jump to navigation

Psikologi Sabar November 25, 2009

Posted by pengelola in Uncategorized.
trackback

Oleh: Ayrul Basri dan Satrio Nurjihad

(Mahasiswa Fakultas Psikologi UHAMKA)

 

BAB I

PENDAHULUAN

Latar Belakang

Kehidupan yang kita jalani saat ini tidaklah selalu mengarah kepada hal yang baik-baik saja atau berjalan sesuai dengan keinginan diri. Segala sesuatu yang sebelumnya kita rencanakan terlebih dahulupun tidak akan berjalan sesuai dengan apa yang kita rencanakan. Pasti akan adanya halangan dan rintangan yang akan kita hadapi.

Segala apapun yang ada di dunia ini tidak ada yang sempurna, pasti setiap manusia yang menjalani kehidupan di dunia ini pernah merasakan susah, rugi, serta putus asa. Namun hal itu janganlah dijadikan sebagai alasan untuk menjadi manusia yang malas, manusia yang mudah menyerah sebelum melakukan usaha. Sesungguhnya penilaian yang Allah berikan bukan kepada keberhasilan yang kita raih, tapi dari hasil usaha yang kita jalani demi memberikan hasil yang sebaik-baiknya.

Oleh karenaitu kita dituntut untuk memiliki sikap sabar. Jangan jadikan kesusahan dan kegagalan sebagai landasan pikiran bahwa Allah SWT tidak menyayangi manusia, tapi jadikanlah kesusahan dan kegagalan sebagai sebuah anugerah yang diberikan oleh Allah SWT sebagai wujudnya bahwa Allah SWT masih memberikan kesempatan untuk mengingat-

Hai orang-orang yang beriman, jadikanlah sabar dan shalat sebagai penolongmu, Sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar.

Tujuan

Sebuah dinamika dalam kehidupan manusia, naik turunnya status social di masyarakat, kaya dan miskin, susah dan senang bukan berarti menjadi standar nilai di hadapan Allah SWT, tapi sebagai ujian apakah orang yang kaya senantiasa mendermawankan hartanya untuk di jalan Allah SWT atau tidak. Begitu pula dengan orang miskin, apakah mereka selalu senantiasa sabar dan ikhlas dalam setiap menerima cobaan yang diberikan Allah SWT kepada dirinya.

Oleh karena itu tujuan dari makalah ini kami buat agar dapat memeberikan wawasan mengenai apa definis sabar, lalu apa saja yang terkandung dalam sikap sabar tersebut, serta korelasi atau hubungan antara sabar dengan ilmu psikologi yang sedang berkembang pesat saat ini.

BAB II

PEMBAHASAN

Definisi Sabar Secara Tekstual

Asal kata sabar adalah al man’u berarti menahan dan al habsu berarti mencegah. Jadi, sabar adalah menahan dan mencegah dari perbuatan yang mengarah kepada keburukan. Sabar juga berasal dari kata Shabara              Yashburu Shabaaran: yaitu ketundukan penerimaan apa-apa yang telah Allah berikan baik kesenangan atau kesedihan. Segala sesuatu yang kita dapatkan pasti akan ada hikamah atau maksud yang diberikan Alllah SWT kepada hamba-Nya yang selalu senantiasa ikhtiar dan bertawaqal pada setiap kejadian yang diterimanya dengan lapan dada.

Katakanlah: “Hai hamba-hamba-Ku yang beriman. bertakwalah kepada Tuhanmu”. orang-orang yang berbuat baik di dunia Ini memperoleh kebaikan. dan bumi Allah itu adalah luas. Sesungguhnya Hanya orang-orang yang Bersabarlah yang dicukupkan pahala mereka tanpa batas.

Lain lagi menurut syeikh Ibnu Qoyyim Al-jauziyah, bahwa sabar merupakan budi pekerti yang bisa dibentuk oleh seseorang. Ia menahan nafsu, Menahan sedih, menahan jiwa dari kemarahan, menahan lidah dari merintih kesakitan, dan juga menahan anggota badan dari melakukan yang tidak pantas. Sabar merupakan ketegaran hati terhadap takdir dan hukum-hukum syari’at.

Definisi Sabar Secara Kontekstual

Terkadang kita meyakini bahwa kesabaran mempunyai titik batas sehingga kalau sudah melebihi batasnya manusia boleh melakukan apapun. Tapi bukan seperti ini tujuannya, semua yang telah kita kerjakan harus kembali kepada Allah SWT sebagai dasar atas segala perilaku yang kita kerjakan. Hal ini dapat memberikan nilai positif bagi diri kita sendiri, karena segala sesuatu yang kita kerjakan atas nama Allah SWT pasti yang dikerjakan akan mengarah kepada yang baik. Sikap sabar juga merupakan sikap dasar dari ciri-ciri orang yang bertaqwa.

Macam-macam Sabar Menurut Al-Quran

Sabar dalam menuntut ilmu

Kewajiban pertama kali yang harus dilakukan umat manusia adalah menuntut ilmu, hal ini dijelaskan dalam surat :

1.  Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang Menciptakan,

2.  Dia Telah menciptakan manusia dari segumpal darah.

3.  Bacalah, dan Tuhanmulah yang Maha pemurah,

4.  Yang mengajar (manusia) dengan perantaran kalam[1589],

5.  Dia mengajar kepada manusia apa yang tidak diketahuinya.

Maksudnya: Allah mengajar manusia dengan perantaraan tulis baca.

Dalam surat diatas dijelaskan bahwa manusia diwajibkan agar dapat baca tulis. Hal ini berkaitan dengan diwajibkannya manusia untuk menuntut ilmu, karena segala amalan tanpa ilmu pasti akan tertolak atau akan menghancurkan amalan itu sendiri tanpa ada manfaat sedikikitpun baginya.

Sabar dalam beramal sholeh

Sabar dalam beramal sholeh juga dilakukan dengan landasan berilmu. Landasan orang yang berilmu merupakan niali taqwa kepada Allah SWT. Sebab segala seseuatu yang dikorbankan dalam kehidupan harus dilandasi dengan kesabaran dan kesungguhan.

Sabar terhadap musibah

Musibah yang dimaksud adalah bencana yang diakibatkan dari perbuatan maksiat kepada Allah SWT. Musibah yang diberikan Allah kepada umatnya merupakan salah satu wujud bahwa Allah SWT selalu memperhatikan segala sesuatu yang dikerjakan. Musibah juga merupaka teguran yang diberikan Allah agar manusia selalu mengingat serta mensyukuri segala sesuatu yang diberikan Allah kepada umatnya. Allah memberikan musibah kepada umatnya adalah sebagai landasan agar manusia selalu introspeksi diri serta selalu bertaubat, memohon ampunan dari Allah SWT.

Sabar terhadap perkataan orang

Betapa sulitnya memnuhi perkataan orang yang selalu berbeda dan cenderung menyalahkan sesuatu yang kita kerjakan, karena tidak ada sesuatu yang sempurna di mata manusia, oleh karena itu sempurnakanlah cara kerja kita. Lakukanlah amalan sholeh yang dicontohkan rasullullah dalam kehidupan sehari-harinya tanpa ditambahkan ataupun dikurang-kurangi.

SABAR dan PSIKOLOGI

Sabar dalam kaitannya dengan psikologi dapat digambarkan dengan teori dari Psikoanalisis Sigmund Freud dan dianalogikan sebagai “ super ego “. Seperti yang kita ketahui bersama teori Psikoanalisis Freud menjelaskan mengenai tiga aspek pemunculan perilaku, diantaranya : id, ego, super ego.

Sabar dalam kaitannya dengan Psikologi Islami dapat dianalogikan sebagai “ Qolb “. Dalam psikologi islami dijelaskan dalam pemunculan perilaku yaitu adanya Nafs, Aqal, Qolb.

Sabar dalam kehidupan sehari-hari

Manusia seringkali berlaku egois. Ketika menginginkan sesuatu, dia berdoa habis-habisan, sungguh-sungguh demi tercapai keinginannya. Tatkala berhasil, dia melupakan Allah. Bahkan dia menganggap bahwa keberhasilan itu adalah hasil jerih payahnya sendiri. Sebaliknya, saat dia gagal, dia kecewa karenanya, bahkan berburuk sangka kepada Allah SWT. Padahal rasa kecewa, sedinh, dan kesal itu lahir karena manusia terlalu berharap bahwa kehendak Allah harus cocok dengan keinginannya.

Oleh karena itu dalam buku “ Dahsyatnya Sabar” ada cara menerapkan sabar dalam kehidupan sehari-hari, yaitu:

  1. Teguh Pada Prinsip
  2. Tabah
  3. Tekun
  4. Tidak cepat putus asa
  5. Tahapan menuju sukses

Hakikat Sabar

Sabar merupakan sebuah pembelajaran dari bagaimana kita menyikapi sesuatu hal yang kita alami. Misalkan saja, kita dalam kondisi yang tidak baik, lalu kita berusaha untuk keluar dalam keadaan tersebut. Sabar itu merupakan perwujudan dari apa yang kita usahan dari sesuatu yang tidak baik menjadi baik. ”Sabar itu indah”, dan ”Sabar itu cahaya”, demikianlah potongan salah satu sabda Rasulullah SAW. Boleh jadi kata sabar ini mudah diucapkan, gampang dikatakan, namun untuk mempraktikkannya agar bertemu dengan cahaya dan keindahan, seseorang perlu panduan, ilmu dan latihan.

BAB III

PENUTUP

Kesimpulan

Sabar bukan berarti berhenti dan diam tapi sabar adalah berhenti sejenak dan segera bergerak cepat melakukan perubahan ke arah yang lebih baik. Karena pada hakikatnya sesungguhnya manusia selalu diberikan rahmat serta rizki dari Allah SWT. Namun terkadang kita sebagi manusia yang lemah, dan tempatnya dari banyak kesalahan sering melupakan tentang semua anugerah yang diberikan Allah SWT kepada setiap manusia. Hidup tanpa masalah hanyalah sebuah perjalanan yang sepintas dilalui tanpa tahu apa saja keindahan yang ada di sekitarnya.

Setiap insan yang hidup di muka bumi ini pasti pernah mengalami suka dan duka. Tak ada insan yang diberi duka sepanjang hidupnya, karena ada kalanya kemanisan hidup menghampirinya. Demikian pula sebaliknya, tak ada insan yang terus merasa suka karena mesti suatu ketika duka menyapanya. Bila demikian tidaklah salah pepatah yang mengatakan, “Kehidupan ini ibarat roda yang berputar”, terkadang di atas, terkadang di bawah. Terkadang bangun dan sukses, terkadang jatuh dan bangkrut, kadang kalah, kadang menang, kadang susah, kadang bahagia, kadang suka dan kadang duka

Daftar Pustaka

  1. Hadi Yasin, Ahmad (2008). “ Dahsyatnya Sabar “. Jakarta : Qultum Media
  2. www.eramuslim.com (18 November 2009)
  3. www.pesantrenvirtual.com (24 November 2009)
  4. www.rumah-yatim.org (18 November 2009)

Comments»

No comments yet — be the first.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: