang sempurna, pasti setiap manusia yang menjalani kehidupan di dunia ini pernah merasakan susah, rugi, serta putus asa. Namun hal itu janganlah dijadikan sebagai alasan untuk menjadi manusia yang malas, manusia yang mudah menyerah sebelum melakukan usaha. Sesungguhnya penilaian yang Allah berikan bukan kepada keberhasilan yang kita raih, tapi dari hasil usaha yang kita jalani demi memberikan hasil yang sebaik-baiknya.

Oleh karenaitu kita dituntut untuk memiliki sikap sabar. Jangan jadikan kesusahan dan kegagalan sebagai landasan pikiran bahwa Allah SWT tidak menyayangi manusia, tapi jadikanlah kesusahan dan kegagalan sebagai sebuah anugerah yang diberikan oleh Allah SWT sebagai wujudnya bahwa Allah SWT masih memberikan kesempatan untuk mengingat-

Hai orang-orang yang beriman, jadikanlah sabar dan shalat sebagai penolongmu, Sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar.

Tujuan

Sebuah dinamika dalam kehidupan manusia, naik turunnya status social di masyarakat, kaya dan miskin, susah dan senang bukan berarti menjadi standar nilai di hadapan Allah SWT, tapi sebagai ujian apakah orang yang kaya senantiasa mendermawankan hartanya untuk di jalan Allah SWT atau tidak. Begitu pula dengan orang miskin, apakah mereka selalu senantiasa sabar dan ikhlas dalam setiap menerima cobaan yang diberikan Allah SWT kepada dirinya.

Oleh karena itu tujuan dari makalah ini kami buat agar dapat memeberikan wawasan mengenai apa definis sabar, lalu apa saja yang terkandung dalam sikap sabar tersebut, serta korelasi atau hubungan antara sabar dengan ilmu psikologi yang sedang berkembang pesat saat ini.

BAB II

PEMBAHASAN

Definisi Sabar Secara Tekstual

Asal kata sabar adalah al man’u berarti menahan dan al habsu berarti mencegah. Jadi, sabar adalah menahan dan mencegah dari perbuatan yang mengarah kepada keburukan. Sabar juga berasal dari kata Shabara              Yashburu Shabaaran: yaitu ketundukan penerimaan apa-apa yang telah Allah berikan baik kesenangan atau kesedihan. Segala sesuatu yang kita dapatkan pasti akan ada hikamah atau maksud yang diberikan Alllah SWT kepada hamba-Nya yang selalu senantiasa ikhtiar dan bertawaqal pada setiap kejadian yang diterimanya dengan lapan dada.

Katakanlah: “Hai hamba-hamba-Ku yang beriman. bertakwalah kepada Tuhanmu”. orang-orang yang berbuat baik di dunia Ini memperoleh kebaikan. dan bumi Allah itu adalah luas. Sesungguhnya Hanya orang-orang yang Bersabarlah yang dicukupkan pahala mereka tanpa batas.

Lain lagi menurut syeikh Ibnu Qoyyim Al-jauziyah, bahwa sabar merupakan budi pekerti yang bisa dibentuk oleh seseorang. Ia menahan nafsu, Menahan sedih, menahan jiwa dari kemarahan, menahan lidah dari merintih kesakitan, dan juga menahan anggota badan dari melakukan yang tidak pantas. Sabar merupakan ketegaran hati terhadap takdir dan hukum-hukum syari’at.

Definisi Sabar Secara Kontekstual

Terkadang kita meyakini bahwa kesabaran mempunyai titik batas sehingga kalau sudah melebihi batasnya manusia boleh melakukan apapun. Tapi bukan seperti ini tujuannya, semua yang telah kita kerjakan harus kembali kepada Allah SWT sebagai dasar atas segala perilaku yang kita kerjakan. Hal ini dapat memberikan nilai positif bagi diri kita sendiri, karena segala sesuatu yang kita kerjakan atas nama Allah SWT pasti yang dikerjakan akan mengarah kepada yang baik. Sikap sabar juga merupakan sikap dasar dari ciri-ciri orang yang bertaqwa.

Macam-macam Sabar Menurut Al-Quran

Sabar dalam menuntut ilmu

Kewajiban pertama kali yang harus dilakukan umat manusia adalah menuntut ilmu, hal ini dijelaskan dalam surat :

1.  Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang Menciptakan,

2.  Dia Telah menciptakan manusia dari segumpal darah.

3.  Bacalah, dan Tuhanmulah yang Maha pemurah,

4.  Yang mengajar (manusia) dengan perantaran kalam[1589],

5.  Dia mengajar kepada manusia apa yang tidak diketahuinya.

Maksudnya: Allah mengajar manusia dengan perantaraan tulis baca.

Dalam surat diatas dijelaskan bahwa manusia diwajibkan agar dapat baca tulis. Hal ini berkaitan dengan diwajibkannya manusia untuk menuntut ilmu, karena segala amalan tanpa ilmu pasti akan tertolak atau akan menghancurkan amalan itu sendiri tanpa ada manfaat sedikikitpun baginya.

Sabar dalam beramal sholeh

Sabar dalam beramal sholeh juga dilakukan dengan landasan berilmu. Landasan orang yang berilmu merupakan niali taqwa kepada Allah SWT. Sebab segala seseuatu yang dikorbankan dalam kehidupan harus dilandasi dengan kesabaran dan kesungguhan.

Sabar terhadap musibah

Musibah yang dimaksud adalah bencana yang diakibatkan dari perbuatan maksiat kepada Allah SWT. Musibah yang diberikan Allah kepada umatnya merupakan salah satu wujud bahwa Allah SWT selalu memperhatikan segala sesuatu yang dikerjakan. Musibah juga merupaka teguran yang diberikan Allah agar manusia selalu mengingat serta mensyukuri segala sesuatu yang diberikan Allah kepada umatnya. Allah memberikan musibah kepada umatnya adalah sebagai landasan agar manusia selalu introspeksi diri serta selalu bertaubat, memohon ampunan dari Allah SWT.

Sabar terhadap perkataan orang

Betapa sulitnya memnuhi perkataan orang yang selalu berbeda dan cenderung menyalahkan sesuatu yang kita kerjakan, karena tidak ada sesuatu yang sempurna di mata manusia, oleh karena itu sempurnakanlah cara kerja kita. Lakukanlah amalan sholeh yang dicontohkan rasullullah dalam kehidupan sehari-harinya tanpa ditambahkan ataupun dikurang-kurangi.

SABAR dan PSIKOLOGI

Sabar dalam kaitannya dengan psikologi dapat digambarkan dengan teori dari Psikoanalisis Sigmund Freud dan dianalogikan sebagai “ super ego “. Seperti yang kita ketahui bersama teori Psikoanalisis Freud menjelaskan mengenai tiga aspek pemunculan perilaku, diantaranya : id, ego, super ego.

Sabar dalam kaitannya dengan Psikologi Islami dapat dianalogikan sebagai “ Qolb “. Dalam psikologi islami dijelaskan dalam pemunculan perilaku yaitu adanya Nafs, Aqal, Qolb.

Sabar dalam kehidupan sehari-hari

Manusia seringkali berlaku egois. Ketika menginginkan sesuatu, dia berdoa habis-habisan, sungguh-sungguh demi tercapai keinginannya. Tatkala berhasil, dia melupakan Allah. Bahkan dia menganggap bahwa keberhasilan itu adalah hasil jerih payahnya sendiri. Sebaliknya, saat dia gagal, dia kecewa karenanya, bahkan berburuk sangka kepada Allah SWT. Padahal rasa kecewa, sedinh, dan kesal itu lahir karena manusia terlalu berharap bahwa kehendak Allah harus cocok dengan keinginannya.

Oleh karena itu dalam buku “ Dahsyatnya Sabar” ada cara menerapkan sabar dalam kehidupan sehari-hari, yaitu:

  1. Teguh Pada Prinsip
  2. Tabah
  3. Tekun
  4. Tidak cepat putus asa
  5. Tahapan menuju sukses

Hakikat Sabar

Sabar merupakan sebuah pembelajaran dari bagaimana kita menyikapi sesuatu hal yang kita alami. Misalkan saja, kita dalam kondisi yang tidak baik, lalu kita berusaha untuk keluar dalam keadaan tersebut. Sabar itu merupakan perwujudan dari apa yang kita usahan dari sesuatu yang tidak baik menjadi baik. ”Sabar itu indah”, dan ”Sabar itu cahaya”, demikianlah potongan salah satu sabda Rasulullah SAW. Boleh jadi kata sabar ini mudah diucapkan, gampang dikatakan, namun untuk mempraktikkannya agar bertemu dengan cahaya dan keindahan, seseorang perlu panduan, ilmu dan latihan.

BAB III

PENUTUP

Kesimpulan

Sabar bukan berarti berhenti dan diam tapi sabar adalah berhenti sejenak dan segera bergerak cepat melakukan perubahan ke arah yang lebih baik. Karena pada hakikatnya sesungguhnya manusia selalu diberikan rahmat serta rizki dari Allah SWT. Namun terkadang kita sebagi manusia yang lemah, dan tempatnya dari banyak kesalahan sering melupakan tentang semua anugerah yang diberikan Allah SWT kepada setiap manusia. Hidup tanpa masalah hanyalah sebuah perjalanan yang sepintas dilalui tanpa tahu apa saja keindahan yang ada di sekitarnya.

Setiap insan yang hidup di muka bumi ini pasti pernah mengalami suka dan duka. Tak ada insan yang diberi duka sepanjang hidupnya, karena ada kalanya kemanisan hidup menghampirinya. Demikian pula sebaliknya, tak ada insan yang terus merasa suka karena mesti suatu ketika duka menyapanya. Bila demikian tidaklah salah pepatah yang mengatakan, “Kehidupan ini ibarat roda yang berputar”, terkadang di atas, terkadang di bawah. Terkadang bangun dan sukses, terkadang jatuh dan bangkrut, kadang kalah, kadang menang, kadang susah, kadang bahagia, kadang suka dan kadang duka

Daftar Pustaka

  1. Hadi Yasin, Ahmad (2008). “ Dahsyatnya Sabar “. Jakarta : Qultum Media
  2. www.eramuslim.com (18 November 2009)
  3. www.pesantrenvirtual.com (24 November 2009)
  4. www.rumah-yatim.org (18 November 2009)