jump to navigation

Urgensi Tafsir untuk Memahami Konsep Manusia dalam Islam October 25, 2009

Posted by pengelola in Uncategorized.
trackback

Oleh: Subhan El Hafiz

(Dosen Fakultas Psikologi UHAMKA)

Usaha untuk memahami manusia dalam perspektif Islam artinya mengkaji berbagai ayat dan hadits yang berhubungan dengan manusia. Adapun ayat dan hadits yang berhubungan dengan manusia tidak terbatas pada ayat dan hadits yang hanya membicarakan an-nas, an-nisa, ar rijal, dan sebagainya tapi juga membahas qolb, ruh, aql, nafs, dan lain-lain. Selain itu membahas manusia dalam konteks al Quran dan Hadits juga berarti membahas berbagai sifat dan sikap manusia dan berbagai sifat yang sebaiknya dimiliki manusia, misalnya: mukmin, muslim, muttaqien yang merupakan sifat yang dapat dimiliki oleh manusia, sabar, ikhlas, syukur yang merupakan sikap yang dapat dimiliki manusia, serta sifat-sifat Allah yang terkandung dalam asmaul husna yang sebaiknya dimiliki manusia.

Dengan demikian, membahas konsep manusia dalam Islam (baca: al Quran dan Hadits) tidak dapat dilakukan sekali lalu karena sebagian besar kandungan al Quran dan Hadits bicara soal manusia dalam berbagai dimensinya. Menguasai berbagai konsep tentang manusia yang terdapat dalam al Quran dan Hadits membutuhkan latar belakang keilmuan yang menyeluruh antara ilmu bahasa (nahwu) dan ilmu tafsir itu sendiri. Selain latar belakang kajian Islam (Ushuluddin) tersebut ilmuan ini harus pula memahami konsep-konsep psikologi agar kesimpulan yang dihasilkan memiliki nilai aplikasi yang tinggi.

Pemahaman terhadap konsep psikologi adalah hal yang penting karena dasar keilmuan ini dapat memberi pedoman untuk mengartikulasi konsep Islam tentang manusia dalam sebuah rangkaian perilaku, baik yang nampak maupun yang tersembunyi. Harus diakui bahwa hal inilah yang menjadi titik lemah pembahasan konsep manusia dalam Islam selama ini. Kurangnya pemahaman ilmuan yang berada dalam ranah teologi terhadap psikologi menjadikan hasil kajiannya seringkali hanya memberikan konsep ideal tanpa rujukan untuk menapaki tahapan dalam upaya mencapai posisi ideal tersebut.

Kajian Islam umumnya berkutat pada dua kajian utama, yaitu Tafsir al Quran dan tafsir Hadits. Al Quran adalah kitab suci umat Islam yang diimani sebagai wahyu dari Allah. Penyampaian wahyu melalui perantara malaikat Jibril kepada Nabi Muhammad saw. Sedangkan hadits, menurut Ensiklopedia Islam (1997) adalah ucapan, perilaku, takrir (peneguhan), dan deskripsi pribadi nabi Muhammad saw. Ahli fiqih (hukum islam) membatasi hadits pada aspek yang berkaitan dengan hukum (ketetapan).

Al Quran, dalam sejarahnya, ditulis dan dihafal oleh para sahabat Nabi saw. Setelah meninggalnya nabi Muhammad saw, tulisan tersebut dikumpulkan dan disatukan dalam sebuah kitab yang dikenal dengan mushaf. Mushaf inilah yang kemudian digandakan dan sampai pada masa kini tanpa ada perubahan sedikitpun, baik penambahan atau pengurangan, pada teks-teksnya. Teks-teks al Quran tetap sama sejak Nabi saw. meminta para sahabat menuliskan tiap ayat (dalam media apapun) hingga saat ini mesin mencetak al Quran dalam lembaran kertas yang indah (al Qattan, 2001).

Hadits disampaikan sambung menyambung dari sahabat nabi (awalnya) secara lisan kepada orang lain dan selanjutnya disampaikan kepada orang berikutnya. Orang yang menyampaikan hadits disebut dengan perawi. Hal ini menyebabkan beberapa hadits tidak dapat dipertanggung jawabkan keabsahannya karena panjangnya daftar perawi hadits.

Sejarah Islam telah menunjukkan bahwa hadits-hadits yang banyak tersebut telah dianalisa oleh orang-orang yang sangat berkompeten dalam bidangnya. Bukhari dan Muslim adalah dua orang yang paling banyak berjasa dalam menseleksi hadits untuk menentukan apakah sebuah hadits dapat dikatakan shahih (benar) atau dhaif (lemah). Metode yang mereka gunakan adalah melacak hubungan antar perawi hadits, jika antar perawi ada hubungan yang terputus (tidak memungkinkan mereka bertemu) maka hadits tersebut menjadi hadits yang dhaif dan sebaliknya (Ensiklopedia Islam, 1997).

Untuk dapat memahami lebih jauh tentang al Quran dan Hadits tentunya membutuhkan pembahasan yang lebih panjang dan lebih lengkap. Untuk itu, dengan segala keterbatasan, kita dapat mengacu pada al Quran saja serta hadits shahih yang diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim. Kajian lebih dalam mengenai al Quran dan Hadits kita serahkan pada ilmuan yang memang bertugas mengkaji masalah-masalah yang berkaitan dengan al Quran dan Hadits, yaitu para teolog.

Metode Tafsir

Untuk dapat memahami kandungan al Quran kita perlu memahami beberapa metode yang dapat dilakukan, yaitu: ijmali, tahlili, muqorin, dan maudhui (wikipedia, 2009). Selain metode tersebut, adapula tafsir yang dikenal dengan tafsir bil ma’sur dan tafsir bir ra’yi (al Qattan, 2001). Kelompok pertama adalah tafsir yang dikategorikan berdasarkan metode yang digunakannya, sedangkan kelompok kedua adalah tafsir yang dikategorikan berdasarkan orang yang menafsirkannya.

Tafsir bil ma’sur adalah tafsir yang dilakukan oleh para sahabat pada masa nabi. Tafsir ini menurut sebagian besar ulama adalah tafsir yang harus diikuti karena mereka adalah orang yang paling mengerti al Quran setelah nabi. Tafsir bir ra’yi adalah tafsir yang dilakukan oleh ahli tafsir. Tafsir ini dapat diikuti selama orang yang menjadi ahli tafsir memiliki dasar keilmuan yang mencukupi (al Qattan, 2001).

Tafsir ijmali, adalah tafsir yang dilakukan berdasarkan metode sederhana. Tafsir ini dilakukan dengan menjelaskan secara sederhana terhadap suatu ayat sehingga lebih mudah dipahami. Metode ini dapat menjadikan seseorang lebih mudah memahami ayat-ayat al Quran. Namun metode ini juga memiliki kelemahan dalam hal ketepatan (bukan kebenaran) penafsirannya.

Metode kedua adalah metode tahlili atau metode analitik, yaitu metode yang digunakan untuk menjelaskan ayat per ayat kemudian diuraikan dari berbagai aspek. Adapun aspek-aspek yang dijelaskan dalam metode ini, antara lain: kosa kata, lafaz, artinya, susunan kalimat, juga hukum-hukum yang terkandung dalam ayat tersebut. Keunggulan metode ini dapat memperkaya pemahaman terhadap ayat-ayat al Quran namun tidak fokus dalam pembahasannya sehingga terkesan dangkal.

Metode muqorin adalah metode tafsir yang dilakukan dengan membanding-bandingkan ayat dengan ayat atau ayat dengan hadits yang memiliki tema sejenis. Tujuan perbandingan dilakukan untuk memperkaya dan saling memperkuat bukan mempertentangkan. Jika perbandingan dilakukan untuk mempertentangkan maka metode ini lebih tepat sebagai metode untuk menguji ke-shahih-an hadits dari segi matan (isi).

Metode terakhir adalah metode maudhui atau tematik. Metode ini adalah metode yang digunakan untuk membahas satu tema tertentu yang sudah ditentukan sebelumnya oleh orang yang akan menafsirkan. Metode tematik ini cocok untuk kajian keilmuan modern yang lebih sering membahas tema-tema spesifik. Metode ini memerlukan beberapa konsep yang harus diperhatikan dalam analisanya.

Konsep yang perlu diperhatikan dalam metode tematik antara lain: masa turunnya, asbabun nuzul (sebab turunnya), nasihk dan mansukh (hukum yang digantikan), dan lain-lain. Hal ini menjadikan metode ini sebagai metode yang paling kompleks namun dapat menghasilkan kajian yang sangat dalam. Selain itu, metode ini juga membutuhkan keahlian khusus terkait dengan ilmu tafsir.

Tafsir dan Psikologi

Melihat dan mempelajari berbagai metode terkait dengan tafsir para ilmuan psikologi akan dihadapkan pada satu pertanyaan, “Mampukah mereka melakukan tafsir Quran dengan kurangannya bekal keilmuan untuk melakukan hal tersebut?”. Pertanyaan ini wajar dan umum karena kurangnya penguasaan terhadap metode tafsir – dan kelengkapannya – akan menyebabkan kesalahan hasil penafsiran yang dapat menjerumuskan. Jika para ilmuan psikologi berniat mendalami tafsir akan mengurangi kedalaman pemahaman terhadap psikologi sendiri – walaupun tidak berlaku secara umum. Hal ini disebabkan bidang kajian keduannya, ilmu tafsir dan psikologi, adalah bidang kajian yang sangat luas dan berada pada bidang keahlian yang berbeda.

Oleh karena itu jalan tengah yang dimungkiankan adalah membangun kerjasama sinergis antara ilmuan yang bergerak dibidang tafsir dengan ilmuan yang menekuni psikologi. Kerjasama ini harus dalam bentuk saling mengisi dan tidak merasa paling paham dibanding yang lain. Ajang saling klaim (sebagai pemilik sah) kajian ini hanya akan menjadikan ilmu ini jalan ditempat.

Adapun bentuk kerjasama yang dapat dilakukan adalah ilmuan yang mendalami tafsir (mufassir) memberikan pijakan filosofis terhadap suatu tema tertentu yang akan diangkat. Berdasarkan pijakan filosofis ini, bersama-sama (ahli tafsir dan ilmuan psikologi) dibangun landasan teoritis terhadap tema yang dimaksud. Berdasarkan landasan teoritis inilah para ilmuan psikologi membuat bangunan aplikatif perilaku manusia.

Jika hal ini terjadi maka tiap konsep islam yang bernuansa psikologi akan memiliki pijakan filosofis yang kuat untuk menjadi sebuah teori baru. Berdasarkan teori baru yang telah dihasilkan secara bersama-sama psikolog dapat membuat konsep aplikatif dari teori tersebut. Hal ini otomatis akan menghilangkan kesenjangan antara tafsir dan realita serta antara psikologi dan agama (baca: Islam).

Daftar Pustaka:

Al Qattan, MK. 2001. Studi Ilmu-Ilmu Quran (alih bahasa: Mudzakir AS.). Bogor: Pustaka Litera Antarnusa.

Ensiklopedia Islam. 1997. Jakarta: Ichtiar Baru van Hoeve.

Wikipedia, 2009.http://id.wikipedia.org/wiki/Tafsir_Al-Qur’an

Comments»

No comments yet — be the first.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: