jump to navigation

Psikologi Muslim November 3, 2009

Posted by pengelola in Uncategorized.
trackback

Oleh:

Raja Jum’at & Muhammad Fadhlan

(Mahasiswa Fak. Psikologi UHAMKA)

 

PENDAHULUAN

Umat manusia dalam rangka menjalankan fungsinya sebagai hamba Allah dan juga khalifah di muka bumi ini, telah dibekali oleh Allah dengan akal, pikiran dan juga fitrah (kecenderungan untuk menyembah kepada Allah SWT). Fitrah adalah potensi yang dibawa dalam diri setiap manusia berupa kecenderungan kepada arah yang positif (baik), agar manusia dapat mengenal hal-hal supranatural (alam ghaib), yang antara lain adalah menyakini dan menyembah Tuhan pencipta alam semesta, Allah SWT, sebagaimana layaknya seorang muslim.

Pada dasarnya fitrah yang ada pada manusia telah ada sebelum manusia terlahir ke dunia ini. Sebelum manusia terlahir ke dunia, Allah SWT telah membuat “transaksi fitri” kepada manusia. Sebagaimana firman-Nya (QS. Al-A`raf : 172) “Dan (ingatlah), ketika Tuhanmu mengeluarkan keturunan anak Adam dari sulbi mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka (seraya berfirman) : “Bukankah Aku ini Tuhanmu ?” mereka menjawab : “Betul (Engkau adalah Tuhan kami), kami menjadi saksi.” (Kami lakukan yang demikian itu) agar di hari kiamat kamu tidak mengatakan : “Sesungguhnya kami (bani Adam) adalah orang-orang yang lengah terhadap ini (keesaan Tuhan).”

Fitrah positif yang dibawa manusia ini pada dasarnya bisa berubah dengan adanya perubahan waktu, keadaan dan lingkungan. Fitrah yang suci ini bisa berubah antara lain karena pengaruh lingkungan terutama dari kedua orang tuanya. Kedua orang tua adalah orang yang paling bertanggung jawab terhadap tetap ada dan tidaknya fitrah ini. Sebagaimana sabda Nabi Muhammad SAW, HR. Bukhari : “Tiada (seorang anakpun) yang dilahirkan kecuali ia dilahirkan dalam keadaan fitrah (suci). Maka kedua orang tuanyalah yang menyebabkan ia menjadi Yahudi, Nasrani atau majusi (penyembah api).”

Hadits di atas jika kita dipahami, maka nampak jelas sekali bahwa tugas kedua orang tua adalah mendidik anak-anaknya agar menjadi seorang muslim, yaitu dengan mengenalkan Allah SWT sebagai Tuhan yang patut untuk disembah. Sebab setiap anak manusia terlahir dengan membawa fitrah, dan para orang tuanyalah yang berkewajiban mempertahankan fitrah tersebut. Dengan harapan, jika kelak anak tersebut tumbuh dewasa akan tetap mengenal dan menyembah Allah Tuhan semesta alam sebagaimana seorang MUSLIM yang taat.

Selain itu, ada juga pendapat dari seorang filsuf di abad 17, yaitu John Locke.  Dalam filosofi Locke, mengenai teori tabula rasa adalah teori bahwa pikiran (manusia) ketika lahir berupa “kertas kosong” tanpa aturan untuk memproses data, dan data yang ditambahkan serta aturan untuk memprosesnya dibentuk hanya oleh pengalaman alat inderanya. Tabula rasa (dari bahasa Latin : kertas kosong) merujuk pada pandangan epistemologi bahwa seorang manusia lahir tanpa isi mental bawaan, dengan kata lain “kosong”, dan seluruh sumber pengetahuan diperoleh sedikit demi sedikit melalui pengalaman dan persepsi alat inderanya terhadap dunia di luar dirinya dan pengalamanlah yang berpengaruh terhadap kepribadian, perilaku sosial dan emosional, serta kecerdasan.

Seperti pendapat seorang filsuf di atas, bahwa seorang anak manusia dilahirkan bagaikan selembar kertas putih bersih tanpa ada coretan (tulisan) maupun warna, hal ini dikarenakan orang tuanyalah yang berperan menentukan coretan-coretan dan warna apa yang akan diberikan pertama kali. Dan ini merupakan warna dasar yang akan menentukan warna apa yang akan diterima / dipilih pada proses pewarnaan selanjutnya. Seperti halnya jika orang tua memeluk agama tertentu, maka bisa dimungkinkan bahwa anaknya akan mengikuti atau sama dengan agama dari orang tuanya tersebut.

Bagi orang tua yang beragama Islam (muslim), akan meng-“Islam”-kan anaknya, dengan cara meng-adzan-kannya pada saat anaknya baru dilahirkan, dengan akekah (aqiqah), dan juga dengan cara diajarkan pemahaman dan mengetahuan mengenai ajaran Islam sepenuhnya, Sehingga diharapkan anaknya akan menjadi seorang muslim yang taat, yang sesuai dengan ajaran Al Qur’an dan Hadits Nabi Muhammad SAW.

AKAR KATA “MUSLIM (ملسم)”

Sebelum kami membahas akar kata dari kata “muslim” (kata sifat), agar dapat lebih mudah dipahami kami akan terlebih dahulu membahas akar kata dari kata “islam”, hal ini dikarenakan kata “muslim” dan kata “islam” berasal dari akar kata yang sama, yaitu salima-yaslamu yang berarti selamat, sejahtera, damai; atau aslama yang berarti tunduk patuh. Dari kata salima lahir pula kata salaam (selamat sejahtera) salaam atau sallama yang artinya memberi salam atau menyelamatkan. Islam mengandung juga pengertian: islamul wajh (ikhlas menyerahkan diri kepada Allah), istislama (tunduk secara total kepada Allah), salaamah atau saliim (fitrah / suci dan bersih), dan silm (tenan dan damai).

Islam dalam bahasa Arab: al-islām, الإسلام artinya “berserah diri kepada Tuhan“, islam adalah agama yang mengimani dan meyakini satu Tuhan, yaitu Allah SWT. Sehingga, dapat diambil kesimpulan bahwa kata Muslim (bahasa arab:ملسم) dalam arti sebenarnya adalah “makhluk yang berserah diri (kepada Allah)”, Muslim secara harfiah berarti manusia yang pasrah atau berserah, seseorang yang sepenuhnya pasrah kepada Allah, Kepasrahan merupakan definisi utama berkenaan dengan etimologi kata Islam; ada juga definisi sekunder, yaitu kedamaian.

MAKNA TEKSTUAL

Muslim adalah manusia yang telah berpasrah diri, dalam hal ini berpasrah kepada Allah, untuk memperoleh kedamaian di dunia dan di akhirat. Muslim bisa pula merujuk kepada: Penganut agama Islam, sehingga, seorang muslim adalah seseorang yang menganut agama islam dan berserah diri kepada Allah SWT. Kata muslimin biasanya diperuntukkan bagi pria dan muslimah bagi wanita.

Al Qur’an menyatakan bahwa mereka orang-orang yang hanya berserah diri dan menyerahkan dirinya kepada Allah SWT adalah Muslim :

“Siapakah yang lebih baik perkataannya daripada orang yang menyeru kepada Allah, mengerjakan amal yang saleh dan berkata: “Sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang berserah diri.” (QS.Fushilat:33).

“Ibrahim bukan seorang Yahudi dan bukan (pula) seorang Nasrani, akan tetapi dia adalah seorang yang lurus lagi berserah diri (kepada Allah) dan sekali-kali bukanlah dia termasuk golongan orang-orang musyrik.” (QS. Ali Imran:67).

MAKNA KONTEKSTUAL

Seorang muslim adalah orang yang dalam setiap persoalan selalu merujuk kepada Allah dan kata-kata rasul-Nya untuk mengetahui apa yang harus dilakukan dan apa yang tidak boleh dilakukan. Seorang muslim adalah orang yang mau menerima tanpa ragu apa saja petunjuk yang di terima dari Allah dan Rasul-Nya, dan menolak apa saja yang bertentangan dengan petunjuk Allah dan Rasul-Nya, karena seorang muslim telah percaya sepenuhnya kepada Allah. Dan, tindakan mempercayakan dirinya sepenuhnya kepada Allah inilah yang menjadikan seseorang itu dapat disebut seorang muslim.

Allah SWT berfirman :

“Katakanlah, ‘Sesungguhnya shalatku, ibadahku, hidupku dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan semesta alam…” (Al-An’am: 162-163).

Seorang muslim diwajibkan mempunyai aqidah yang benar, memiliki dan mengerti konsep ketuhanan yang benar sesuai dengan Al-Qur’an dan Sunnah, meyakini bahwa tidak ada Tuhan yang patut di sembah selain Allah dan tidak menyekutukan-Nya. Ini adalah pondasi utama sebagai seorang Muslim, karena ini merupakan dasar dan inti dari ajaran Islam. Setelah memiliki aqidah yang benar maka seorang muslim harus menjalankan ibadah-ibadahnya dengan benar.

10 Ciri Khas Pribadi Muslim

    Your browser may not support display of this image. 1.  Salimul Aqidah (Aqidah yang bersih). Salimul aqidah merupakan sesuatu yang harus ada pada setiap muslim. Dengan aqidah yang bersih, seorang muslim akan memiliki ikatan yang kuat kepada Allah SWT. Dengan ikatan yang kuat itu dia tidak akan menyimpang dari jalan dan ketentuan-ketentuanNya.
    2. Shahihul Ibadah (ibadah yang benar). Shahihul ibadah merupakan salah satu perintah Rasulullah SAW yang penting. Dalam satu haditsnya, beliau bersabda: “Shalatlah kamu sebagaimana melihat aku shalat”. Dari ungkapan ini maka dapat disimpulkan bahwa dalam melaksanakan setiap peribadatan haruslah merujuk kepada sunnah Rasul SAW yang berarti tidak boleh ada unsur penambahan atau pengurangan.
    3.  Matinul Khuluq (akhlak yang kokoh). Matinul khuluq merupakan sikap dan perilaku yang harus dimiliki oleh setiap muslim, baik dalam hubungannya kepada Allah SWT maupun dengan makhluk-makhlukNya. Dengan akhlak yang mulia, manusia akan bahagia dalam hidupnya, baik di dunia apalagi di akhirat.
    4. Qowiyyul Jismi (kekuatan jasmani). Qowiyyul jismi merupakan salah satu sisi pribadi muslim yang harus ada. Kekuatan jasmani berarti seorang muslim memiliki daya tahan tubuh sehingga dapat melaksanakan ajaran Islam secara optimal dengan fisiknya yang kuat. Shalat, puasa, zakat dan haji merupakan amalan di dalam Islam yang harus dilaksanakan dengan fisik yang sehat dan kuat.
    5.  Mutsaqqoful Fikri (intelek dalam berfikir). Mutsaqqoful fikri merupakan salah satu sisi pribadi muslim yang juga penting. Karena itu salah satu sifat Rasul adalah fatonah (cerdas).
    6. Mujahadatul Linafsihi (berjuang melawan hawa nafsu). Mujahadatul linafsihi merupakan salah satu kepribadian yang harus ada pada diri seorang muslim karena setiap manusia memiliki kecenderungan pada yang baik dan yang buruk. Melaksanakan kecenderungan pada yang baik dan menghindari yang buruk amat menuntut adanya kesungguhan.
    7. Harishun Ala Waqtihi (pandai menjaga waktu). Harishun ala waqtihi merupakan faktor penting bagi manusia. Hal ini karena waktu mendapat perhatian yang begitu besar dari Allah dan Rasul-Nya. Allah SWT banyak bersumpah di dalam Al Qur’an dengan menyebut nama waktu seperti wal fajri, wad dhuha, wal asri, wallaili dan seterusnya.
    8. Munazhzhamun fi Syuunihi (teratur dalam suatu urusan). Munazhzhaman fi syuunihi termasuk kepribadian seorang muslim yang ditekankan oleh Al Qur’an maupun sunnah. Oleh karena itu dalam hukum Islam, baik yang terkait dengan masalah ubudiyah maupun muamalah harus diselesaikan dan dilaksanakan dengan baik. Ketika suatu urusan ditangani secara bersama-sama, maka diharuskan dengan cara yang baik.
    9.  Qodirun Alal Kasbi (memiliki kemampuan usaha sendiri/mandiri). Qodirun alal kasbi merupakan ciri lain yang harus ada pada diri seorang muslim. Ini merupakan sesuatu yang amat diperlukan.
    Mempertahankan kebenaran dan berjuang menegakkannya baru bisa dilaksanakan manakala seseorang memiliki kemandirian terutama dari segi ekonomi. Tak sedikit seseorang mengorbankan prinsip yang telah dianutnya karena tidak memiliki kemandirian dari segi ekonomi.
    10.Nafi’un Lighoirihi (bermanfaat bagi orang lain). Nafi’un lighoirihi merupakan sebuah tuntutan kepada setiap muslim. Manfaat yang dimaksud tentu saja manfaat yang baik sehingga dimanapun dia berada, orang disekitarnya merasakan keberadaan. Jangan sampai keberadaan seorang muslim tidak menggenapkan dan ketiadaannya tidak mengganjilkan.

Sabda Nabi Muhammad SAW :

Dari Abdullah ibnu Umar R.A. Bahwa Rasulullah SAW bersabda: “Inna minasy-syajari syajarotun laa yasquthu waroquha, wa hiya matsalul muslim”; “Sesungguhnya dari berbagai macam pohon, ada satu pohon yang tak satupun dedaunannya jatuh dari dahannya, dan itulah perumpamaan dari seorang muslim”. ”Faqaaluu yaa Rasulullah, akhbirnaa bihaa”. “Mereka (para sahabat berkata), kabarkan pada kami tentang pohon itu wahai Rasul”. Faqaala rasulullah s.a.w:”hiya an-nakhlah”; Rasulullah menjawab: “adalah pohon kurma”. (HR.Bukhari dan Muslim).

Betapa banyak kemiripan yang kita dapati antara pohon kurma dan seorang muslim, diantara berbagai kesatuan sifat yang dimiliki keduanya adalah:

  1. Bahwa segala sesuatu yang ada pada sebatang pohon kurma mendatangkan manfaat, buahnya bermanfaat, dahannya bermanfaat, daunnya yang mekar meluas pun bermanfaat, akar dan batangnya berguna, biji yang terkandung dalam buahnya memberikan mafaat. Dan demikianlah selayaknya seorang muslim, memberi manfaat bukan mendatangkan mara bahaya, mempersatukan bukan memecah belah, menciptakan maslahat bukan merusak, semangat membangun bukan meleburkan, memakmurkan bukan menghancurkan, tidaklah berbicara kecuali hal-hal yang berfaedah.
  2. Pohon kurma memberikan manfaat, baik ketika hidup maupun setelah ditebang. Saat hidup, dengan mengkonsumsi buahnya dapat menambah kekuatan tubuh dan mencegah berbagai penyakit. Daunnya kerap menjadi pelapis atap rumah mencegah kebocoran disaat hujan dan panas terik disaat kemarau panjang. Kerindangannya memberikan keteduhan disaat beristirahat dibawahnya. Setelah ditebang, batang dan akarnya dapat memperkokoh berbagai bangunan rumah dan mesjid. Demikianlah seyogyanya kepribadian seorang muslim, dirinya dapat memberikan manfaat untuk yang lainnya, sehingga akan menjadi kebaikan dan berkah disaat hidup dan setelah matinya, tidak hanya untuk dirinya, namun juga untuk keluarga dan umatnya.
  3. Pohon kurma, sedikit mengambil namun banyak memberi. Dia tidak membebani pemiliknya kecuali sedikit bantuan saja pada awal mula pertumbuhannya, kemudian setelah itu dia akan tumbuh dan berkembang biak dengan sendirinya. Tidak lama kemudian menghasilkan buah kurma yang berlimpah ruah, mengandung kekayaan gizi yang tinggi dan manfaat yang luar biasa.
  4. Pohon kurma melambangkan kekokohan dan kelurusan. Tersimpan dalamnya kekuatan dan soliditas. Buahnya bermanfaat bagi manusia. Durinya menjadi perisai, melumpuhkan lawan. Demikianlah seharusnya hakikat pribadi seorang muslim; kuat memegang prinsip beragama, tetap menjaga teguhnya aqidah dan keyakinannya, selalu menjadi insan yang bersyukur dikala dianugerahi nikmat, dan sabar disaat tertimpa musibah, senantiasa mengikuti jalan yang lurus dalam keadaan apapun, selalu jujur dan tegas dalam setiap perkataan dan perbuatannya. Sisi batinnya lebih baik dari lahirnya.

Inilah diantara wujud nyata dari kemiripan “karakter” antara pohon kurma dan jiwa seorang muslim, meski secara dzahirnya berbeda, namun tersirat keselarasan maknawi diantara keduanya.

BATASAN

Rukun Islam

Islam memberikan berbagai macam amalan keagamaan bagi seluruh umatnya. Namun, seseorang belum bisa dikatakan muslim apabila belum melafazkan kalimat shahadat dengan penuh keyakinan, serta menjalankan rukun islam dan rukun Iman yang menjadi syarat wajib untuk menjadi seorang muslim. Ada pun rukun Islam terdiri dari 5 perkara, barang siapa yang tidak mengerjakannya maka Islamnya tidak benar karena rukunnya tidak sempurna.

Seperti tersebut dalam Rukun Islam dibawah ini :

Isi dari kelima Rukun Islam itu adalah:

  1. Mengucapkan dua kalimah syahadat
  2. Mendirikan shalat lima waktu
  3. Berpuasa di bulan Ramadhan
  4. Membayar zakat
  5. Menunaikan ibadah haji bila mampu

Rukun Islam pertama yaitu bersaksi bahwa tidak ada Tuhan selain Allah dan Muhammad adalah utusan Allah. “Asyhaadu alla ilaaha illallaahu wa asyhaadu anna muhammadar rasuulullaah”. Artinya kita meyakini hanya Allah Tuhan yang wajib kita patuhi perintah dan larangannya. Jika ada perintah dan larangan dari selain Allah, misalnya manusia, yang bertentangan dengan perintah dan larangan Allah, maka Allah yang harus kita patuhi. Ada pun Muhammad adalah utusan Allah yang menjelaskan ajaran Islam. Untuk mengetahui ajaran Islam yang benar, kita berkewajiban mempelajari dan mengikuti ajaran Nabi Muhammad. Konsekwensi dari 2 kalimat syahadat adalah kita harus mempelajari dan memahami Al Qur’an dan Hadits.

Rukun Islam kedua adalah shalat 5 waktu, yaitu: Subuh 2 rakaat, Dzuhur dan Ashar 4 raka’at, Maghrib 3 rakaat, dan Isya 4 raka’at. Shalat adalah tiang agama, barang siapa meninggalkannya berarti merusak agamanya.

Rukun Islam ketiga adalah puasa di Bulan Ramadhan. Yaitu menahan diri dari makan, minum, hubungan seks, bertengkar, marah, dan segala perbuatan negatif lainnya dari subuh hingga maghrib.

Rukun Islam keempat adalah membayar zakat bagi para muzakki (orang yang wajib pajak/mampu). Ada pun orang yang mustahiq (berhak menerima zakat seperti fakir, miskin, amil, mualaf, orang budak, berhutang, Sabilillah, dan ibnu Sabil) berhak menerima zakat. Zakat merupakan hak orang miskin agar harta tidak hanya beredar di antara orang kaya saja.

Rukun Islam yang kelima adalah berhaji ke Mekkah jika mampu. Mampu di sini dalam arti mampu secara fisik dan juga secara keuangan. Sebelum berhaji, hutang yang jatuh tempo harus dibayar dan keluarga yang ditinggalkan harus diberi bekal yang cukup.

Dalil yang berkaitan dengan rukun islam ini diantaranya:

  1. Hadits yang diriwayatkan oleh Ibnu Umar : Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Islam dibangun di atas 5 rukun, yaitu : Syahadat bahwa tiada illah selain Allah dan Muhammad adalah rosul Allah, Mendirikan shalat, Membayar zakat, Puasa ramadhan, dan Barhaji ke Baitullah.”
  2. Sabda Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam dalam hadits yang diriwayatkan dari Amirul Mukminin Umar bin Khathab, ketika Jibril datang dan bertanya tentang Islam kemudian beliau menjawab: “Islam adalah Bersyahadat bahwa tiada illah selain Allah dan Muhammad adalah rosul Allah, mendirikan shalat, membayar zakat, berpuasa ramadhan, berhaji jika mampu dalam perjalanannya.”
  3. “Dia (Allah) telah menamai kamu sekalian orang-orang muslim dari dahulu, dan (begitu pula) dalam (Al Quran) ini, supaya Rasul itu menjadi saksi atas dirimu dan supaya kamu semua menjadi saksi atas segenap manusia, maka dirikanlah shalat, tunaikanlah zakat dan berpeganglah kamu pada tali Allah. Dia adalah Pelindungmu, maka Dialah sebaik-baik Pelindung dan sebaik- baik Penolong.” (Q.S. Al Hajj 22:78).

APLIKASINYA

Mencintai Allah dan RasulNya di Atas yang Lainnya

Seorang Muslim wajib mencintai Allah dan Rasul-Nya lebih daripada yang lain termasuk bapak, anak, istri, saudara, kekayaan.

“Katakanlah Jika bapak-bapak, anak-anak, saudara-saudara, istri-istri, kaum keluargamu, harta kekayaan yang kamu usahakan, perniagaan yang kamu khawatiri kerugiannya, dan tempat tinggal yang kamu sukai, adalah lebih kamu cintai dari Allah dan Rasul-Nya dan dari berjihad di jalan-Nya, maka tunggulah sampai Allah mendatangkan keputusan-Nya.” (QS At Taubah: 24).

Allah telah memberikan kita hidup, tubuh, air, udara, jagad raya sehingga kita bisa hidup seperti sekarang ini. Tak dapat kita menghitung nikmat yang telah diberikan Allah kepada kita.

“Dan Dia telah memberikan kepadamu keperluanmu dan segala apa yang kamu mohon kepadaNya. Dan jika kamu menghitung nikmat Allah, tidaklah dapat kamu menghitungnya. Sesungguhnya manusia itu, sangat zalim dan sangat mengingkari (nikmat Allah).” [Ibrahim:34].

Oleh karena itu sepatutnya kita mencintai Allah dan RasulNya lebih dari yang lain. Jika kita mencintai Allah, niscaya kita selalu bahagia karena Allah selalu bersama kita.

Ikhlas Untuk Allah Ta’ala

Setiap shalat kita membaca Doa Iftitah, yang artinya: “Sesungguhnya shalatku, ibadahku, hidupku, dan matiku, hanya untuk Allah semesta alam.”

Kita hidup bukan untuk mencari ketenangan atau pun kesenangan di dunia. Tapi untuk ikhlas mengabdi kepada Allah yang telah memberikan segalanya bagi kita, walaupun nantinya kita akan merasakan pahitnya cobaan yang ada. Tak jarang dalam mengabdi kepada Allah untuk menegakkan amar ma’ruf nahi munkar dan melakukan syiar Islam Nabi mendapat tentangan yang hebat.

“Apakah kamu mengira bahwa kamu akan masuk surga, padahal belum datang kepadamu cobaan sebagaimana halnya orang-orang terdahulu sebelum kamu? Mereka ditimpa oleh malapetaka dan kesengsaraan, serta digoncangkan dengan bermacam cobaan sehingga berkatalah Rasul dan orang-orang yang beriman bersamanya: “Bilakah datang pertolongan Allah?” Ingatlah, sesungguhnya pertolongan Allah itu amat dekat.” [Al Baqarah:214].

Sikap ikhlas untuk Allah semata dalam beribadah dan berbuat kebaikan akan membuat jiwa kita tenang dan mendapat kenikmatan surga di akhirat nanti.

“Hai jiwa yang tenang, Kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang puas lagi diridhai-Nya. Maka masuklah ke dalam jama’ah hamba-hamba-Ku, masuklah ke dalam surga-Ku.” [Al Fajr:27-30].

Sabar Menghadapi Cobaan

Seorang Muslim senantiasa bersabar terhadap berbagai cobaan yang mereka terima, karena mereka memiliki keyakinan bahwa ada hikmah dari setiap cobaan yang dilaluinya, dan mereka yakin karena akan datangnya pertolongan Allah.

“Dan sesungguhnya telah didustakan pula rasul-rasul sebelum kamu, akan tetapi mereka sabar terhadap pendustaan dan penganiayaan (yang dilakukan) terhadap mereka, sampai datang pertolongan Allah kepada mereka…” [Al An’aam:34].

“Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar. Yaitu orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan: “Inna lillaahi wa innaa ilaihi raaji’uun “ [Al Baqarah:155-156].

Orang yang beriman menjadikan sabar dan shalat kepada Allah sebagai penolong mereka, dan orang yang tidak sabar hanya akan merasakan kemarahan, keputus-asaan, dan kesedihan. Belum lagi azab dari Allah yang azabnya begitu pedih.

“Hai orang-orang yang beriman, jadikanlah sabar dan shalat sebagai penolongmu, sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar.” [Al Baqarah:153].

Selalu Bersyukur kepada Allah

Setiap muslim juga harus senantiasa bersyukur atas segala nikmat Allah yang telah diberikan kepada kita, seperti pendengaran, penglihatan, hati, dan juga pengetahuan.

“Dan Allah mengeluarkan kamu dari perut ibumu dalam keadaan tidak mengetahui sesuatupun, dan Dia memberi kamu pendengaran, penglihatan dan hati, agar kamu bersyukur. “ [An Nahl:78].

Luqman seorang yang diberi Allah kebijaksanaan menasehati anaknya untuk senantiasa bersyukur kepada Allah.

“Dan sesungguhnya telah Kami berikan hikmat kepada Luqman, yaitu: “Bersyukurlah kepada Allah. Dan barangsiapa yang bersyukur (kepada Allah), maka sesungguhnya ia bersyukur untuk dirinya sendiri; dan barangsiapa yang tidak bersyukur, maka sesungguhnya Allah Maha Kaya lagi Maha Terpuji.” [Luqman:12].

“Dan (ingatlah juga), tatkala Tuhanmu memaklumkan; “Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih.” [Ibrahim:7].

Sebagai tanda syukur kita kepada Allah SWT banyak yang bisa kerjakan mulai dari mengerjakan perintahnya hingga menjauhi larangannya. Dengan sering beribadah kepada Allah, shalat, puasa, zakat, dan bersedekah kepada fakir miskin dan menyantuni anak yatim itu merupakan satu bentuk syukur kepada Allah.

Bertawakal dan Berserah Diri Kepada Allah

Tawakal adalah kesungguhan hati dalam bersandar kepada Allah untuk mendapatkan kemaslahatan serta mencegah bahaya, baik menyangkut urusan dunia maupun akhirat.

Allah SWT berfirman :

”Dan barangsiapa bertaqwa kepada Allah, niscaya Dia akan jadikan baginya jalan keluar dan memberi rizqi dari arah yang tiada ia sangka-sangka, dan barangsiapa bertawakal kepada Allah, maka Dia itu cukup baginya.” (Ath Tholaq: 2-3).

Ummat Islam selain harus berikhtiar dan berdoa juga harus bertawakkal dan berserah diri kepada Allah :

“Mengapa kami tidak akan bertawakkal kepada Allah padahal Dia telah menunjukkan jalan kepada kami, dan kami sungguh-sungguh akan bersabar terhadap gangguan-gangguan yang kamu lakukan kepada kami. Dan hanya kepada Allah saja orang-orang yang bertawakkal itu berserah diri.” [Ibrahim:12].

“Diwajibkan atas kamu berperang, padahal berperang itu adalah sesuatu yang kamu benci. Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui.” [Al Baqarah:216].

Kita harus yakin bahwa apa pun hasilnya, itulah yang terbaik bagi kita. Kadang yang kita benci boleh jadi sebetulnya amat baik bagi kita. Begitu pula sebaliknya. Allah Maha Tahu. Allah tahu yang terbaik bagi kita karena Dia adalah Pencipta Segalanya. Sementara manusia adalah makhluk yang tidak mengetahui meski sering sok tahu. Kita harus sadar bahwa Allah yang menciptakan Alam Semesta itu Maha Tahu. Sementara manusia yang tidak mampu menciptakan seekor lalat pun adalah makhluk yang tidak mengetahui kecuali secuil ilmu yang telah diberikan Allah kepada mereka.

Rendah Hati

Seorang Muslim selalu rendah hati (tawadhu). Rendah hati merupakan perpaduan hati, ucapan dan perbuatan dalam upaya mendekatkan / mengakrabkan, melunakkan keangkuhan, menumbuhkan kepercayaan, membawa keharmonisan dan mengikis kekakuan. Ciri manusia rendah hati lainya adalah senantiasa berani mengakui kesalahan dan meminta maaf jika melakukan kesalahan atau menyinggung perasaan orang lain. Rendah hati pada hakekatnya bermakna kesadaran akan keterbatasan kemampuan diri, jauh dari kesempurnaan dan terhindar dari setiap bentuk keangkuhan.

“Dan hamba-hamba Tuhan yang Maha Penyayang itu (ialah) orang-orang yang berjalan di atas bumi dengan rendah hati dan apabila orang-orang jahil menyapa mereka, mereka mengucapkan kata-kata (yang mengandung) keselamatan.” [Al Furqon:63].

Satu sifat yang paling dibenci oleh Allah SWT adalah sombong (takabur). Sombong adalah menganggap dirinya besar dan memandang orang lain hina / rendah. Sifat sombong selalu beranjak dari assumsi bahwa dirinya memiliki kelebihan, keistimewaan, keunggulan dan kemuliaan dari yang lainnya. Allah membenci makhluk-Nya yang bersifat sombong. Kesombongan adalah sifat mutlak Allah yang tidak dibenarkan untuk dimiliki oleh selain-Nya. Manusia yang menyombongkan diri berarti telah merampas sifat Allah, karena telah berusaha menyamai Allah yang Maha Kuasa :

Dari Ibnu Umar ra bahwa Rasulullah SAW bersabda: “Barangsiapa menganggap besar dirinya dan bersikap sombong dalam berjalan, ia akan menemui Allah dalam keadaan amat marah kepadanya.” (HR. Hakim).

Qana’ah dan Sederhana

Meski Allah memerintahkan manusia untuk berusaha dan mencari kurnia Allah, namun Allah memerintahkan manusia untuk tidak menumpuk harta dan bermegah-megahan. Sebaliknya menggunakan hartanya di jalan Allah dengan membayar zakat, sedekah, membantu fakir miskin dan anak yatim serta kerabat.

“Maka berikanlah kepada kerabat yang terdekat akan haknya, demikian (pula) kepada fakir miskin dan orang-orang yang dalam perjalanan. Itulah yang lebih baik bagi orang-orang yang mencari keridhaan Allah; dan mereka itulah orang-orang beruntung.” [Ar Ruum:38].

PENUTUP


Sang Khaliq yang telah menyediakan apa-apa yang menunjang kemaslahatan kehidupan seorang Muslim, Dia pula yang menetapkan syariat agama bagi mereka dan menjaga kelangsungannya. Allah selalu menjaga Islam, karena Islam itulah tujuan dari diciptakannya dunia bagi manusia, lalu mereka diberi kewajiban untuk beribadah dan menguatkan tauhid.


Allah SWT berfirman :

”Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan agar mereka beribadah kepada-Ku”. [QS. Az-Zariyat : 56].

“Wahai kaumku, sembahlah Allah, sekali-kali tidak ada Illah selain daripada-Nya.”

[QS. Al-A’raaf : 59].

Ini merupakan tujuan hidup yang paling tinggi, yang untuk itulah kita menghabiskan umur sambil mengusahakannya di tengah kehidupan manusia dan menguatkannya diantara kita.

Tujuan hidup adalah melaksanakan suatu kewajiban-kewajiban. Adapun harta, kekuasaan dan keluarga yang kita miliki merupakan sarana untuk mendukung pelaksanaan kewajiban-kewajiban itu. Seorang muslim sejati, seluruh tujuan dan kehendaknya akan mengikuti dan ditentukan oleh tujuan-tujuan serta kehendak-kehendak Allah, bukan mengikuti hawa-hawa nafsu, kehendak-kehendak, perintah-perintah dan larangan-larangan Allah.

Karena perumpamaan kehidupan ini adalah seorang musafir yang berjalan di gurun yang luas kemudian bernaung di bawah sebatang pohon, yang sejenak kemudian pergi dan meninggalkan pohon itu.

“Dan tiadalah kehidupan dunia ini melainkan senda gurau dan main-main. Dan sesungguhnya akhirat itulah yang sebenarnya kehidupan, kalau mereka mengetahui” (QS. Al-Ankabut : 64).

Maka dari itu, seorang Muslim seharusnya mengetahui bahwa puncak tujuan dan sasaran yang dilakukan orang Muslim yang diwujudkan pada dirinya dan di antara manusia ialah ibadah kepada Allah semata.

Setelah memiliki Aqidah yang benar dan selamat dari berbagai hal yang mengotori aqidah dan juga benar dalam ibadah-ibadahnya, maka seorang muslim harus juga memiliki Akhlaq yang kokoh yang menjadi bagian dari jati dirinya. Begitu pentingnya kekokohan akhlaq bagi jati diri seorang muslim sampai-sampai Rasulullah pun di utus untuk menyempurnakan akhlak manusia, sebagaimana Sabdanya Nabi Muhammad SAW : “sesungguhnya aku di utus untuk menyempurnakan Akhlaq” [hadist]. Ahklaq yang kokoh tentu saja akhlaq-akhlaq yang agung dan mulia sebagaimana dicontohkan oleh Rasulullah, karena Rasulullah adalah orang yang paling mulia Akhlaqnya, sehingga beliau Rasulullah telah mendapat predikat sebagai pemilik Ahlak yang agung “Dan sesungguhnya kamu benar-benar memiliki akhlak yang agung”. (QS. 68 : 4).

Memiliki fisik dan jasmani yang kuat adalah juga merupakan satu hal yang tidak bisa dipisahkan dari jati diri seorang muslim, Qowiyyul Jismi / kekuatan jasmani dimaksudkan bahwa seorang muslim harus memiliki jasmani yang sehat dan tangguh, kuat, tidak sakit-sakitan, sehingga dengan kesehatannya itu akan bisa maksimal di dalam menjalankan ibadah-ibadah dan aktifitas.  Hampir semua ibadah-ibadah baik yang ibadah mahdoh maupun ghoiru mahdoh membutuhkan fisik yang kuat, dari sholat, puasa, zakat dan haji memerlukan fisik yang tangguh, Terlebih-lebih ibadah Jihad, memerlukan fisik yang tangguh.

Demi menjaga agar jasmani sehat ini juga kita tentunya tidak boleh lepas dari kebiasaan hidup yang baik dan teratur, Begitu pentingnya kekuatan jasmani dalam agama ini, sehingga Rasulullah mengatakan dalam salah satu sabdanya yang berarti “Mukmin yang kuat lebih aku cintai daripada mukmin yang lemah (HR. Muslim)”.


Selain itu, seorang muslim haruslah memiliki wawasan yang luas, pengetahuan yang mendalam, memiliki pemikiran yang terbuka dan maju, Begitu terpujinya intelektual dalam agama Islam ini. Bahkan, begitu tingginya nilai sebuah ilmu / pengetahuan / intelektualitas, sampai-sampai ayat yang bertama sekali turun adalah Iqra [bacalah !], perintah membaca yang merupakan kunci dari segala pengetahuan adalah ayat yang pertama sekali turun dalam agama ini.

Simaklah ayat berikut ini, bagaimana keutamaan orang yang berilmu :

Katakanlah: “samakah orang yang mengetahui dengan orang yang tidak mengetahui?, sesungguhnya orang-orang yang berakallah yang dapat menerima pelajaran”.

(QS. 39 : 9).

Seorang muslim yang taat, akan selalu menginstospeksi dirinya, meningkatkan amal ibadahnya setiap hari, secara berkesinambungan. Ia selalu berfikir amal apa yang kurang ia perhatikan, dan dosa apa yang harus ditinggalkan secepatnya, Ia selalu mengingat kematian dan selalu mempersiapkan diri untuk menghadapi kematian itu. Ia selalu berdzikir dan berdoa. Ia ingin hidupnya bahagia dan mulia dengan kebaikan. Ia ingin hidupnya bermanfaat untuk orang banyak. Ia senantiasa berorentasi pada ridha rahmat, berkah magfirah dan taufiq Allah swt. Ia berjuang mengamalkan amanah Allah swt.

Katakanlah : ”sesungguhnya shalatku, ibadahku, hidupku dan matiku hanyalah untuk Allah, tuhan semesta alam. Tiada sekutu bagi-Nya; dan demikina itulah yang diperintahkan kepadaku dan aku adalah orang yang pertama-tama menyerahkan diri (kepada Allah)”. (QS. Al-An’am : 162-163).

Itulah gambaran singkat karakter kepribadian orang-orang muslim yang taat. Sebaliknya ada juga pribadi muslim yang kurang taat dan kurang menghayati keislamannnya. Ia tidak berfikir tentang peningkatan amal ibadahnya. Ia kurang termotisivasi untuk menambah amal salehnya. Ia terbiasa menyia-nyiakan waktu dan kesempatannya untuk beribadah dan berbuat baik. Ia tidak merasa butuh untuk merenungkan dosa dan kesalahnya. Ia kurang mengingat mati. Ia telah merasa cukup dengan ibadah-ibadahnya yang telah lalu. Ia merasa amal ibadahnya telah memungkinkannya untuk masuk surga. Ia menikmati dosa, ia pecinta dosa, ia banyak lalai, ia kurang berzikir, ia kurang berdo’a dan kurang mengamalkan sunnah baik itu shalat sunnah, puasa sunnah, berinfak dan bersedakah. Itulah potret sederhana muslim yang kurang taat.

Mengapa ada muslim yang kurang taat?, Salah satu jawabannya adalah karena ia belum memahami tujuan hidupnya yang sebenarnya, yaitu untuk mengabdi kepada Allah.


”Dan aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan untuk menyembah kepada-Ku” (QS. Adz-Dzariyat : 56).

Ibadah kepada Allah swt. Semata bertujuan untuk mendapatkan rahmat dan ridho-Nya. Seorang muslim yang kurang taat, sesungguhnya belum mengetahui betul peranan kasih sayang Allah dalam kehidupan kesehariannya, peranan bantuan Allah dalam setiap aktivitas hidup kita. Dengan ampunan dari Allah, maka kita akan mendapatkan kebahagiaan yang sejati dan kemuliaan yang hakiki.

Seorang muslim yang kurang taat, pemikirannya cenderung kepada materi, pragmatis dan duniawi saja. Inilah yang menjadi sebab mengapa ia tidak takut dengan dosa, ia senang dengan dosa, malahan ia menikmati dosa itu. Tidak ada rasa penyesalannya, ketika ia berbuat dosa, tidak mengherankan jika ia malas ke masjid. Tidak mengherankan jika ia malas membaca Al-Qur’an. Tidak mengherankan jika ia rutin tidur ketika mendengar khotbah. Bahkan mereka bangga dengan itu semua. Mengapa?, Karena motivasinya rendah. Keyakinannya lemah. Ia kurang percaya kalau ketaatan dan kematuhan itu memberi pengaruh positif yang besar dalam kehidupannya. Dia kurang yakin kalau membaca Al-Qur’an akan membuatnya bahagia. Padahal dengan membaca Al-Qur’an, Allah akan memberikan berbagai macam kemudahan dalam hidup kita.

DAFTAR PUSTAKA

  1. http://www.nyantri.cybermq.com/post/detail/6036/muslim-sejati-ibarat-pohon-kurma
  2. http://www.dakwatuna.com/2007/arti-nama-islam
  3. http://id.wikipedia.org/wiki/Islam
  4. http://syiarislam.wordpress.com/2008/09/15/pokok-ajaran-islam-iman-islam-dan-ihsan/
  5. http://blog.sikathabis.com/?page_id=431
  6. http://silaturahmikita.wordpress.com/2009/08/21/silaturahmi-muslim/
  7. http://www.zulfi19.cybermq.com/post/detail/5510/muslim-mukmin-muttaqin-bagian-2
  8. http://id.islam.wikia.com/wiki/Muslim,_mukmin,_muhajir,_dan_mujahid#cite_note-4
  9. http://cahyaislam.wordpress.com/2009/05/08/muslim-mukmin-muttaqin/
  10. http://media-islam.or.id/2009/04/16/sikap-seorang-muslim/
  11. http://makassarmuslim.blogspot.com/2007/03/muslim-yang-taat-dan-muslim-yang-kurang.html
  12. http://gus.yehia.org/jati-diri-seorang-muslim-2.html
  13. http://gus.yehia.org/jati-diri-seorang-muslim-3.html
  14. http://s3nn4.multiply.com/journal/item/362/Tujuan_Hidup_Seorang_Muslim

Comments»

1. zacky4style - November 3, 2009

subhanallah, walhamdulillah

2. zacky4style - November 3, 2009

berkunjunglah ke sitelink di berandaku, beri komentar di postnya. posting baik ini sangat berguna.

3. Fathy Farhat khan - November 4, 2009

Assalamu’alaikum, salam kenal….Subhanallah, tulisan yang selain memberikan pencerahan ide baru juga sangat inspiratif kawan, nice blog, keep on blogging!!! artikel-artikel untuk menjadi muslim kaya juga bisa aku temukan di sini : http://muslim-kaya.blogspot.com/


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: