jump to navigation

Ar Razak dalam kehidupan sehari-hari January 3, 2010

Posted by pengelola in Uncategorized.
trackback

Oleh: Ahmad Faizal, Nurhalimah, Rini Irmanti

(Mahasiswa Fakultas Psikologi UHAMKA)

Kata Ar-Razzaq terambil dari kata “Razaqa” atau “Rizq” yakni rezeki. Yang pada mulanya ditulis oleh pakar bahasa arab Ibnu Faris berarti “Pemberian untuk waktu tertentu”. Di sini terlihat perbedaan dengan “Alhibah” dan di sini jugha dapat di pahamiperbedaan antara “Ar Razzaq” dan “Al-wahab”. Namun demikian, arti asal dari perkembangan, sehingga rezeki antara lain diartikan pangan,pemenuhan kebutuhan, gaji hujan dan lain – lain, bahkan demikian luas dan berkembang pengertiannya sehingga “ anugrah kenabian” pun dinamai rezek. Nabi syuaib yang berkata kepada kaumnya, “Wahai kaumku bagaimana fikiranmu jika aku mempunyai bukti yang nyata dari tuhanku dan dia menganugrahi aku dari-nya rezeki yang baik? (yakni kenabian)” (Q.S Hud 11:88)

Dalam AL-Qur’an kata Ar-razaaq hanya ditemukan sekali, yakni pada Q.S Az-Zariyat 51:58, tetapi beberapa ayat – ayat yang menggunakan akar kata ini, yang menunjukan kepada Allah SWT.

v     Makna Tekstual

Ar Razzaq ialah dzat yang menciptakan rezeki dan sebab-sebabnya. Di katakan bahwa Ia adalah yang memberikan kepada segala yang ada, dengan karunia-Nya, segala yang dapat memelihara materi dan bentuknya. Dia memberikan ilmu kepada akal, memberikan pemahaman kepada hati, memberikan tajalli dan musyahadah kepada jiwa, memberikan makanan yang cocok untuk tubuh sesuai dengan keinginan, ada yang dilapangkan-Nya dan ada pula yang disempitkan-Nya tanpa ada yang menghalangi-Nya. Dengan kata lain Ar-Razzaq adalah Dzat yang menciptakan rezeki dan orang yang minta rezeki, kemudian menghubungkan antara keduanya, dan juga menciptakan sebab-sebab untuk mendapatkan kesenangan dengan rezeki itu bagi mereka.

Sifat  Ar Razzaq ini bagi seorang yang beriman ialah dengan mengakui dan meyakini bahwa hanya Allah SWT bersifat Maha Pemberi.

”Dialah yang memperhatikan kepada kamu ayat – ayatnya dan menurunkan untuk kamu dari langit rizki.. Dan tidak mendapat pelajaran kecuali orang – orang yang kembali.. Maka sembahlah Allah dengan memurnikan ketaatan padanya, meskipun orang – orang kafir tidak menyukai”. (QS.Ghafir:13-14)

Dalam kitab Shahih Al Jami’ disebutkan sebuah hadits dari Rasulullah Saw yang berbunyi, “Sesungguhnya malaikat Jibril menghembuskan ke dalam hatiku bahwasanya jiwa hanya akan mati sampai tiba masanya dan memperoleh rezekinya, maka bertakwalah kepada Allah, carilah nafkah yang baik, jangan bermalas-malasan dalam mencari rezeki, terlebih mencarinya dengan bermaksiat kepada Allah karena sesungguhnya Allah tidak akan memberikan apa yang dicarinya kecuali dengan taat kepadaNya.”

Pada ayat 13-14 dapat dipahami sebagai tertuju pada manusia seluruhnya yang hidup dipentas bumi ini – baik mukmin maupun kafir, atau paling tidak untuk orang – orang mukmin. Dengan demikian, ayat – ayat ini bukanlah bagian dan lanjutan dari kecaman yang ditunjukan pada penghuni neraka. Yang direkam oleh ayat – ayat yang lalu. Kendati demikian ayat sebelumnya yang ditutup dengan sifat Allah, maha tinggi dan maha besar. Ayat – ayat diatas melukiskan sekelumit dari ketinggian dan kebesaran Allah itu yakni: Dialah saya yang maha tinggi lagi maha besar itu, yang senantiasa memperhatikan kepada kamu yaitu memberi kamu potensi untuk melihat dengan pandangan mata atau hati ayat – ayat yakni tanda – tanda kekuasaannya dan dari saat ke saat menurunkan pada dasarnya untuk kamu dari langit rizki yang banyak seperti hujan, sinar matahari dan tidaklah mendapat pelajaran secara baik dari ayat – ayat itu kecuali orang – orang yang bermaksud kembali dari saat kesaat kepada Allah. Nah, jika demikian itu hanya Ayat – ayat yang diperlukan Allah kepada kamu, maka sembahlah Allah yang maha Esa dengan memurnikan ketaatan hanya kepadanya semata – mata, meskipun orang – orang kafir tidak menyukai penyembahan kamu itu.

Didahulukannya kalimat untuk kamu sebelum kalimat dari langit bertujuan menentukan betapa nikmat tersebut pada dasarnya diperuntukan pada umat manusia. Kalu ada selain manusia yang meraih manfaat apa yang turun dari langit itu, tetapi pada akhirnya manfaat dari keberadaan binatang dan tumbuh – tumbuhan adalah untuk manusia juga.

Sayyid Quthub tidak menutup kemungkinan memahami risalah keagamaan sebagai bagian dari rezeki Allah yang turun dari langit.Sedang Thabathaba’I memahaminya dalam arti semua rizki (anugrah ilahi) yang dapat dimanfaatkan menurutnya yang dimaksud dengan menurunkan dari langit adalah yang dinampakkan Allah dalam kenyataan setelah yang tadinya gaib atau tidak terlihat atau terjangkau sejalan dengan firmannya: QS.Ghafir:13-14. ( Tafsir Al – Misbah )

v     Makna kontekstual

Ar-Razzaq adalah Allah yang berulang-ulang dan banyak sekali memberi rezeki kepada mahluk-mahluknya. Imam Ghazali ketika menjelaskan arti Ar-Razzaq menulis bahwa, “Dia yang menciptakan rezeki dan menciptakan yang mencari rezeki, serta dia yang mengantarnya kepada menreka dan menciptakan sebab – sebab sehingga mereka dapat menikmatinya”.

Banyak manusia merasa khawatir dalam mencari rezeki karunia Allah Swt. Bahkan tidak sedikit dari mereka yang rela menggadai diri dan menghinakan martabat. Padahal tertulis jelas di dalam Qs. Hud ayat 6

”Dan tidak ada sesuatu binatang melatapun di bumi melainkan Allah lah yang memberi rezekinya, dan Dia mengetahui tempat berdiam binatang itu dan tempat penyimpanannya. Semuanya tertulis dalam kitab yang nyata (Lauh mahfuzh)’’ (Qs Hud ayat 6).

Sebab itu tidak usah panik dalam mencari karunia Allah Swt berupa rezeki. Yakinilah bahwa rezeki itu datang, bahkan kedatangannya menghampiri diri kita begitu cepat.

“Sesungguhnya rezeki itu akan mecari seseorang dan bergerak lebih cepat dari pada ajalnya.” HR. Thabrani

secara luas (sebagaimana ditunjukkan oleh shighah mubalaghah)
bentuk kata yang menyangatkan. Adapun rezki yang ada di alam semesta
ini berasal dari Allah Ta’ala.

v     Aplikasinya

Rezeki itu ada dua macam. Pertama, rezeki lahir berupa makanan untuk tubuh. Kedua, rezeki batin berupa ilmu pengetahuan dan mukasyafah untuk kalbu. Yang keedua ini merupakan jenis rezeki yang paling mulia, sebab buahnya adalah kehidupan yang abadi. Sedangkan rezeki lahir itu buahnya adalah kekuatan jasmani untuk jangka wakLu yang singkat saja. Allah SWT mengatur kedua macam rezeki itu dan diberikan-Nya kepada siapa saja yang dikehendaki-Nya:

1.      Rezki yang manfaatnya berlanjut sejak di dunia hingga di akhirat,
yaitu rezki hati. Contohnya: ilmu, iman, dan rezki halal.

2.      Rezki yang secara umum diberikan kepada seluruh manusia, yang shalih
maupun yang tidak, termasuk binatang dan lain-lain. Contohnya: harta, hujan, dll

Adapun ayat yang dapat memperkuat ayat di atas adalah:

“Dan engkau beri rizki siapa yang engkau kehendaki tanpa batas” (QS..AL-Imron:27)

Hadits riwayat HR. Muslim:

Hai manusia, jika dari generasi pertama sampai terakhir, baik jin dan manusia berkumpul dalam satu tempat untuk meminta kepadaKu, lalu masing-masing orang meminta untuk dipenuhi kebutuhannya, niscaya hal tersebut tidak mengurangi sedikit pun dari kekuasaanKu, kecuali hanya seperti jarum yang dicelupkan di laut. (HR.Muslim)

Sungguh sentuhan yang menyadarkan hati kepada hakikat besar – hakikat ke Esaan tuhan, kesatuan keadilan, kesatuan tindakan, kesatuan penciptaan, kesatuan kepemilikan dan kesatuan kebijaksanaan dalam memberi kemudian kesatuan penghambaan kepada yang maha adil pemilik kekuasaan yang memuliakan dan menghinakan, yang menghidupkan dan yang mematikan, yang memberi dan mencegah, dan yang menata semua persoalan alam semesta alam serta manusia dengan adil dan baik.

Penjelasan diatas menegaskan penolakan terhadap sikap manusia yang diberi bagian Al-Kitab, kemudian mereka berpaling dan enggan berhukum kepada kitab Allah, seperti yang dijelaskan dalam paragraf yang lalu. Padahal system Allah mengatur semua urusan alam semesta berikut manusia. Pada saat yang sama muncul peringatan dalam paragraf berikut terhadap orang – orang kafir sebagai pemimpin padahal segala persoalan ditangan Allah dan dialah wali atau pemimpin orang – orang beriman. (Taafsir Fi- Zhilalil Qur’an)

“Dan barang siapa yang bertakwa kepada Allah niscahaya dia akan mengadakan baginya jalan keluar dan memberinya rizki dari arah yang dia tidak terduga”.(QS,Ath – Thalaq:1)

Kiranya tidak disalah pahami dengan berkata: Banyak orang bertakwa yang kehidupan materialnya terbatas. Yang perlu diingat bahwa ayat diatas tidak mengatakan akan menjadikannya kaya – raya. Disisi lain rizki tidak hanya dalam bentuk materi, kepuasan hati adalah kekayaan yang tidak pernah habis. Ada juga rizsinya yang bersifat pasif. Contoh si A yang setiap bulan katakana lah mnerima lima juta rupiah tetapi dia atau salah seorang keluarganya sakit – sakitan lebih sedikit disbanding dengan si B yang hanya memperoleh dua juta tetapi sehat dan hatinya tenang. Sekali lagi kata rizki tidak selalu bersifat material, tetapi juga bersifat sepiritual. Kalu ayat ini menjelaskan rizki dan kecukupan bagi orang bertakwa, maka melalui Rosulullah saw mengancam siapa yang durhaka dengan kesempitan rizki. Beliau bersabda “tidak ada yang menampik takdir kecuali doa, tidak ada yang menambah umur kecuali kebajikan yang luas, dan sesungguhnya seseorang dihindarkan dari rizki akibat doa yang dilakukannya”. (HR. Ibn Majah, Ibn Hibban dan Al Hakim melalui Tsau ban ra)

Keberuntungan seorang hamba dari sifat Ar-Razzaq akan diperoleh dengan dua syarat. Pertama, haruslah diketahui hakikat sifat ini; bahwa tidaklah pantas kecuali bagi Allah SWT oleh karena itu ia tidak menunggu-nunggu rezeki kecuali dari-Nya, dan tidaklah bertawakal dalam urusan rezeki itu kecuali kepada-Nya. Kedua, hendaklah ia meminta kepada Allah SWT agar mengaruniakan kepadanya ilmu yang bisa menunjuki dan lisan yang bisa menuntut, serta tangan yang suka bersedekah. Dan hendaklah ia menjadi sebab sampainya rezeki yang mulia ke dalam hati dengan perkataan dan perbuatannya.

Jika Allah mencintai suatu kaum, maka Allah akan memperbanyak kebutuhan makhluk kepada-Nya dan membuat suka kepada diri-Nya untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhan tersebut.

Manfaat dari sifat Ar-Rozzaq secara psikis

  1. Membuat seseorang tidak kikir
  2. Termotivasi
  3. tenang hati dan pikiran
  4. Optimis
  5. Bersikap dan berpikir Positif
  6. Dll

Ciri – ciri dari seseorang yang memiliki sifat Ar-Rozzaq

  • Peka terhadap linggkungan
  • Bersodakoh
  • Ikhtiar
  • Memiliki keyakinan bahwa Rezeki itu Allah yang mengaturnya
  • Dll

KESIMPULAN

Adapun yang dapat disimpulkan di sini Sifat  Ar Razzaq ini bagi seorang yang beriman ialah dengan mengakui dan meyakini bahwa hanya Allah SWT bersifat Maha Pemberi. Dan sesungguhnya bagi semua manusia baik itu muslim maupun kafir dan mahluk ciptaan Allah SWT lainnya sudah ditetapkan rezekinya sesuai sengan porsinya atau yang dibutuhkannya.

DAFTAR PUSTAKA

–         M. Quraish Shibab, Tafsir AL – Misbah Volume 14, Jakarta: Lentera Hati

–         M. Quraish shihab, Tafsir AL – Misbah Volume 12, Jakarta: Lentera Hati

–         Frof. H. Mahmud Junus, Tafsir Qur’an Karim, Jakarta: PT Hidakarya Agung

–         Sayyid Quthb,Tafsir Fizhilalil, Jakarta: Fikrah dan Harakah

–         Http://Akar kata AR-Razzaq.com

–         http://arti Ar-Razzaq. Com

Comments»

1. rantawi - April 11, 2010

jazakallah d atas tulisan, bolehkah tuan menghuraikan pula “yang di beri reqi”


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: