jump to navigation

Psikologi Iman November 3, 2009

Posted by pengelola in Uncategorized.
trackback

Oleh: Subhan El Hafiz

(Dosen Fak. Psikologi UHAMKA)

Mu’min berasal dari kata iman yang artinya percaya atau yakin. Mu’min berarti orang yang beriman atau orang yang percaya. Adapun kepercayaan orang beriman mengacu pada al quran dan hadits ada enam, yaitu: percaya kepada Allah, percaya kepada kitab-kitab Allah, percaya kepada nabi dan rasul, percaya kepada malaikat, percaya kepada hari kiamat, dan percaya kepada qadha dan qadar (takdir).

Keenam hal yang harus dipercayai ini adalah aspek yang tidak akan dapat dibuktikan secara empiris, oleh karena itu harus diyakini. Keengganan untuk meyakini keenam hal ini menyebabkan manusia kehilangan pegangan keimanannya. Sebelum hilang keimanan seseorang, iman dapat meningkat juga menurun sesuai dengan kondisi psiko-spiritual seseorang pada saat itu. Keenam hal tersebut akan dibahas satu persatu berikut ini.

Pertama. Allah swt adalah Zat yang pasti ada, keberadaanNya bersifat nyata (zahir) serta ghaib. Walaupun Allah swt bersifat zahir, namun tidak akan terdeteksi oleh indera manusia atau alat-alat yang canggih dalam bentuk tertentu. Zahirnya Allah berbeda dengan zahir makhluk yang bisa kita bedakan satu dengan yang lain.

Oleh karena itu keberadaan Allah adalah sesuatu yang harus kita yakini. Keyakinan pada Allah adalah titik pusat yang membedakan antara orang beriman dengan orang atheis (yang tidak menyakini adanya Tuhan). Sedangkan perbedaan keyakinan antar pemeluk agama dibedakan dalam aspek iman yang berikutnya, yaitu iman kepada kepada kitab-kitab Allah serta iman kepada nabi dan rasul.

Iman kepada kitab-kitab Allah, sebagai keyakinan yang kedua, artinya meyakini adanya kitab yang berasal dari Allah. Kitab-kitab Allah, secara fisik, memang dapat dibuktikan keberadaannya namun keyakinan yang dibutuhkan dalam konteks ini adalah keyakinan bahwa kitab-kitab tersebut berasal dari Allah dan bukan ciptaan manusia. Perbedaan keyakinan terhadap kitab-kitab Allah inilah yang kemudian membedakan antar kelompok pemeluk agama.

Keyakinan orang-orang Islam, yang beriman, mengenai kitab Allah adalah adanya empat kitab yang berasal dari Allah yang diturunkan dalam masa yang berbeda, yaitu: Taurat, Zabur, Injil, dan Quran. Islam dan nasrani dibedakan dari keyakinan kitab sucinya, keyakinan nasrani menolak adanya kitab Al Quran yang juga berasal dari Allah. Sedangkan perbedaan keyakinan pada pemeluk yahudi adalah penolakannya untuk meyakini kitab selain Taurat.

Iman dalam agama Islam meyakini bahwa kitab selain al Quran juga berasal dari Allah, namun semua telah tergantikan dengan turunnya Al Quran. Selain itu, dalam Islam, kitab lain yang ada saat ini tidak lagi otentik sebagaimana yang turun pertama kali dari Allah pada rasul-Nya. Dalam keyakinan pemeluk Islam, kitab lain yang ada saat ini sudah banyak disusupi karya manusia sehingga tidak dapat lagi dapat dikelompokkan sebagai kitab Allah.

Iman kepada kitab Allah juga membedakan antara manusia yang menjalankan perintah Allah yang terdapat dalam al Quran dengan mereka yang menolak menjalankan perintah Allah dalam al Quran. Semakin tinggi tingkat keimanan seseorang, maka semakin banyak tuntunan al Quran yang dikerjakan dan sebaliknya. Mengerjakan tuntunan dalam al Quran harus tetap dalam koridor menjalankan perintah Allah yang telah menurunkan al Quran sebagai petunjuk.

Meyakini Nabi dan rasul Allah sebagai manusia yang diutus oleh Allah adalah butir keimanan yang ketiga. Kehadiran manusia-manusia yang menjadi nabi dan rasul memang sudah menjadi fakta sejarah, bahkan fisiknya dapat digambarkan melalui deskripsi lisan yang bersambung antar penerus dan pengikutnya. Dengan demikian, yang menjadi esensi dari keyakinan ini adalah kenabian dan kerasulan dari orang-orang mulia tersebut.

Keimanan ini, seperti keimanan pada kitab Allah, juga membedakan keyakinan keberagamaan manusia. Orang Islam meyakini semua nabi dan rasul hingga Muhammad saw., sedangkan pada keyakinan agama lain hanya sebatas nabi/ rasul tertentu. Bahkan pada nabi tertentu yang diyakini oleh umat Islam, justru diyakini sebagai Tuhan pada kepercayaan agama lain.

Keyakinan pada para nabi dan rasul juga berimplikasi pada kesediaan manusia untuk menjalankan tuntunan yang diajarkan dan dicontohkan oleh nabi dalam perilaku sehari-hari. Hampir sama dengan keyakinan pada al Quran, kesediaan menjalankan tuntunan nabi juga harus didasari pada sikap menjalani perintah Allah sebagaimana yang dicontohkan nabi. Konsekuensinya, makin banyak tuntunan nabi yang dijalankan, maka semakin tinggi tingkat keimanannya pada butir ini.

Keyakinan empat adalah percaya pada malaikat. Malaikat adalah makhluk yang diberi tugas khusus oleh Allah serta tidak memiliki keinginan untuk melalaikan tugas yang sudah diberikan tersebut. Malaikat adalah makhluk gaib yang juga tidak dapat dideteksi keberadaannya oleh manusia menggunakan panca indra atau alat yang canggih sekalipun, kecuali oleh nabi dan rasul. Keyakinan kepada malaikat ini membedakan dengan keyakinan orang-orang yang mempercayai makhluk gaib yang dapat menolong manusia.

Untuk membedakan antara keyakinan pada malaikat dengan keyakinan pada makhluk gaib serupa malaikat dapat dilihat dari cara meminta bantuan darinya. Jika manusia meyakini malaikat maka dirinya akan meminta tolong pada Allah sebagai satu-satunya Zat yang dituruti perintahnya oleh malaikat. Sedangkan manusia yang memiliki keyakinan pada makhluk gaib lain selain malaikat akan meminta pertolongan langsung pada mahkluk gaib tersebut.

Hari kiamat merupakan keyakinan kelima yang harus ada pada orang beriman. Hari kiamat adalah hari kehancuran alam semesta yang merupakan akhir dari keberadaan alam semesta. Kapan dan bagaimana proses terjadinya kiamat tidak diketahui oleh siapapun dan tidak dapat dibuktikan hingga datang waktunya. Kalaupun ada manusia yang dapat membuktikan adanya hari kiamat, sesungguhnya apa yang disampaikan olehnya hanya berupa hipotesa yang belum dapat dibuktikan kebenarannya hingga datangnya hari kiamat tersebut.

Keyakinan ini tidak berhenti pada akhir dari alam semesta tapi apa yang terjadi setelah alam semesta berakhir. Setelah alam semesta berakhir, dalam keyakinan iman Islam, manusia akan dibangkitkan kembali dan dihisab untuk mendapat ganjaran terhadap perilaku yang sudah mereka kerjakan. Hisab adalah perhitungan amal manusia yang diwakili dalam konsep pahala dan dosa semasa manusia hidup.

Keyakinan pada hari kiamat ini dapat membedakan manusia yang selalu menyisakan waktunya untuk kehidupan serta manusia yang selalu mengejar kehidupan dunia. Manusia yang meyakini akan hari kiamat dan kehidupan setelah kiamat akan selalu menyediakan waktu untuk aktifitas yang mengarah pada kehidupan setelah kiamat. Sebaliknya manusia yang tidak meyakini hari kiamat akan banyak bekerja dan berusaha untuk kehidupannya didunia dan mengabaikan kehidupan setelah kiamat.

Meyakini bahwa segala sesuatu yang menimpa manusia adalah karena ketentuan Allah swt adalah penjelasan dari konsep iman yang terakhir, yaitu takdir. Takdir merupakan ketentuan Allah yang terjadi pada manusia dalam segala aspeknya. Dalam konsep ini manusia tidak dapat menentukan nasibnya selama tidak diizinkan oleh Allah.

Keyakinan terhadap takdir ini dapat membedakan manusia yang selalu menerima apapun yang terjadi pada dirinya, baik hal itu disukainya atau tidak. Hal ini dapat terjadi karena manusia meyakini bahwa segala sesuatu yang terjadi pada dirinya adalah akibat ketentuan Allah semata. Sebagai ketentuan Allah maka segala sesuatu yang terjadi pada dirinya adalah baik.

Orang yang meyakini takdir tidak pernah menyesal dan sombong, sebaliknya orang yang tidak meyakini takdir akan banyak menyalahkan diri sendiri dan bersikap sombong. Ketiadaan penyesalan dari manusia yang menyakini takdir dikarenakan mereka menyadari bahwa apa yang terjadi adalah ketentuan dari Allah dan bukan akibat perilakunya. Sedangkan sikap tidak sombong muncul juga sebagai akibat dari keyakinannya bahwa apa yang dirinya dapatkan berasal dari Allah dan bukan akibat perilakunya.

Percaya takdir juga tidak menyebabkan manusia menjadi malas berusaha, karena adanya kepercayaan yang lebih tinggi, yaitu: percaya pada kitab Allah serta percaya pada nabi dan rasul Allah. Dalam kepercayaan yang lebih tinggi tersebut, telah diajarkan untuk selalu berusaha dan menyerahkan hasilnya pada Allah. Jika keyakinan pada takdir menyebabkan manusia malas berusaha, maka keimanan yang ada pada dirinya adalah keimanan yang timpang karena aspek yang dibelakang lebih berat daripada aspek yang mendahuluinya.

Comments»

1. alya nurul husni - November 4, 2009

assalamualaikum …
sebelumnya saya mo bilang makasih karna saya emang lagi butuh bgt materi ini buat persentasi minggiu depan di mata kuliah MPAI..
saya mahasiswa stai al-masturiyyah sukabumi ,santri salafiyyah 2 kalo ga keberatan saya ingin bisa terus sharing ma kakakl boleh kan,,,? pokoknya makasih bgt yach

Subhan El Hafiz - November 9, 2009

wa alaikum salam
Alhamdulillah jika artikel ini dapat membantu. Untuk koresponden bisa melalui blog ini atau email saya…


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: