jump to navigation

Takwa: Perspektif Psikologi November 18, 2009

Posted by pengelola in Uncategorized.
trackback

Oleh: Rany Anggraini, Ades Nurillahillail, Devi Kartika

(Mahasiswa Fakultas Psikologi UHAMKA)

BAB I

PENDAHULUAN

Muttaqien atau orang yang bertaqwa, memiliki banyak definisi yang kita dapat  tentang taqwa itu sendiri. secara umum taqwa diartikan ‘takut’ akan tetapi makna takut tidak sama seperti takut yang pada lazimnya. Taqwa juga dapat diartikan memelihara, seseorang yang dapat memelihara dirinya dari segala apa-apa yang merugikan bagi dirinya sendiri.

Seseorang bisa dikatakan menjadi orang yang taqwa apabila ia sudah benar-benar menjalankan perintah ALLAH dan menjauhi larangan-Nya. Jadi, orang yang melanggar perintah ALLAH serta melakukan apa yang dilarang ALLAH bukan termasuk orang yang bertaqwa, dikarenakan batasan yang dapat dikatakan orang bertaqwa adalah yang demikian dan menjalankan sesuatunya hanya karena ALLAH. Jika seseorang sudah dapat melakukan sesuatu hanya karena ALLAH dan takut kepada ALLAH barulah dapat dikatakan orang yang bertaqwa (muttaqien). Tidak membedakan manusia dihadapan ALLAH kecuali ketaqwaanya karena taqwa sepaling-paling mulia disisi ALLAH, dapat dikatakan bahwa taqwa mempunyai tingkatan yang  sesudah mukmin, muslim dan muhsin. Karena taqwa sudah mencakup kesemuanya. Konsekuensi dari keimanan yang kokoh yang ditanamkan dalam diri seseorang karena takut kepada ALLAH adalah ketaqwaan seseorang.

Orang yang bertaqwa, disamping ia selalu melaksanakan segala perintah ALLAH serta menjauhi larangan-Nya, mereka (muttaqien) juga memiliki dan tertanam dalam hatinya sifat-sifat yang baik.

BAB II

PEMBAHASAN

II.1 Pengertian

Akar kata

Taqwa itu berasal dari kata waqa, yaqii, wiqayah dengan makna yang sejalan, sedang mata muttaqien adalah bentuk fa’ail (pelaku) dari ittaqa suatu kata dasar bentukan tambahan (mazid) dari kata dasar waqa atau secara singkatnya waqa-yaqi-wiqayah yang artinya memelihara.

Makna tekstual

Ada yang membagi 2 definisi taqwa , yang pertama hati – hati dan yang kedua meninggalkan yang tidak berguna. Ada juga yang mengatakan taqwa itu mengetahui dengan akal, memahami dengan hati dan melakukan dengan perbuatan,

Muttaqien dapat diterjemahkan menjadi kata orang yang menjaga diri untuk menyelamatkan dan melindungi diri dari semua yang merugikan.

Makna Kontekstual

secara keseluruhan kata muttaqien adalah menjaga diri untuk menyelamatkan dan melindungi diri dari semua yang merugikan, merugikan disini yang dimaksud yaitu melindungi diri dari segala perbuatan yang mengandung kemashiyatan, syirik, kemunafikan dsb.

II. 2 Hakekat Taqwa

Sebenarnya Islam menuntut setiap individu muslim untuk menjadi orang-orang yang bertaqwa. Jadi taqwa merupakan tuntutan Allah kepada semua manusia. Jika kaum muslimin banyak yang bertaqwa, bisa dikatakkan Islam tegak di muka bumi secara sempurna. Dan Islam tak akan pernah sempurna dan berdiri tegak, kecuali ketika ketaqwaan  kaum muslimin tersebut telah hancur. Ketaqwaan setiap individu itu sesuai dengan tanggungjawab yang dipikulnya. Oleh karena itu, hancurnya satu bagian taqwa yang menjadi beban seorang individu berarti kehancuran Islam secara keseluruhan.

Taqwa merupakan naluri yang menjadi sumber perilaku. Sabda Rasulullah; “Taqwa itu ada di sini, seraya menunjuk ke arah dada beliau” Naluri ini tidak akan terbentuk kecuali dengan merealisasikan maksud-maksud yang telah ditentukan. Maksud rasulullah disini, taqwanya itu tidak akan terbentuk jika kita tidak menjalankanya maksud taqwa dalam kehidupan sehari – hari.  Taqwa mempunyai pengaruh moral yang sangat erat seperti yang digambarkan oleh Rasulullah saw; “Sesungguhnya di dalam tubuh itu ada segumpal darah, apabila segumpal darah itu baik maka baiklah seluruh tubuh dan apabila segumpal darah itu buruk maka buruklah seluruh tubuh. Ketahuilah bahwa segumpal darah itu adalah hati” (Bukhari-Muslim)

Jadi, caranya untuk memperbaiki ketaqwaan itu dengan memperbaiki hati. Sesuai dengan  Firman Allah “Hai orang-orang yang beriman, bertaqwalah kamu kepada Allah, dan katakanlah dengan perkataan yang benar. Niscaya Allah memperbaiki bagimu amalanmu dan mengampuni bagimu dosa-dosamu. Dan barangsiapa yang menaati Allah dan Rasul-Nya, maka sesungguhnya ia telah mendapatkan kemenangan yang besar (Al-Ahzab:70-71)

Allah juga telah mendefinisikan istilah “Muttaqin” dan menerangkan sifat-sifatnya di dalam beberapa di dalam Alqur’an  ; Al-Baqarah 2-5, 177; Ali Imran 15-17, 133-136; Al-Anbiya’ 48-49; Az-Zumar 33; Adz-Dzariyat:15-19.

II.3 Sifat-Sifat Orang Muttaqin

Dalam Al-Qur’an dan hadist banyak diterangkan mengenai sifat-sifat atau tanda-tanda orang yang bertaqwa kepada Allah, antara lain:

1. Percaya adanya alam ghoib

2. Mempeercayai keberadaannya Al-Qur’an

3. Menegakkan sholat 5 waktu

4. Mau menginfakkan sebagian rizki yang diberikan oleh Allah kepada jalan yang diridloi Allah

5. Beriman kepada kitab-kitab suci yang diturunkan sebelum Nabi Muhammad SAW

6. Menimani akan datangnya hari kiamat

7. Suka memaafkan kesalahan orang lain

8. Suka menahan amarahnya

9. Jika terlanjur berbuat kejahatan, segera sadar dan mohon ampun kepada Allah, dan    bertaubat

10. Suka melaksanakan i’tikaf di masjid

Terdapat dalam hadist Abu Umamah (shuday) bin adjlan albahily r.a. mengenai orang-orang yang bertaqwa , beliau berkata : saya telah mendengar Rasulullah s.a.w. ketika berkhotbah di Hajjatil-wada’ bersabda : Bertaqwalah kepada Allah, sembahyanglah lima waktu, puasalah bulan Ramadhan, tunaikanlah zakat hartamu, dan taatlah kepada pimpinanmu, niscaya kamu akan masuk sorga yang disediakan oleh tuhanmu.

Beberapa dan diantara sifat – sifat orang muttaqien juga bisa dilihat dalam firman ALLAH surat Al Baqarah ayat 2 – 5

[2.2]. Kitab itu tanpa ragu lagi adalah petunjuk bagi orang yang memenuhi kewajiban dan menjaga diri dari kejahatan

[2.3]. Yang beriman kepada yang Gaib dan menegakkan salat dan membelanjakan dari apa yang Kami berikan kepada mereka

[2.4]. Dan yang beriman kepada yang diturunkan kepada engkau dan dan apa yang diturunkan sebelum engkau dan tentang Akherat mereka yakin

[2.5]. Mereka itulah yang berada di jalan yang benar dari Tuhan mereka dan mereka itulah orang yang sukses (berhasil)

Dari ayat-ayat ini dapat menggambarkan bagaimana karakteristik orang yang bertaqwa. Berawal dari suatu kepercayaan yang gaib dan semua yang dibicarakan dalam konteks ayat-ayat ini juga yaitu percaya kepada kitab suci dan hari akhirat adalah modal awal ntuk mulai memasuki derajat ketaqwaan yang lebih tinggi.

Ketaqwaan harus mulai dengan kepercayaan kepada suatu yang gaib. Gaib dalam pengertian sempit artinya tidak bisa dilihat mata, Dalam pengertian luas, yang gaib artinya tak bisa dicerap, diterima oleh panca indera manusia.

II. 4 Anugerah bagi orang – orang yang bertaqwa

Banyak anugerah yang akan didapat bagi orang bertaqwa  karena Allah selalu menjanjikan hambanya dengan segala sesuatu yang baik bagi mereka orang – orang yang bertaqwa. Terbukti diantaranya dari ayat – ayat yang terdapat dalam alqur’an, antara lain ;

Dalam firman ALLAH Q.S 8 : 29 [ Al-Anfal : 29 ]

‘Hai orang-orang yang beriman, jika kamu bertaqwa kepada ALLAH, niscaya ALLAH akan memberi kamu furqon, dan menghapus kesalahan-kesalahan kamu dan dosa-dosamu’

Dalam ayat tersebut sudah jelas, bahwa ALLAH memberikan anugerah bagi orang bertaqwa dengan menghapus kesalahan dan dosa orang yang bertaqwa, juga diberikannya furqon oleh ALLAH. Furqon yaitu suatu petunjuk untuk dapat membedakan antara yang baik dan buruk dengan demikian akan selamat karena ia mendapatkan petunjuk dengan dapat membedakan antara yang baik dan yang buruk.

Terdapat juga firman Allah mengenai anugerah bagi orang bertaqwa pada QS. ATH-THALAAQ : 2-3, 4.

Apabila mereka telah mendekati akhir iddahnya, maka rujukilah mereka dengan baik atau lepaskanlah mereka dengan baik dan persaksikanlah dengan dua orang saksi yang adil di antara kamu dan hendaklah kamu tegakkan kesaksian itu karena Allah. Demikianlah diberi pengajaran dengan itu orang yang beriman kepada Allah dan hari akhirat. Barangsiapa yang bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar.

Dan memberinya rezki dari arah yang tiada disangka-sangkanya. Dan barangsiapa yang bertawakkal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan) nya. Sesungguhnya Allah melaksanakan urusan (yang dikehendaki)-Nya. Sesungguhnya Allah telah mengadakan ketentuan bagi tiap-tiap sesuatu.

Dari kedua ayat tersebut dapat disimpulkan bahwa Barang siapa yang bertaqwa kepada Allah, niscaya Allah akan memberikan kepada mereka jalan keluar (atas segala persoalan), dan diberi rizki dari tempat yang tidak terduga.

Dan perempuan-perempuan yang tidak haid lagi (monopause) di antara perempuan-perempuanmu jika kamu ragu-ragu (tentang masa iddahnya), maka masa iddah mereka adalah tiga bulan; dan begitu (pula) perempuan-perempuan yang tidak haid. Dan perempuan-perempuan yang hamil, waktu iddah mereka itu ialah sampai mereka melahirkan kandungannya. Dan barang siapa yang bertakwa kepada Allah, niscaya Allah menjadikan baginya kemudahan dalam urusannya.

Maksud dari ayat tersebut ialah Barang siapa yang bertaqwa kepada Allah, niscaya Allah akan menjadikan baginya kemudahan dalam segala urusan.

II. 5 Aplikasi taqwa dalam kehidupan sehari-hari

Taqwa merupakan sikap abstrak yang tertanam dalam hati setiap muslim, yang aplikasinya berhubungan dengan syariat agama dan kehidupan social. Seorang muslim yang bertaqwa pasti selalu berusaha melaksanakan perintahNya dan menjauhi segala larangaNya dalam kehidupan ini.

Didalam kehidupan sehari – hari tentunya sebagai orang yang bertaqwa selalu melakukan segala sesuatunya berdasarkan perintah dan larangan Allah. Salah satu aplikasi taqwa dalam kehidupan, ketika kita menolong sesama, saling berbagi, tidak menyimpan rasa dendam kepada orang yang mungkin pernah mennyakiti, itu salah satu aplikasi taqwa dalam kehidupan sehari – hari. Melakukan segala sesuatunya berdasarkan ajaran yang telah diperintahkan Allah bukan atas dasar adanya motif tertentu, tapi semua semata – mata karena Allah SWT.

 

BAB III

PENUTUP

III.1 Kesimpulan

Taqwa tidak hanya sekedar menjauhkan diri dari segala apa yang menjauhkan diri kita daripada Allah atau sekedar membatasi diri kepada yang halal saja dan bukan sebatas beribadah kepada Allah semata – mata. Taqwa adalah masalah hati yang paling dalam. Taqwa adalah amalan jiwa atau roh. Orang yang bertaqwa, disamping selalu melaksanakan segala apa yang diperintah dan meinggalkan apa yang dilarang Allah SWT, mereka juga memiliki dan tertanam dalam hati sifat-sifat yang jujur, amanah, senantiasa mengharapkan ridho Allah, adil, pemalu, pennuh kasih sayang, pemaaf dan sifat-sifat baik lainnya.

 

DAFTAR PUSTAKA

  1. http://www.google.com/
  2. Bahreisj, salim. Riahus Shalihin. Bandung : PT. Alma’arif

Comments»

1. fadhil Mubaraq - November 16, 2010

Tlg, apakah bisa berbagi info ttg psikologi islami?


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: