jump to navigation

Psikologi Sabar November 25, 2009

Posted by pengelola in Uncategorized.
add a comment

Oleh: Ayrul Basri dan Satrio Nurjihad

(Mahasiswa Fakultas Psikologi UHAMKA)

 

BAB I

PENDAHULUAN

Latar Belakang

Kehidupan yang kita jalani saat ini tidaklah selalu mengarah kepada hal yang baik-baik saja atau berjalan sesuai dengan keinginan diri. Segala sesuatu yang sebelumnya kita rencanakan terlebih dahulupun tidak akan berjalan sesuai dengan apa yang kita rencanakan. Pasti akan adanya halangan dan rintangan yang akan kita hadapi.

Segala apapun yang ada di dunia ini tidak ada yang sempurna, pasti setiap manusia yang menjalani kehidupan di dunia ini pernah merasakan susah, rugi, serta putus asa. Namun hal itu janganlah dijadikan sebagai alasan untuk menjadi manusia yang malas, manusia yang mudah menyerah sebelum melakukan usaha. Sesungguhnya penilaian yang Allah berikan bukan kepada keberhasilan yang kita raih, tapi dari hasil usaha yang kita jalani demi memberikan hasil yang sebaik-baiknya.

Oleh karenaitu kita dituntut untuk memiliki sikap sabar. Jangan jadikan kesusahan dan kegagalan sebagai landasan pikiran bahwa Allah SWT tidak menyayangi manusia, tapi jadikanlah kesusahan dan kegagalan sebagai sebuah anugerah yang diberikan oleh Allah SWT sebagai wujudnya bahwa Allah SWT masih memberikan kesempatan untuk mengingat-

Hai orang-orang yang beriman, jadikanlah sabar dan shalat sebagai penolongmu, Sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar.

Tujuan

Sebuah dinamika dalam kehidupan manusia, naik turunnya status social di masyarakat, kaya dan miskin, susah dan senang bukan berarti menjadi standar nilai di hadapan Allah SWT, tapi sebagai ujian apakah orang yang kaya senantiasa mendermawankan hartanya untuk di jalan Allah SWT atau tidak. Begitu pula dengan orang miskin, apakah mereka selalu senantiasa sabar dan ikhlas dalam setiap menerima cobaan yang diberikan Allah SWT kepada dirinya.

Oleh karena itu tujuan dari makalah ini kami buat agar dapat memeberikan wawasan mengenai apa definis sabar, lalu apa saja yang terkandung dalam sikap sabar tersebut, serta korelasi atau hubungan antara sabar dengan ilmu psikologi yang sedang berkembang pesat saat ini.

BAB II

PEMBAHASAN

Definisi Sabar Secara Tekstual

Asal kata sabar adalah al man’u berarti menahan dan al habsu berarti mencegah. Jadi, sabar adalah menahan dan mencegah dari perbuatan yang mengarah kepada keburukan. Sabar juga berasal dari kata Shabara              Yashburu Shabaaran: yaitu ketundukan penerimaan apa-apa yang telah Allah berikan baik kesenangan atau kesedihan. Segala sesuatu yang kita dapatkan pasti akan ada hikamah atau maksud yang diberikan Alllah SWT kepada hamba-Nya yang selalu senantiasa ikhtiar dan bertawaqal pada setiap kejadian yang diterimanya dengan lapan dada.

Katakanlah: “Hai hamba-hamba-Ku yang beriman. bertakwalah kepada Tuhanmu”. orang-orang yang berbuat baik di dunia Ini memperoleh kebaikan. dan bumi Allah itu adalah luas. Sesungguhnya Hanya orang-orang yang Bersabarlah yang dicukupkan pahala mereka tanpa batas.

Lain lagi menurut syeikh Ibnu Qoyyim Al-jauziyah, bahwa sabar merupakan budi pekerti yang bisa dibentuk oleh seseorang. Ia menahan nafsu, Menahan sedih, menahan jiwa dari kemarahan, menahan lidah dari merintih kesakitan, dan juga menahan anggota badan dari melakukan yang tidak pantas. Sabar merupakan ketegaran hati terhadap takdir dan hukum-hukum syari’at.

Definisi Sabar Secara Kontekstual

Terkadang kita meyakini bahwa kesabaran mempunyai titik batas sehingga kalau sudah melebihi batasnya manusia boleh melakukan apapun. Tapi bukan seperti ini tujuannya, semua yang telah kita kerjakan harus kembali kepada Allah SWT sebagai dasar atas segala perilaku yang kita kerjakan. Hal ini dapat memberikan nilai positif bagi diri kita sendiri, karena segala sesuatu yang kita kerjakan atas nama Allah SWT pasti yang dikerjakan akan mengarah kepada yang baik. Sikap sabar juga merupakan sikap dasar dari ciri-ciri orang yang bertaqwa.

Macam-macam Sabar Menurut Al-Quran

Sabar dalam menuntut ilmu

Kewajiban pertama kali yang harus dilakukan umat manusia adalah menuntut ilmu, hal ini dijelaskan dalam surat :

1.  Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang Menciptakan,

2.  Dia Telah menciptakan manusia dari segumpal darah.

3.  Bacalah, dan Tuhanmulah yang Maha pemurah,

4.  Yang mengajar (manusia) dengan perantaran kalam[1589],

5.  Dia mengajar kepada manusia apa yang tidak diketahuinya.

Maksudnya: Allah mengajar manusia dengan perantaraan tulis baca.

Dalam surat diatas dijelaskan bahwa manusia diwajibkan agar dapat baca tulis. Hal ini berkaitan dengan diwajibkannya manusia untuk menuntut ilmu, karena segala amalan tanpa ilmu pasti akan tertolak atau akan menghancurkan amalan itu sendiri tanpa ada manfaat sedikikitpun baginya.

Sabar dalam beramal sholeh

Sabar dalam beramal sholeh juga dilakukan dengan landasan berilmu. Landasan orang yang berilmu merupakan niali taqwa kepada Allah SWT. Sebab segala seseuatu yang dikorbankan dalam kehidupan harus dilandasi dengan kesabaran dan kesungguhan.

Sabar terhadap musibah

Musibah yang dimaksud adalah bencana yang diakibatkan dari perbuatan maksiat kepada Allah SWT. Musibah yang diberikan Allah kepada umatnya merupakan salah satu wujud bahwa Allah SWT selalu memperhatikan segala sesuatu yang dikerjakan. Musibah juga merupaka teguran yang diberikan Allah agar manusia selalu mengingat serta mensyukuri segala sesuatu yang diberikan Allah kepada umatnya. Allah memberikan musibah kepada umatnya adalah sebagai landasan agar manusia selalu introspeksi diri serta selalu bertaubat, memohon ampunan dari Allah SWT.

Sabar terhadap perkataan orang

Betapa sulitnya memnuhi perkataan orang yang selalu berbeda dan cenderung menyalahkan sesuatu yang kita kerjakan, karena tidak ada sesuatu yang sempurna di mata manusia, oleh karena itu sempurnakanlah cara kerja kita. Lakukanlah amalan sholeh yang dicontohkan rasullullah dalam kehidupan sehari-harinya tanpa ditambahkan ataupun dikurang-kurangi.

SABAR dan PSIKOLOGI

Sabar dalam kaitannya dengan psikologi dapat digambarkan dengan teori dari Psikoanalisis Sigmund Freud dan dianalogikan sebagai “ super ego “. Seperti yang kita ketahui bersama teori Psikoanalisis Freud menjelaskan mengenai tiga aspek pemunculan perilaku, diantaranya : id, ego, super ego.

Sabar dalam kaitannya dengan Psikologi Islami dapat dianalogikan sebagai “ Qolb “. Dalam psikologi islami dijelaskan dalam pemunculan perilaku yaitu adanya Nafs, Aqal, Qolb.

Sabar dalam kehidupan sehari-hari

Manusia seringkali berlaku egois. Ketika menginginkan sesuatu, dia berdoa habis-habisan, sungguh-sungguh demi tercapai keinginannya. Tatkala berhasil, dia melupakan Allah. Bahkan dia menganggap bahwa keberhasilan itu adalah hasil jerih payahnya sendiri. Sebaliknya, saat dia gagal, dia kecewa karenanya, bahkan berburuk sangka kepada Allah SWT. Padahal rasa kecewa, sedinh, dan kesal itu lahir karena manusia terlalu berharap bahwa kehendak Allah harus cocok dengan keinginannya.

Oleh karena itu dalam buku “ Dahsyatnya Sabar” ada cara menerapkan sabar dalam kehidupan sehari-hari, yaitu:

  1. Teguh Pada Prinsip
  2. Tabah
  3. Tekun
  4. Tidak cepat putus asa
  5. Tahapan menuju sukses

Hakikat Sabar

Sabar merupakan sebuah pembelajaran dari bagaimana kita menyikapi sesuatu hal yang kita alami. Misalkan saja, kita dalam kondisi yang tidak baik, lalu kita berusaha untuk keluar dalam keadaan tersebut. Sabar itu merupakan perwujudan dari apa yang kita usahan dari sesuatu yang tidak baik menjadi baik. ”Sabar itu indah”, dan ”Sabar itu cahaya”, demikianlah potongan salah satu sabda Rasulullah SAW. Boleh jadi kata sabar ini mudah diucapkan, gampang dikatakan, namun untuk mempraktikkannya agar bertemu dengan cahaya dan keindahan, seseorang perlu panduan, ilmu dan latihan.

BAB III

PENUTUP

Kesimpulan

Sabar bukan berarti berhenti dan diam tapi sabar adalah berhenti sejenak dan segera bergerak cepat melakukan perubahan ke arah yang lebih baik. Karena pada hakikatnya sesungguhnya manusia selalu diberikan rahmat serta rizki dari Allah SWT. Namun terkadang kita sebagi manusia yang lemah, dan tempatnya dari banyak kesalahan sering melupakan tentang semua anugerah yang diberikan Allah SWT kepada setiap manusia. Hidup tanpa masalah hanyalah sebuah perjalanan yang sepintas dilalui tanpa tahu apa saja keindahan yang ada di sekitarnya.

Setiap insan yang hidup di muka bumi ini pasti pernah mengalami suka dan duka. Tak ada insan yang diberi duka sepanjang hidupnya, karena ada kalanya kemanisan hidup menghampirinya. Demikian pula sebaliknya, tak ada insan yang terus merasa suka karena mesti suatu ketika duka menyapanya. Bila demikian tidaklah salah pepatah yang mengatakan, “Kehidupan ini ibarat roda yang berputar”, terkadang di atas, terkadang di bawah. Terkadang bangun dan sukses, terkadang jatuh dan bangkrut, kadang kalah, kadang menang, kadang susah, kadang bahagia, kadang suka dan kadang duka

Daftar Pustaka

  1. Hadi Yasin, Ahmad (2008). “ Dahsyatnya Sabar “. Jakarta : Qultum Media
  2. www.eramuslim.com (18 November 2009)
  3. www.pesantrenvirtual.com (24 November 2009)
  4. www.rumah-yatim.org (18 November 2009)

Takwa: Perspektif Psikologi November 18, 2009

Posted by pengelola in Uncategorized.
1 comment so far

Oleh: Rany Anggraini, Ades Nurillahillail, Devi Kartika

(Mahasiswa Fakultas Psikologi UHAMKA)

BAB I

PENDAHULUAN

Muttaqien atau orang yang bertaqwa, memiliki banyak definisi yang kita dapat  tentang taqwa itu sendiri. secara umum taqwa diartikan ‘takut’ akan tetapi makna takut tidak sama seperti takut yang pada lazimnya. Taqwa juga dapat diartikan memelihara, seseorang yang dapat memelihara dirinya dari segala apa-apa yang merugikan bagi dirinya sendiri.

Seseorang bisa dikatakan menjadi orang yang taqwa apabila ia sudah benar-benar menjalankan perintah ALLAH dan menjauhi larangan-Nya. Jadi, orang yang melanggar perintah ALLAH serta melakukan apa yang dilarang ALLAH bukan termasuk orang yang bertaqwa, dikarenakan batasan yang dapat dikatakan orang bertaqwa adalah yang demikian dan menjalankan sesuatunya hanya karena ALLAH. Jika seseorang sudah dapat melakukan sesuatu hanya karena ALLAH dan takut kepada ALLAH barulah dapat dikatakan orang yang bertaqwa (muttaqien). Tidak membedakan manusia dihadapan ALLAH kecuali ketaqwaanya karena taqwa sepaling-paling mulia disisi ALLAH, dapat dikatakan bahwa taqwa mempunyai tingkatan yang  sesudah mukmin, muslim dan muhsin. Karena taqwa sudah mencakup kesemuanya. Konsekuensi dari keimanan yang kokoh yang ditanamkan dalam diri seseorang karena takut kepada ALLAH adalah ketaqwaan seseorang.

Orang yang bertaqwa, disamping ia selalu melaksanakan segala perintah ALLAH serta menjauhi larangan-Nya, mereka (muttaqien) juga memiliki dan tertanam dalam hatinya sifat-sifat yang baik.

BAB II

PEMBAHASAN

II.1 Pengertian

Akar kata

Taqwa itu berasal dari kata waqa, yaqii, wiqayah dengan makna yang sejalan, sedang mata muttaqien adalah bentuk fa’ail (pelaku) dari ittaqa suatu kata dasar bentukan tambahan (mazid) dari kata dasar waqa atau secara singkatnya waqa-yaqi-wiqayah yang artinya memelihara.

Makna tekstual

Ada yang membagi 2 definisi taqwa , yang pertama hati – hati dan yang kedua meninggalkan yang tidak berguna. Ada juga yang mengatakan taqwa itu mengetahui dengan akal, memahami dengan hati dan melakukan dengan perbuatan,

Muttaqien dapat diterjemahkan menjadi kata orang yang menjaga diri untuk menyelamatkan dan melindungi diri dari semua yang merugikan.

Makna Kontekstual

secara keseluruhan kata muttaqien adalah menjaga diri untuk menyelamatkan dan melindungi diri dari semua yang merugikan, merugikan disini yang dimaksud yaitu melindungi diri dari segala perbuatan yang mengandung kemashiyatan, syirik, kemunafikan dsb.

II. 2 Hakekat Taqwa

Sebenarnya Islam menuntut setiap individu muslim untuk menjadi orang-orang yang bertaqwa. Jadi taqwa merupakan tuntutan Allah kepada semua manusia. Jika kaum muslimin banyak yang bertaqwa, bisa dikatakkan Islam tegak di muka bumi secara sempurna. Dan Islam tak akan pernah sempurna dan berdiri tegak, kecuali ketika ketaqwaan  kaum muslimin tersebut telah hancur. Ketaqwaan setiap individu itu sesuai dengan tanggungjawab yang dipikulnya. Oleh karena itu, hancurnya satu bagian taqwa yang menjadi beban seorang individu berarti kehancuran Islam secara keseluruhan.

Taqwa merupakan naluri yang menjadi sumber perilaku. Sabda Rasulullah; “Taqwa itu ada di sini, seraya menunjuk ke arah dada beliau” Naluri ini tidak akan terbentuk kecuali dengan merealisasikan maksud-maksud yang telah ditentukan. Maksud rasulullah disini, taqwanya itu tidak akan terbentuk jika kita tidak menjalankanya maksud taqwa dalam kehidupan sehari – hari.  Taqwa mempunyai pengaruh moral yang sangat erat seperti yang digambarkan oleh Rasulullah saw; “Sesungguhnya di dalam tubuh itu ada segumpal darah, apabila segumpal darah itu baik maka baiklah seluruh tubuh dan apabila segumpal darah itu buruk maka buruklah seluruh tubuh. Ketahuilah bahwa segumpal darah itu adalah hati” (Bukhari-Muslim)

Jadi, caranya untuk memperbaiki ketaqwaan itu dengan memperbaiki hati. Sesuai dengan  Firman Allah “Hai orang-orang yang beriman, bertaqwalah kamu kepada Allah, dan katakanlah dengan perkataan yang benar. Niscaya Allah memperbaiki bagimu amalanmu dan mengampuni bagimu dosa-dosamu. Dan barangsiapa yang menaati Allah dan Rasul-Nya, maka sesungguhnya ia telah mendapatkan kemenangan yang besar (Al-Ahzab:70-71)

Allah juga telah mendefinisikan istilah “Muttaqin” dan menerangkan sifat-sifatnya di dalam beberapa di dalam Alqur’an  ; Al-Baqarah 2-5, 177; Ali Imran 15-17, 133-136; Al-Anbiya’ 48-49; Az-Zumar 33; Adz-Dzariyat:15-19.

II.3 Sifat-Sifat Orang Muttaqin

Dalam Al-Qur’an dan hadist banyak diterangkan mengenai sifat-sifat atau tanda-tanda orang yang bertaqwa kepada Allah, antara lain:

1. Percaya adanya alam ghoib

2. Mempeercayai keberadaannya Al-Qur’an

3. Menegakkan sholat 5 waktu

4. Mau menginfakkan sebagian rizki yang diberikan oleh Allah kepada jalan yang diridloi Allah

5. Beriman kepada kitab-kitab suci yang diturunkan sebelum Nabi Muhammad SAW

6. Menimani akan datangnya hari kiamat

7. Suka memaafkan kesalahan orang lain

8. Suka menahan amarahnya

9. Jika terlanjur berbuat kejahatan, segera sadar dan mohon ampun kepada Allah, dan    bertaubat

10. Suka melaksanakan i’tikaf di masjid

Terdapat dalam hadist Abu Umamah (shuday) bin adjlan albahily r.a. mengenai orang-orang yang bertaqwa , beliau berkata : saya telah mendengar Rasulullah s.a.w. ketika berkhotbah di Hajjatil-wada’ bersabda : Bertaqwalah kepada Allah, sembahyanglah lima waktu, puasalah bulan Ramadhan, tunaikanlah zakat hartamu, dan taatlah kepada pimpinanmu, niscaya kamu akan masuk sorga yang disediakan oleh tuhanmu.

Beberapa dan diantara sifat – sifat orang muttaqien juga bisa dilihat dalam firman ALLAH surat Al Baqarah ayat 2 – 5

[2.2]. Kitab itu tanpa ragu lagi adalah petunjuk bagi orang yang memenuhi kewajiban dan menjaga diri dari kejahatan

[2.3]. Yang beriman kepada yang Gaib dan menegakkan salat dan membelanjakan dari apa yang Kami berikan kepada mereka

[2.4]. Dan yang beriman kepada yang diturunkan kepada engkau dan dan apa yang diturunkan sebelum engkau dan tentang Akherat mereka yakin

[2.5]. Mereka itulah yang berada di jalan yang benar dari Tuhan mereka dan mereka itulah orang yang sukses (berhasil)

Dari ayat-ayat ini dapat menggambarkan bagaimana karakteristik orang yang bertaqwa. Berawal dari suatu kepercayaan yang gaib dan semua yang dibicarakan dalam konteks ayat-ayat ini juga yaitu percaya kepada kitab suci dan hari akhirat adalah modal awal ntuk mulai memasuki derajat ketaqwaan yang lebih tinggi.

Ketaqwaan harus mulai dengan kepercayaan kepada suatu yang gaib. Gaib dalam pengertian sempit artinya tidak bisa dilihat mata, Dalam pengertian luas, yang gaib artinya tak bisa dicerap, diterima oleh panca indera manusia.

II. 4 Anugerah bagi orang – orang yang bertaqwa

Banyak anugerah yang akan didapat bagi orang bertaqwa  karena Allah selalu menjanjikan hambanya dengan segala sesuatu yang baik bagi mereka orang – orang yang bertaqwa. Terbukti diantaranya dari ayat – ayat yang terdapat dalam alqur’an, antara lain ;

Dalam firman ALLAH Q.S 8 : 29 [ Al-Anfal : 29 ]

‘Hai orang-orang yang beriman, jika kamu bertaqwa kepada ALLAH, niscaya ALLAH akan memberi kamu furqon, dan menghapus kesalahan-kesalahan kamu dan dosa-dosamu’

Dalam ayat tersebut sudah jelas, bahwa ALLAH memberikan anugerah bagi orang bertaqwa dengan menghapus kesalahan dan dosa orang yang bertaqwa, juga diberikannya furqon oleh ALLAH. Furqon yaitu suatu petunjuk untuk dapat membedakan antara yang baik dan buruk dengan demikian akan selamat karena ia mendapatkan petunjuk dengan dapat membedakan antara yang baik dan yang buruk.

Terdapat juga firman Allah mengenai anugerah bagi orang bertaqwa pada QS. ATH-THALAAQ : 2-3, 4.

Apabila mereka telah mendekati akhir iddahnya, maka rujukilah mereka dengan baik atau lepaskanlah mereka dengan baik dan persaksikanlah dengan dua orang saksi yang adil di antara kamu dan hendaklah kamu tegakkan kesaksian itu karena Allah. Demikianlah diberi pengajaran dengan itu orang yang beriman kepada Allah dan hari akhirat. Barangsiapa yang bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar.

Dan memberinya rezki dari arah yang tiada disangka-sangkanya. Dan barangsiapa yang bertawakkal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan) nya. Sesungguhnya Allah melaksanakan urusan (yang dikehendaki)-Nya. Sesungguhnya Allah telah mengadakan ketentuan bagi tiap-tiap sesuatu.

Dari kedua ayat tersebut dapat disimpulkan bahwa Barang siapa yang bertaqwa kepada Allah, niscaya Allah akan memberikan kepada mereka jalan keluar (atas segala persoalan), dan diberi rizki dari tempat yang tidak terduga.

Dan perempuan-perempuan yang tidak haid lagi (monopause) di antara perempuan-perempuanmu jika kamu ragu-ragu (tentang masa iddahnya), maka masa iddah mereka adalah tiga bulan; dan begitu (pula) perempuan-perempuan yang tidak haid. Dan perempuan-perempuan yang hamil, waktu iddah mereka itu ialah sampai mereka melahirkan kandungannya. Dan barang siapa yang bertakwa kepada Allah, niscaya Allah menjadikan baginya kemudahan dalam urusannya.

Maksud dari ayat tersebut ialah Barang siapa yang bertaqwa kepada Allah, niscaya Allah akan menjadikan baginya kemudahan dalam segala urusan.

II. 5 Aplikasi taqwa dalam kehidupan sehari-hari

Taqwa merupakan sikap abstrak yang tertanam dalam hati setiap muslim, yang aplikasinya berhubungan dengan syariat agama dan kehidupan social. Seorang muslim yang bertaqwa pasti selalu berusaha melaksanakan perintahNya dan menjauhi segala larangaNya dalam kehidupan ini.

Didalam kehidupan sehari – hari tentunya sebagai orang yang bertaqwa selalu melakukan segala sesuatunya berdasarkan perintah dan larangan Allah. Salah satu aplikasi taqwa dalam kehidupan, ketika kita menolong sesama, saling berbagi, tidak menyimpan rasa dendam kepada orang yang mungkin pernah mennyakiti, itu salah satu aplikasi taqwa dalam kehidupan sehari – hari. Melakukan segala sesuatunya berdasarkan ajaran yang telah diperintahkan Allah bukan atas dasar adanya motif tertentu, tapi semua semata – mata karena Allah SWT.

 

BAB III

PENUTUP

III.1 Kesimpulan

Taqwa tidak hanya sekedar menjauhkan diri dari segala apa yang menjauhkan diri kita daripada Allah atau sekedar membatasi diri kepada yang halal saja dan bukan sebatas beribadah kepada Allah semata – mata. Taqwa adalah masalah hati yang paling dalam. Taqwa adalah amalan jiwa atau roh. Orang yang bertaqwa, disamping selalu melaksanakan segala apa yang diperintah dan meinggalkan apa yang dilarang Allah SWT, mereka juga memiliki dan tertanam dalam hati sifat-sifat yang jujur, amanah, senantiasa mengharapkan ridho Allah, adil, pemalu, pennuh kasih sayang, pemaaf dan sifat-sifat baik lainnya.

 

DAFTAR PUSTAKA

  1. http://www.google.com/
  2. Bahreisj, salim. Riahus Shalihin. Bandung : PT. Alma’arif

Psikologi Ihsan November 9, 2009

Posted by pengelola in Uncategorized.
add a comment

Oleh:Ade Ramdini, Maylani, Maylisa Ayunani

Mahasiswa Fak. Psikologi UHAMKA Jakarta

BAB I

PENDAHULUAN

Pendahuluan

Sifat manusia di zaman sekarang ini kurang sesuai dengan apa yang diperintahkan oleh ajaran agama. Seperti sering meninggalkan sholat, puasa, membayar zakat dan menunaikan ibadah haji bagi yang mampu. Sedangkan dalam ajaran agama hal tersebut merupakan sesuatu yang diwajibkan. Banyak orang yang melupakan sifat-sifat yang seharusnya dimiliki oleh seorang hamba yang taat pada Tuhannya. Seharusnya sifat seorang hamba yang patuh kepada Tuhannya adalah menjalankan perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya. Tetapi pada kenyataannya banyak orang-orang yang masih menjalankan larangan-Nya. Seperti meminum-minuman keras (alkohol), berjudi, dan sifat tercela lainnya.

Ada beberapa tingkatan sifat manusia yaitu yang pertama Mukmin adalah orang yang beriman dan percaya. Kedua Muslim adalah seorang yang sepenuhnya berpasrah kepada Allah, berpasrah dalam hal ini dimaksudkan untuk memperoleh kedamaian di dunia dan diakhirat. Ketiga Muhsin adalah kepribadian yang dapat memperbaiki dan mempercantik individu, baik berhubungan dengan diri sendiri, sesamanya, alam semesta, dan kepada Tuhan yang diniatkan hanya untuk mencari ridha-Nya.

Berikut akan dibahas lebih mendalam salah satu sifat manusia yaitu Muhsin. Yang merupakan cerminan dari sifat-sifat terpuji yang harus dimiliki manusia. Agar bisa di aplikasikan dalam kehidupan sehari-hari.

BAB II

PEMBAHASAN

II. 1. Akar Kata

Muhsin berarti orang yang berbuat ihsan. Kata “ihsan” berasal dari “hasunah” yang berarti baik atau bagus. Seluruh perilaku yang mendatangkan manfaat dan menghindarkan kemudaratan merupakan perilaku ikhsan. Kriteria ihsan yang sesungguhnya berasal dari Allah SWT. Karena itu, hadis Nabi SAW menyebutkan bahwa ihsan bermuara pada peribadatan dan muwajahah.

II. 1. a) Makna Tekstual

    Muhsin adalah manusia yang salalu melakukan perbuatan baik yang di ridhai Allah. Muhsin berarti orang yang berbuat ihsan, sedangkan Ihsan menurut bahasa artinya, mengokohkan, memperbagus dan juga berbuat baik.
    Allah SWT juga menganjurkan kita berperilaku ihsan sebagaimana dalam firman-Nya : “ … dan berbuat ihsanlah, karena Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berbuat ihsan” (Al Baqoroh : 195).

II. 1. b) Makna Kontekstual

    Muhsin adalah orang yang menjalankan perintah Allah dan menjauhi larangan-Nya.
    Yang dimaksud dengan keperibadian muhsin adalah kepribadian yang dapat memperbaiki dan mempercantik individu, baik berhubungan dengan diri sendiri, sesamanya, alam semesta, dan kepada Tuhan yang diniatkan hanya untuk mencari ridha-Nya.

II. 2. Pola Pembentukan Pribadi Muhsin

Keperibadian mukhsin dapat dibentuk dengan dua pola

1. pola umum

yaitu segala perilaku baik yang dapat mempercantik diri manusia yang objeknya tidak terbatas pada subjek tertentu. Pola perilaku ini antara lain adalah, pola perilaku syukur, misalnya dapat ditunjukan dalam memuji karunia-Nya dengan ucapan al-hamdu li Allah dan mempergunakan karunia itu sebagai mana yang diperintah-Nya. Syukur juga dapat di tunjukan kepada sesama manusia dengan ucapan terimakasih.

2. pola khusus

yaitu segala bentuk perilaku baik yang dapat mempercantik diri manusia yang objeknya ditujukan  pada subjek tertentu. Pola perilaku ini antara lain adalah perilaku hormat antara anak dan orang tua, misalnya mencium tangan orang tua jika mau berangkat kekampus.

II. 3. Bentuk-Bentuk dan Aplikasi Muhsin

Bentuk-bentuk keperibadian mukhsin banyak sekali, dalam pembahasan ini hanya diambil 5 macam.

karakter Ta’ib (yang bertaubat)

yaitu karakter yang menyesal (al-nadm) karena melakukan dosa, melepaskan perilaku yang mengandung dosa seketika itu juga dan bertekad bulat (al-‘azam) untuk tidak mengulangi perbuatan dosa tersebut.

Karakter ta’id secara kogitif, ialah membaca istighfar seperti astaghfirullah (aku mohon ampun kepeda Allah). Secara afektif, ia menyesal dan senantiasa menghapus dosa atau kesalahan masa lalu agar tidak diulangi kembali. Secara pisikomotorik, ia takut kepada Alaah dengan cara menjalankan petintah dan menjauhi larangan-Nya.

karakter Mukhlash (yang ikhlas)

yaitu karakter yang murni dan taat yang seluruh perilakunya hanya ditunjukan kepada Allah semata, dengan cara membersihkan perbuatan, baik lahir maupun batin dari perhatian mahluk. Keikhlasan seseorang dapat dilihat sejauh mana ia membersihkan tingkah lakunya dari segala campuran yang mengotori, seperti keinginan hawa nafsu terhadap pujian, sanjungan harta benda,  dan motif-motif lain yang tidak diridhai-Nya. Ikhlas membutuhkan konsistensi antara perbuatan yang ditampakan dengan yang disembunyikan. Jika yang ditampakan lebih baik dari apa yang disembunyikan maka mendekati riya’ (pamer).

Firman Allah AWT. Dalam QS Al-Bayyinah [98]:5: “padahal meraka tidak disuruh kecuali menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama dengan lurus, dan supaya mereka mendirikan shalat dan menunaikan zakat; dan yang demikian itulah agama yang lurus.” Dan QS Al-Zumar [39]:11: Katakanlah: “sesungguhnya aku diperintahkan supaya menyembah Allah dengan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama.”

karakter Shabir (yang sabar)

yaitu menahan (al-habs) diri atau lebih tepatnya mengendalikan diri. Karakter shabir dapat menghindarkan seseorang dari perasaan resah, cemas, marah, dan kekacauan. Karakter shabir juga menuntut sikap yang tenang untuk menghindari maksiat, melaksanakan perintah, menerima cobaan. Fiman Allah Swt. : “hai orang-orang yang beriman, bersabrlah kamu dan kuatkanlah kesabaranmu dan tetaplah bersiap siaga (di perbatasan negrimu) dan bertakwalah kepada Allah supaya kamu beruntung” (QS Ali Imran [3]: 200).

karakter Mutawakki (yang bertawakal)

yaitu karakter yang meyerahkan diri dan apa yang dimiliki dengan sepenuh hati kepada kekuatan (qudrah) dan kehendak (iradah) Allah Swt. Karakter mutawakki juga berarti bersandar dan percaya pada yang lain dalam atau mewakili urusannya, karena ia tidak memiliki kemampuan lagi.. Dalam hal ini, tawakal yang dimaksud adalah mewakilkan atau menyerahkan semua urusan kepada Allah Swt., sebagai zat yang mampu menyelesaikan semua urusan, setelah manusia tidak memilikili lagi daya dan kemampuan untuk menyelesaikanya.

Firman Allah Swt. : “dan barangsiapa yang bertawakal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan) nya.” (Al- Thalaq [65]:3). Sabda Nabi Saw. : “jikalau kalian mau bertawakal kepada Allah dengan sebenar-benar tawakal niscaya Allah memberi kalian rizki sebagaimana Dia memberi rizki kepada burung, pagi harinya ia ( pergi) dalam kondisi perut kosong, tetapi kembali sore hari dalam perut kenyang.” (HR Al-Turmudzi dari Umar bin al-Khattab). Tawakal dilakukan bukan didasarkan atas sikap pasif dan pessimististik, melainkan aktif dan optistik. Tawakal dilakukan setelah berusaha maksimal dalam meraih suatu urusan, tetapi karena keterbatasan manusia, maka usaha itu dihentikan dan diserahkan sepenuhnya kepada Allah.

Karakter mutawakki menghidari individu dari sikap matrealistis, sebab tawakal menuntut individu untuk menggunakan harta benda secukupnya, meskipun batas cukupnya relativ. Tawakal juga menghindari seseorang dari kondisi stress, sebab ia selalu menggntungkan kesuksesan hidupnya kepada Allah.

Karakter Shadiq (yang jujur)

Yaitu kesesuaian antara yang diucapkan dengan kejadian sesungguhnya, kesesuaian antara yang di hati dan yang ditampakkan, dan perkataan yang benar ketika berhadapan pada orang yang ditakuti atau diharapkan. Jujur merupakan terminologi yang digunakan untuk mengungkapkan hakekat sesuatu. Jujur dalam ucapan (al-aqwal) artinya kesesuaian antara yang diucapkan dengan kenyataannya. Jujur dalam perbuatan (al-amal) artinya kesesuaian antara perbuatan dengan perintah atau pedoman yang diikuti. Jujur dalam keadaan (al-ahwal) artinya kesesuaian antara prilaku kalbu dan badan dengan keikhlasan.

Firman allah SWT : “supaya Allah memberikan balasan kepada orang-orang yang benar itu karena kebenarannya, dan menyiksa orang munafik jika dikehendaki-Nya, atau menerima taubat mereka. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS Al-Ahzab [33]:24)

II.4. Batasan

    • Kerelaan seseorang dalam melakukan perbuatan baik tanpa memperhitungkan balasannya.
    • Kesungguhan dalam melakukan sesuatu.
    • Kemampuan sesorang dalam mengendalikan hawa nafsu.
    • Berserah diri.
    • Kesesuaian antara ucapan dan perilaku.

BAB III PENUTUP

III. 1. Kesimpulan

Muhsin  merupakan sifat baik yang harus dimiliki manusia. Karena  muhsin adalah manusia yang salalu melakukan perbuatan baik yang di ridhai Allah. Dalam menjalani kehidupan sehari-hari manusia harus berbuat baik kepada sesama, orang lain, alam semesta, dan kepada Tuhannya. Bentuk pribadi muhsin meliputi Ta’ib (yang bertaubat), Mukhlash (yang ikhlas), Shabir (yang sabar), Mutawakki (yang bertawakal), Shadiq (yang jujur). Sebagai manusia yang beragama bantuk-bentuk pribadi muhsin tersebut harus di aplikasikan sesuai dengan Al-Qura’n dan hadis.

Daftar Pustaka

http://srianisaprahasti.wordpress.com/2008/02/20/ihsan/.com

Dr. Mujib, abdul, Kepribadian Dalam Psikologi Islam, 2006, Jakarta