jump to navigation

Psikologi Ihsan November 9, 2009

Posted by pengelola in Uncategorized.
trackback

Oleh:Ade Ramdini, Maylani, Maylisa Ayunani

Mahasiswa Fak. Psikologi UHAMKA Jakarta

BAB I

PENDAHULUAN

Pendahuluan

Sifat manusia di zaman sekarang ini kurang sesuai dengan apa yang diperintahkan oleh ajaran agama. Seperti sering meninggalkan sholat, puasa, membayar zakat dan menunaikan ibadah haji bagi yang mampu. Sedangkan dalam ajaran agama hal tersebut merupakan sesuatu yang diwajibkan. Banyak orang yang melupakan sifat-sifat yang seharusnya dimiliki oleh seorang hamba yang taat pada Tuhannya. Seharusnya sifat seorang hamba yang patuh kepada Tuhannya adalah menjalankan perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya. Tetapi pada kenyataannya banyak orang-orang yang masih menjalankan larangan-Nya. Seperti meminum-minuman keras (alkohol), berjudi, dan sifat tercela lainnya.

Ada beberapa tingkatan sifat manusia yaitu yang pertama Mukmin adalah orang yang beriman dan percaya. Kedua Muslim adalah seorang yang sepenuhnya berpasrah kepada Allah, berpasrah dalam hal ini dimaksudkan untuk memperoleh kedamaian di dunia dan diakhirat. Ketiga Muhsin adalah kepribadian yang dapat memperbaiki dan mempercantik individu, baik berhubungan dengan diri sendiri, sesamanya, alam semesta, dan kepada Tuhan yang diniatkan hanya untuk mencari ridha-Nya.

Berikut akan dibahas lebih mendalam salah satu sifat manusia yaitu Muhsin. Yang merupakan cerminan dari sifat-sifat terpuji yang harus dimiliki manusia. Agar bisa di aplikasikan dalam kehidupan sehari-hari.

BAB II

PEMBAHASAN

II. 1. Akar Kata

Muhsin berarti orang yang berbuat ihsan. Kata “ihsan” berasal dari “hasunah” yang berarti baik atau bagus. Seluruh perilaku yang mendatangkan manfaat dan menghindarkan kemudaratan merupakan perilaku ikhsan. Kriteria ihsan yang sesungguhnya berasal dari Allah SWT. Karena itu, hadis Nabi SAW menyebutkan bahwa ihsan bermuara pada peribadatan dan muwajahah.

II. 1. a) Makna Tekstual

    Muhsin adalah manusia yang salalu melakukan perbuatan baik yang di ridhai Allah. Muhsin berarti orang yang berbuat ihsan, sedangkan Ihsan menurut bahasa artinya, mengokohkan, memperbagus dan juga berbuat baik.
    Allah SWT juga menganjurkan kita berperilaku ihsan sebagaimana dalam firman-Nya : “ … dan berbuat ihsanlah, karena Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berbuat ihsan” (Al Baqoroh : 195).

II. 1. b) Makna Kontekstual

    Muhsin adalah orang yang menjalankan perintah Allah dan menjauhi larangan-Nya.
    Yang dimaksud dengan keperibadian muhsin adalah kepribadian yang dapat memperbaiki dan mempercantik individu, baik berhubungan dengan diri sendiri, sesamanya, alam semesta, dan kepada Tuhan yang diniatkan hanya untuk mencari ridha-Nya.

II. 2. Pola Pembentukan Pribadi Muhsin

Keperibadian mukhsin dapat dibentuk dengan dua pola

1. pola umum

yaitu segala perilaku baik yang dapat mempercantik diri manusia yang objeknya tidak terbatas pada subjek tertentu. Pola perilaku ini antara lain adalah, pola perilaku syukur, misalnya dapat ditunjukan dalam memuji karunia-Nya dengan ucapan al-hamdu li Allah dan mempergunakan karunia itu sebagai mana yang diperintah-Nya. Syukur juga dapat di tunjukan kepada sesama manusia dengan ucapan terimakasih.

2. pola khusus

yaitu segala bentuk perilaku baik yang dapat mempercantik diri manusia yang objeknya ditujukan  pada subjek tertentu. Pola perilaku ini antara lain adalah perilaku hormat antara anak dan orang tua, misalnya mencium tangan orang tua jika mau berangkat kekampus.

II. 3. Bentuk-Bentuk dan Aplikasi Muhsin

Bentuk-bentuk keperibadian mukhsin banyak sekali, dalam pembahasan ini hanya diambil 5 macam.

karakter Ta’ib (yang bertaubat)

yaitu karakter yang menyesal (al-nadm) karena melakukan dosa, melepaskan perilaku yang mengandung dosa seketika itu juga dan bertekad bulat (al-‘azam) untuk tidak mengulangi perbuatan dosa tersebut.

Karakter ta’id secara kogitif, ialah membaca istighfar seperti astaghfirullah (aku mohon ampun kepeda Allah). Secara afektif, ia menyesal dan senantiasa menghapus dosa atau kesalahan masa lalu agar tidak diulangi kembali. Secara pisikomotorik, ia takut kepada Alaah dengan cara menjalankan petintah dan menjauhi larangan-Nya.

karakter Mukhlash (yang ikhlas)

yaitu karakter yang murni dan taat yang seluruh perilakunya hanya ditunjukan kepada Allah semata, dengan cara membersihkan perbuatan, baik lahir maupun batin dari perhatian mahluk. Keikhlasan seseorang dapat dilihat sejauh mana ia membersihkan tingkah lakunya dari segala campuran yang mengotori, seperti keinginan hawa nafsu terhadap pujian, sanjungan harta benda,  dan motif-motif lain yang tidak diridhai-Nya. Ikhlas membutuhkan konsistensi antara perbuatan yang ditampakan dengan yang disembunyikan. Jika yang ditampakan lebih baik dari apa yang disembunyikan maka mendekati riya’ (pamer).

Firman Allah AWT. Dalam QS Al-Bayyinah [98]:5: “padahal meraka tidak disuruh kecuali menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama dengan lurus, dan supaya mereka mendirikan shalat dan menunaikan zakat; dan yang demikian itulah agama yang lurus.” Dan QS Al-Zumar [39]:11: Katakanlah: “sesungguhnya aku diperintahkan supaya menyembah Allah dengan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama.”

karakter Shabir (yang sabar)

yaitu menahan (al-habs) diri atau lebih tepatnya mengendalikan diri. Karakter shabir dapat menghindarkan seseorang dari perasaan resah, cemas, marah, dan kekacauan. Karakter shabir juga menuntut sikap yang tenang untuk menghindari maksiat, melaksanakan perintah, menerima cobaan. Fiman Allah Swt. : “hai orang-orang yang beriman, bersabrlah kamu dan kuatkanlah kesabaranmu dan tetaplah bersiap siaga (di perbatasan negrimu) dan bertakwalah kepada Allah supaya kamu beruntung” (QS Ali Imran [3]: 200).

karakter Mutawakki (yang bertawakal)

yaitu karakter yang meyerahkan diri dan apa yang dimiliki dengan sepenuh hati kepada kekuatan (qudrah) dan kehendak (iradah) Allah Swt. Karakter mutawakki juga berarti bersandar dan percaya pada yang lain dalam atau mewakili urusannya, karena ia tidak memiliki kemampuan lagi.. Dalam hal ini, tawakal yang dimaksud adalah mewakilkan atau menyerahkan semua urusan kepada Allah Swt., sebagai zat yang mampu menyelesaikan semua urusan, setelah manusia tidak memilikili lagi daya dan kemampuan untuk menyelesaikanya.

Firman Allah Swt. : “dan barangsiapa yang bertawakal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan) nya.” (Al- Thalaq [65]:3). Sabda Nabi Saw. : “jikalau kalian mau bertawakal kepada Allah dengan sebenar-benar tawakal niscaya Allah memberi kalian rizki sebagaimana Dia memberi rizki kepada burung, pagi harinya ia ( pergi) dalam kondisi perut kosong, tetapi kembali sore hari dalam perut kenyang.” (HR Al-Turmudzi dari Umar bin al-Khattab). Tawakal dilakukan bukan didasarkan atas sikap pasif dan pessimististik, melainkan aktif dan optistik. Tawakal dilakukan setelah berusaha maksimal dalam meraih suatu urusan, tetapi karena keterbatasan manusia, maka usaha itu dihentikan dan diserahkan sepenuhnya kepada Allah.

Karakter mutawakki menghidari individu dari sikap matrealistis, sebab tawakal menuntut individu untuk menggunakan harta benda secukupnya, meskipun batas cukupnya relativ. Tawakal juga menghindari seseorang dari kondisi stress, sebab ia selalu menggntungkan kesuksesan hidupnya kepada Allah.

Karakter Shadiq (yang jujur)

Yaitu kesesuaian antara yang diucapkan dengan kejadian sesungguhnya, kesesuaian antara yang di hati dan yang ditampakkan, dan perkataan yang benar ketika berhadapan pada orang yang ditakuti atau diharapkan. Jujur merupakan terminologi yang digunakan untuk mengungkapkan hakekat sesuatu. Jujur dalam ucapan (al-aqwal) artinya kesesuaian antara yang diucapkan dengan kenyataannya. Jujur dalam perbuatan (al-amal) artinya kesesuaian antara perbuatan dengan perintah atau pedoman yang diikuti. Jujur dalam keadaan (al-ahwal) artinya kesesuaian antara prilaku kalbu dan badan dengan keikhlasan.

Firman allah SWT : “supaya Allah memberikan balasan kepada orang-orang yang benar itu karena kebenarannya, dan menyiksa orang munafik jika dikehendaki-Nya, atau menerima taubat mereka. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS Al-Ahzab [33]:24)

II.4. Batasan

    • Kerelaan seseorang dalam melakukan perbuatan baik tanpa memperhitungkan balasannya.
    • Kesungguhan dalam melakukan sesuatu.
    • Kemampuan sesorang dalam mengendalikan hawa nafsu.
    • Berserah diri.
    • Kesesuaian antara ucapan dan perilaku.

BAB III PENUTUP

III. 1. Kesimpulan

Muhsin  merupakan sifat baik yang harus dimiliki manusia. Karena  muhsin adalah manusia yang salalu melakukan perbuatan baik yang di ridhai Allah. Dalam menjalani kehidupan sehari-hari manusia harus berbuat baik kepada sesama, orang lain, alam semesta, dan kepada Tuhannya. Bentuk pribadi muhsin meliputi Ta’ib (yang bertaubat), Mukhlash (yang ikhlas), Shabir (yang sabar), Mutawakki (yang bertawakal), Shadiq (yang jujur). Sebagai manusia yang beragama bantuk-bentuk pribadi muhsin tersebut harus di aplikasikan sesuai dengan Al-Qura’n dan hadis.

Daftar Pustaka

http://srianisaprahasti.wordpress.com/2008/02/20/ihsan/.com

Dr. Mujib, abdul, Kepribadian Dalam Psikologi Islam, 2006, Jakarta

Comments»

No comments yet — be the first.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: