jump to navigation

Makna Al A’lim January 21, 2010

Posted by pengelola in Uncategorized.
trackback

Oleh:Siti Nurrahmah, Mutia Rahmah, Aprilia Anestasya
(Mahasiswa Fakultas Psikologi UHAMKA)

BAB I

PENDAHULUAN

AL-‘ALIM: Yang Maha Mengetahui

1. Latar Belakang

Allah memberi lebih dari yang kita bayangkan, tapi kita hanya mampu menerima tak lebih dari setitik debu. Kita hanya mampu menerima ilmu yang bisa terlihat oleh panca indera kita. Yang tampak di depan mata, yang kita pelajari dan bersifat materi. Karena itu, ilmu yang sangat sedikit ini jangan sampai membuat kita sombong dan takabbur.

Karenanya, meski sedikit kita bisa membuka jalan untuk mendapatkan Al-‘Alim dari Allah semakin lapang. Mengamalkan ilmu yang kita miliki dengan sebaik-baiknya dan sebesar-besarnya bagi lingkungan dapat makin melapangkan jalan itu. Jika kita mampu membaca Al-Qur’an, bisa diamalkan dengan membuka taman Alqur’an. Jika menguasai ilmu ekonomi, bisa menularkan ke orang lain cara-cara berniaga dengan benar. Jika ahli teknologi, berikan kepada orang yang belum paham teknologi. Jika ada kelebihan di buku, bisa diamalkan melalui wakaf buku atau Alqur’an, dan beragam cara untuk menarik Al-‘Alim menganugerahkan ilmunya pada kita. Keterbatasan ini hendaknya makin memacu untuk berbuat semaksimal mungkin dalam berbuat kebajikan. Sudah saatnya kita berbuat semakin ba-nyak untuk kebaikan orang lain. Menebar pesona kebaikan akan membuka rahmat bagi alam semesta lewat dzikir-dzikir Al-‘Alim.

Pengetahuan manusia mungkin bisa membuat perangkat sains yang luar biasa, tapi mampukah menyamai mahkluk kecil semacam semut. Menirukan segala lekuk dan ruas-ruasnya. Secanggih apapun peralatan atau ilmu kita tetap tak akan mampu menirukan ilmunya. Mengamalkan dzikir suci dalam kehidupan sehari-hari kita, semakin menambah hati ingin selalu merasakan kenikmatan sesungguhnya dari Allah. Kesucian Allah terpancar dari lisan-lisan yang basah dengan asma ini. Kita hanya ingin merasakan bagaimana nikmat kesempurnaanNya. Mencoba mencari keridhaan-Nya dalam setiap ilmu yang kita amalkan. Saat kita menikmati ciptaanya, disinilah terasa kesempurnaan penciptaanya, tak akan mampu kita raih dengan pengetahuan kita yang amat terbatas.

Dia-lah Allah, yang menjadikan segala yang ada di bumi untuk kamu dan Dia berkehendak (menciptakan) langit, lalu “Dijadikan-Nya tujuh langit. Dan Dia Maha Mengetahui segala sesuatu.” (QS. Al-Baqoroh: 29) Dengan sering membacanya, pemahaman kita tentang ilmu yang selama ini kita amalkan akan bertambah, mendapat berkah. Allah membuka pintu pengetahuan dari arah yang tidak kita duga sebelumnya. Sesungguhnya Allah memberi kita segala macam rahmat kesempurnaan yang sesuai bagi kita. Dia mengajarkan kita nama-nama-Nya. Tetapi hidup dan kekuatan kita terbatas. Ilmu dan diri kita pun terbatas. Kita mencoba merasakan kesempurnaan yang tak terbatas, ilmu Allah yang tidak terbatas, yang mengetahui segala dan mencari keri-dhaan-Nya.

2. Tujuan

1. Untuk memenuhi nilai tugas kelompok.
2. Untuk memberikan gambaran tentang Al-‘Alim.

3. Manfaat

1. Untuk menambah ilmu pengetahuan tentang sifat-sifat allah, salah satunya sifat Al-‘Alim.
2. Termotivasi untum meneladani sifat Al-‘Alim.

BAB II

PEMBAHASAN

AL-‘ALIM: Yang Maha Mengetahui

1. Pengertian

Kata ‘Alim terambil dari akar kata “’ilm” yang menurut pakar-pakar bahasa berarti “menjangkau sesuatu seusai dengan keadaannya yang sebenarnya”. Bahasa Arab menggunakan semua kata yang tersusun dari huruf-huruf “äin”, “lam”, “mim” dalam berbagai bentuknya untuk menggambarkan sesuatu yang sedemikian jelas sehingga tidak menimbulkan keraguan. Perhatikan misalnya kata-kata “alamat” yang berarti tanda yang jelas bagi sesuatu atau nama jalan yang mengantar seseorang menuju tujuan yang pasti. “Ilmu” demikian juga halnya, ia diartikan sebagai suatu pengenalan ayang sangat jelas terhadap suatu objek. Allah SWT dinamai “Alim” atau “’Alim” Karena pengetahuan-Nya yang amat jelas sehingga terungkap baginya hal-hal yang sekecil apapun.

Tidak tertutup kemungkinan bahwa seorang hamba itu mendapatkan bagian dari sifat ilmu ini, tetapi berbeda dengan ilmu Allah dalam tiga perkara, yaitu :

1. Dari banyaknya pengetahuan. Betapapun luasnya pengetahuan seorang hamba, hal itu masih terbatas. Bagaimana akan dibandingkan dengan ilmu Allah yang tidak ada ujung dan batasnya?
2. Bahwa kasyaf (melihat dengan mata batin) seorang hamba itu, bagaimanapun jelasnya, ia tidak bisa mencapai tujuan yang tidak ada ujungnya lagi; penyaksiannya terhadap sesuatu itu ibarat ia melihatnya dari balik tirai yang tipis. Tidak dapat diingkari adanya perbedaan dalam derajat kasyaf itu, sebab pandangan mata batin ibarat mata lahir dalam memastikan segala sesuaatu yang dipandangnya, seperti perbedaan antara melihat di kala remang-remang dan melihat di waktu terang-benderang.
3. Bahwa ilmu Allah itu tidak diperoleh dari sesuatu, namun sesuatu itulah yang mendapatkannya dari-Nya. Sedangkan ilmu seorang hamba itu mengikuti sesuatu dan dihasilkan darinya. Jika Anda masih kurang memahami penjelasan ini, maka ambil contoh ilmu seorang yang baru belajar catur dan orang yang membuatnya, misalnya. Si pembuat catur menjadi sebab adanya catur, dan adanya catur itu menjadi sebab ilmunya si pelajar catur. Namun ilmu si pembuat catur lebih dahulu dengan mengadakan catur itu, sedangkan ilmu orang yang belajar catur itu terakhir. Demikian pula halnya deengan ilmu Allah SWT; ia mendahului segala sesuatu dan menjadi sebab baginya.

Tiada keraguan, Dialah Maha Mengetahui. Segala yang akan terjadi dan telah terjadi tidak luput dari pantauan-Nya, masa kini atau yang akan dating. Dialah yang mengetahui segala sesuatu. Dia mengetahui apa yang terjadi, dan segala yang akan terjadi sejak awal, sedang terjadi dan yang akan terjadi sejak awal hingga akhir. Semua eksistensi di segala zaman berada di dalam pengetahuan Al-‘Alim. Tak ada yang luput, tak seorang pun dapat yang dapat bersembunyi. Segala eksistensi bereksistensi diciptakan oleh-Nya di dalam batas-batas tertentu yang telah diciptakan-Nya. Ia mengetahui sebanyak yang diizinkan Allah. Tetapi pengetahuan Allah tiada batasnya. Pengetahuan yang melingkupi seluruh alam membuat jangkauan otak manusia sedikitpun tak mampu mengikutinya. Keberadaan Al-‘Alim terkadang menjadi misteri bagi kita, sebagai hambaNya. Saat kita berpikir untuk berjalan menuju Allah, Allah sudah berlari menyambut kita.

Dengan pengetahuan yang tiada batas, Allah bebas memberikan ilmu kepada hamba-Nya yang mematuhi segala perintahnya dan menjauhi segala larangannya. Kita sebagai hamba-Nya hanya bisa memohon agar Allah memberikan kemurahan pengetahuan. Se-bagaimana doa-doa kita. “Rabbana zidna ‘ilmaan naafi’a, warzuqna fahma”. Untuk membuktikan jika ilmu kita terbatas, cobalah tebak apa yang dilakukan orang ketika masuk dalam ruangan.

Ilmu-Nya mencakup seluruh wujud. “Ïlmu Tuhanku meliputi segala sesuatu” (Q.s Al-An’am 6:80). “Pada sisi Allah kunci-kunci semua yang gaib; tak ada yang mengetahuinya kecuali Dia sendiri dan Dia mengetahui apa yang di daratan dan di lautan, dan tiada sehelai daunpun yang gugur melainkan Dia mengetahuinya (pula) dan tidak jatuh sebutir bijipun dalam kegelapan bumi dan tidak sesuatu yang basah atau yang kering, melainkan tertulis dalam kitab yang nyata (Lauh Mahfuzh)” (Q.s. Al-An’am 6:59).

Segala aktivitas lahir dan bathin manusia diketahui-Nya. “Dia mengetahui (pandangan) mata yang khianat dan apa yang disembunyikan oleh hati”(Q.s. Ghafir 40:19), bahkan jangankan rahasia, yang “lebih tersembunyi dari rahasia”, yakni hal-hal yang telah dilupakan oleh manusia dan yang berada di bawah sadarnyapun diketahui oleh Allah SWT. “Jika kamu mengeraskan ucapanmu, maka sesungguhnya Dia (mengetahuinya serta) mengetahui rahasia dan yang lebih tersembunyi (dari rahasia)” (Q.s Thaha 20:19). Apapun yang terjadi, telah diketahui-Nya sebelum terjadi, “Tiada suatu bencanapun yang menimpa di bumi dan (tidak pula) pada dirimu sendiri melainkan telah tertulis dalam kitab (Lauh Mahfuzh) sebelum Kami menciptakannya. Sesungguhnya yang demikian itu adalah mudah bagi Allah.” (Q.s. Al-Hadid 57:22).

Pengetahuan semua makhluk bersumber dari pengetahuan-Nya, “Allah mengetahui apa-apa yang di hadapan mereka dan di belakang mereka, dan mereka tidak mengetahui apa-apa dari ilmu Allah melainkan apa yang dikehendaki-Nya” (Q.s. Al-Baqarah 2:255). Allah “mengajar dengan qalam”, yakni mengajar manusia melalui upaya mereka dan “mengajar apa yang mereka tidak diketahui”, tanpa usaha mereka, tetapi langsung sebagai curahan rahmat-Nya. Begitu informasi-Nya dalam Q.s. Al-Alaq.

Hamba yang memiliki sifat Al Alim adalah orang yang dianugerahi pengetahuan tanpa belajar apapun dari siapa pun, tanpa belajar atau berfikir melalui kesucian dan cahaya yang dari nya kita diciptakan. Pengetahuan mengenal Allah Yang Maha Mengetahui yang diterima oleh seorang hamba dikenal dengan nama “Irfan” Namun manusia yang menerima pengetahuan tersebut hanya mengetahui perbuatan dan sifat sifat Allah, dan hamba Al Alim mengetahui hakikat dan kebenaran tertinggi.

Manusia memperoleh kehormatan karena ilmu yang dianugerahkan Allah kepadanya. “Dia (Allah) mengajarkan kepada Adam nama-nama (benda-benda) seluruhnya, kemudian mengemukakannya kepada para Malaikat lalu berfirman, ‘Sebutkanlah kepada-Ku nama-nama benda itu jika kamu memang yang benar!’ Mereka menjawab, ‘Maha Suci Engkau, tidak ada yang kami ketahui selain dari apa yang telah Engkau ajarkan kepada kami; sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana”. (Q.s. Al-Baqarah 2:30-31).

Pengetahuan manusia mungkin bisa membuat perangkat sains yang luar biasa, tapi mampukah menyamai mahkluk kecil semacam semut. Menirukan segala lekuk dan ruas-ruasnya. Secanggih apapun peralatan atau ilmu kita tetap tak akan mampu menirukan ilmunya.

Manusia tentu saja dapat meraih ilmu berkat bantuan Allah, bahkan istilah “’Alim” pun dibenarkan Al-Qur’an untuk disandang manusia (Q.s. Az-Zariyat 51:28) tetapi betapa pun dalam dan luasnya ilmu manusia, terdapat sekian perbedaan antara ilmunya dan ilmu Allah.

1. Dalam hal objek pengetahuan; Allah mengetahui segala sesuatu, manusia tidak mungkin dapat mendekati pengetahuan Allah. Pengetahuan mereka hanya bagian kecil dari setets samudera ilmu-Nya. “Tidaklah kamu diberi pengetahuan melainkan seidkit” (Q.s. Al-Isra 17:85). “Katakanlah, kalau sekiranya lautan menjadi tinta untuk (menulis)kalimat-kalimat Tuhanku, sungguh habislah lautan itu sebelum habis (ditulis) kalimat-kalimat Tuhanku, meskipun Kami datangkan tambahan sebanyak itu (pula)” (Q.s. Al-Kahfi 18:109).
2. Kejelasan pengetahuan manusia tidak mungkin dapat mencapai kejelasan ilmu Allah. Pensaksian manusia yang paling jelas terhadap sesuatu, hanya bagaikan melihatnya di balik tabir yang halus, tidak dapat menembus objek yang disaksikan sampai ke batas terakhir.
3. Ilmu Allah bukan hasil dari sesuatu, tetapi sesuatu itulah yang merupakan hasil dari ilmu-Nya. Sedangkan ilmu manusia dihasilkan dari adanya sesuatu. Untuk hal yang ketiga ini, Al-Ghazali memberi contoh dengan pengetahuan pemain catur dan pengetahuan pencipta permainan catur. Sang pencipta adalah penyebab adanya catur, sedang keberadaan catur adalah sebab pengetahuan pemain. Pengetahuan Pencipta mendahului pengetahuan pemain, sedang pengetahuan pemain diperoleh jauh sesudah pengetahuan pencipta catur. Demikianlah ilmu Allah dan ilmu manusia.
4. Ilmu tidak berubah dengan perubahan objek yang diketahui-Nya. Itu berarti tidak ada kebetulan di sisi Allah, karena pengetaaahuan-Nya tentang apa yang akan terjadi dan saat kejadiannya sama saja di sisi-Nya.
5. Allah mengetahui tanpa alat, sedang ilmu manusia diraihnya dengan panca indra, akal dan hatinya, dimana semuanya didahului oleh ketidaktahuan, “Allah mengeluarkan kamu dari perut ibumu dalam keadaan tidak mengetahui sesuatupun dan Dia memberi kamu pendengaran, penglihatan dan hati, agar kamu bersyukur dengan menggunakannya untuk meraih ilmu)”. (Q.s. An-Nahl 16:78).
6. Ilmu Allah kekal, tidak hilang dan tidak pula dilupakan-Nya. Tuhanmu sekali-kali tidak lupa. Q.s. Maryam 19:64.

Dalam meneladani sifat Al’Alim, manusia hendaknya terus menerus berupaya menambah ilmunya. Rasul Saw setelah diperintahkan pada wahyu pertama untuk membaca, diperintahkan juga untuk berdoa. “(Bermohonlah wahai Muhammad) Ya Tuhanku, tambahkanlah kepadaku ilmu pengetahuan”. (Q.s. Thaha 20:114).

Dalam upaya tersebut manusia dituntut agar dapat menggunakan secara maksimal seluruh potensi yang dianugerahkan Allah kepadanya mata, telinga, akal dan kalbu untuk meraih sebanyak mungkin ilmu yang bermanfaat, bukan hanya menyangkut “seluruh benda-benda” yakni “seluruh alam raya” yang telah dianugerahkan Allah potensi untuk mengetahuinya sejak kelahiran manusia pertama, tetapi juga ilmu yang bersifat non empiris yang hanya dapat diraih dengan kesucian jiwa dan kejernihan kalbu.

Lebih jauh dapat dikatakan bahwa pengetahuan yang hakiki tentang sesuatu adalah pengetahuan yang menimbulkan dampak dalam kehidupan. Karena itu Ja’far Ash-Shadiq misalnya menggarisbawahi bahwa, “pengetahuan, bukanlah apa yang diperoleh melalui proses belajar-mengajar, tetapi ia adalah cahaya yang dinampakkan Tuhan ke dalam hati orang-orang yang dikehendaki-Nya”. Pengetahuan atau mengetahui sesuatu nenurut Rasul Saw bukan hanya terbatas sampai pada kemampuan mengekpresikannya dalam bentuk kata tetapi ada pula yang menyentuh hati sehingga melahirkan amal-amal yang sesuai dengan petunjuk-petunjuk Ilahi. Pengetahuan dalam arti yang kedua inilah yang pada akhirnya menimbulkan kesadaran akan jati diri manusia sebagai makhluk yang dhaif di hadapan Allah Yang Maha Perkasa lagi Maha Mengetahui.

Ilmu seseorang harus membawanya kepada iman, selanjutnya ini mengantarnya kepada keikhlasan dan ketundukan kepada Allah. “Supaya orang-orang yang yang mempunyai ilmu mengetahui bahwa dia (Al-Qur’an) adalah benar-benar dari Tuhanmu, lalu mereka beriman, kemudian hati mereka tunduk kepada-Nya” (Q.s. Al-Haj 22:54). Demikian terlihat, ilmu mengantar kepada iman dan iman menghasilkan ketundukan kepada Allah SWT. “Sesungguhnya orang-orang yang diberi pengetahuan sebelumnya apabila Alqur’an dibacakan kepada mereka, mereka menyungkur atas muka mereka sambil bersujud. Mereka berkata, ‘Maha Suci Tuhan kami, sesungguhnya janji Tuhan kami pasti terlaksana’, dan mereka menyungkur atas muka mereka sambil menangis dan mereka bertambah khusyu”. (Q.s. Al-Isra 17:107-108-109).

Ilmu juga harus mengantar ilmuwan kepada amal dan karya-karya nyata bermanfaat. Rasul Saw berdoa memohon perlindungan Allah dari ilmu yang tidak bermanfaat.

“Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari ilmu yang tidak bermanfaat, dari hati yang tidak khusyu’, dari diri (perut) yang tidak kenyang dan dari doa yang tidak diterima” (H.R. Muslim).

Setiap ilmuwan dituntut untuk memberi nilai-nilai spiritual bagi ilmu yang diraihnya, sejak motivasi hingga tujuan dan pemanfaatannya. Memang boleh jadi tidak berbeda cara dan alat-alat meraih ilmu antara seorang dengan yang lain, hakekat ilmiahpun yang mereka raih tidak berbeda karena cara, alat dan hakekat ilmiah bersifat universal dan bebas nilai; tetapi motivasi, tujuan dan pemanfaatan ilmu, bagi ilmuwan yang meneladani Allah dalam sifat-Nya, tidaklah bebas nilai, ia harus “Bismi Rabbika”.

“Siapa yang mencari ilmu untuk memamerkan diri/menunjukkan kebolehan di hadapan cendekiawan, atau untuk berbantah-bantahan dengan yang jahil, maka dia di neraka” (Q.s. At-Thabarany dari Ummi Salamah).

Tidak etis melupakan peranan Allah atau menutup-nutupinya dalam setiap peristiwa alam, apalagi mengingkarinya. Ketika benih tumbuh, jangan berkata bahwa alam menumbuhkannya atau karena unsur ini dan kondisi itu, kalau pun harus berkata demikian, jangan tutupi atau tidak mengingatkan peranan Allah, karena yang demikian dapat merupakan salah satu bentuk kedurhakaan terhadap Allah. Hukum sebab dan akibat, jangan pisahkan ia dari penyebab pertamanya yakni Allah SWT, karena jika dipisahkan, ia merupakan pengingkaran dan kekufuran paling sedikit dalam arti mengkufuri nikmat-Nya.

Suatu ketika Rasulullah SAW mengimani sahabat-sahabat beliau shalat subuh di Hudaibiyah, setelah pada malamnya hujan turun. Seusai shalat beliau mengarah kepada hadirin dan bersabda, “Tahukah kamu apa yang dikatakan Tuhan (Pemelihara) kamu?”. Mereka berkata, “Allah dan Rasul-Nya lebih mengetahui”, “Allah berfirman – sabda Rasul menjelaskan pagi (ini) ada hamba-Ku yang percaya pada-Ku dan kafir dan ada juga yang kafir pada-Ku dan percaya (pada selain-Ku). Adapun yang berkata: “Kami memperoleh curahan hujan atas anugerah Allah dan rahmat-Nya, maka itulah yang percaya pada-Ku serta kafir terhadap bintang, sedangkan yang berkata, “kami memperoleh curahan hujan oleh bintang ini dan itu, maka itulah yang kafir pada-ku dan percaya pada bintang”. (H.R. Al-Bukhari melalui Zaid bin Khalid Al-Juhani).

Dahulu ketika para arsitektur muslim membangun rumah-rumah tempat tinggal, mereka membangunnya dengan memperhatikan nilai-nilai agama. Memang bahan-bahan yang mereka gunakan, pengetahuan yang mereka terapkan dapat diketahui oleh muslim dan non muslim, tetapi yang meneladani Allah dalam ilmu-Nya, membangun rumah dengan memperhatikan nilai-nilai yang diamanatkan oleh Allah Penganugerah Ilmu. Sehingga sambil memperhatikan ventilasi udara, pencahayaan, keamanan dan kenyamanan penghuni dan tetangga, mereka juga sangat mengindahkan privasi dan terhalangnya pandangan yang bukan mahram melihat apa yang dilarang Allah untuk dilihat.

Keterbatasan itu sesungguhnya bukan dari Allah, tapi dari kita sendiri. Allah memberi lebih dari yang kita bayangkan, tapi kita hanya mampu menerima tak lebih dari setitik debu. Kita hanya mampu menerima ilmu yang bisa terlihat oleh panca indera kita. Yang tampak di depan mata, yang kita pelajari dan bersifat materi. Karena itu, ilmu yang sangat sedikit ini jangan sampai membuat kita sombong dan takabbur. Karena meski sedikit kita bisa membuka jalan untuk mendapatkan Al-‘Alim dari Allah semakin lapang. Mengamalkan ilmu yang kita miliki dengan sebaik-baiknya dan sebesar-besarnya bagi lingkungan dapat makin melapangkan jalan itu.

Jika kita mampu membaca Al-Qur’an, bisa diamalkan dengan membuka taman Alqur’an. Jika menguasai ilmu ekonomi, bisa menularkan ke orang lain cara-cara berniaga dengan benar. Jika ahli teknologi, berikan kepada orang yang belum paham teknologi. Jika ada kelebihan di buku, bisa diamalkan melalui wakaf buku atau Alqur’an, dan beragam cara untuk menarik Al-‘Alim menganugerahkan ilmunya pada kita. Keterbatasan ini hendaknya makin memacu untuk berbuat semaksimal mungkin dalam berbuat kebajikan. Sudah saatnya kita berbuat semakin ba-nyak untuk kebaikan orang lain. Menebar pesona kebaikan akan membuka rahmat bagi alam semesta lewat dzikir-dzikir Al-‘Alim.

Mengamalkan dzikir suci dalam kehidupan sehari-hari kita, semakin menambah hati ingin selalu merasakan kenikmatan sesungguhnya dari Allah. Kesucian Allah terpancar dari lisan-lisan yang basah dengan asma ini. Kita hanya ingin merasakan bagaimana nikmat kesempurnaanNya. Mencoba mencari keridhaan-Nya dalam setiap ilmu yang kita amalkan. Saat kita menikmati ciptaanya, disinilah terasa kesempurnaan penciptaanya, tak akan mampu kita raih dengan pengetahuan kita yang amat terbatas. Dialah Allah, yang menjadikan segala yang ada di bumi untuk kamu dan Dia berkehendak (menciptakan) langit, lalu “Dijadikan-Nya tujuh langit. Dan Dia Maha Mengetahui segala sesuatu.” (QS. Al-Baqoroh: 29). Dengan sering membacanya, pemahaman kita tentang ilmu yang selama ini kita amalkan akan bertambah, mendapat berkah. Allah membuka pintu pengetahuan dari arah yang tidak kita duga sebelumnya. Sesungguhnya Allah memberi kita segala macam rahmat kesempurnaan yang sesuai bagi kita. Dia mengajarkan kita nama-nama-Nya. Tetapi hidup dan kekuatan kita terbatas. Ilmu dan diri kita pun terbatas. Kita mencoba merasakan kesempurnaan yang tak terbatas, ilmu Allah yang tidak terbatas, yang mengetahui segala dan mencari keridhaanNya.

BAB III

KESIMPULAN

* Al-‘alim menunjukkan dzat yang mengetahui segala sesuatu, ilmunya meliputi yg nampak dan tidak nampak, samar dan jelas dan meliputi segala hal yang diperbuat seluruh makhluknya.
* Pengetahuan semua makhluk bersumber dari pengetahuan-Nya.
* Ketika benih tumbuh, jangan berkata bahwa alam menumbuhkannya atau karena unsur ini dan kondisi itu, kalau pun harus berkata demikian, jangan tutupi atau tidak mengingatkan peranan Allah, karena yang demikian dapat merupakan salah satu bentuk kedurhakaan terhadap Allah.
* Ilmu seseorang harus membawanya kepada iman, selanjutnya ini mengantarnya kepada keikhlasan dan ketundukan kepada Allah.

DAFTAR PUSTAKA

http://www.wikipedia.com
ryper.blogspot.com
http://www.dakwatuna.com
cetak.bangkapos.com
nandalusi.multiply.com
dyahprajnyandari.multiply.com
muzakki.site40.net
Shihab, M. Quraish.1998. Menyingkap Tabir Ilahi; Al-Asma’ al-Husna dalam Perspektif al-Qur’an. Jakarta; Lentera Hati.

Comments»

No comments yet — be the first.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: